• JENIS-JENIS KOPI

    by  • 22/07/2020 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Saya seorang pengusaha kafe. Dengan maraknya kedai kopi belakangan ini, kafe saya juga mulai menyajikan berbagai jenis kopi. Sebenarnya ada berapa jenis kopikah di Indonesia? Apakah kualitas kopi terkait juga dengan lokasi tumbuh? (Zainal, Jakarta).

    Sdr. Zainal, kalau yang Anda tanyakan ada berapa spesies kopi (genus Coffea), di seluruh dunia ini ada 125 spesies kopi. Tetapi yang paling banyak dibudidayakan sebagai penghasil biji kopi, hanya ada tiga spesies. Kopi arabika (Coffea arabica), kopi robusta (Coffea canephora), dan kopi liberika (Coffea liberica). Kopi liberika punya satu varietas yang disebut kopi ekselsa (Coffea liberica var. dewevrei). Hanya tiga spesies kopi itulah yang dibudidayakan manusia sebagai penghasil biji kopi untuk bahan minuman.

    Kemudian dikembangkanlah klon-klon unggul arabika dan robusta. Kopi arabika terkenal aromanya sangat kuat, tetapi produktivitas rendah dan rasanya masam. Kandungan kafein arabika 70 miligram per 8 oz (226,796 gram). Biji kopi arabika berukuran sedang, berwarna kebiruan. Di Indonesia, kopi arabika hanya bisa produktif apabila dibudidayakan di lahan berelevasi 1000 meter dpl atau lebih. Karena produktivitasnya rendah, sementara permintaan tinggi, harga kopi arabika di Indonesia maupun di pasar dunia paling tinggi.

    Kopi robusta terkenal karena rasanya yang pahit, aromanya tak seharum arabika. Produktivitas kopi robusta paling tinggi. Kopi ini juga bisa dibudidayakan di lahan dataran rendah, menengah dan tinggi, dengan produktivitas sama baik. Kandungan kafein robusta sangat tinggi, 140 miligram per 8 oz; duakalilipat kopi arabika. Biji kopi robusta berukuran besar, berwarna abu-abu. Karena produktivitasnya tinggi, robusta paling banyak dibudidayakan di dunia, termasuk di Indonesia. Harga biji kopi robusta lebih rendah dari arabika.

    Abad 17 kopi arabika masuk ke Indonesia (Jawa). Kemudian abad 18, Jawa dikenal sebagai penghasil kopi utama dunia, dengan pasar Eropa. Sampai sekarang di Eropa utara kopi masih disebut “Java”. Di negara-negara ini, minum kopi disebut drinking java. Abad 19, penyakit karat daun melanda perkebunan kopi di pulau Jawa. Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan kopi liberika untuk menggantikan kopi arabika. Waktu itu, kopi liberika baru saja ditemukan di kawasan Liberia, Afrika.

    Kopi liberika berbatang besar, berdaun lebar dan tebal. Buah kopinya (cofee berry), juga besar, tetapi kulitnya tebal. Hingga biji kopi liberika juga sama besar dengan kopi arabika, dan lebih kecil dari kopi robusta. Bentuk biji kopi liberika memanjang, berwarna cokelat muda. Aroma kopi liberika harum ke arah aroma buah nangka. Itulah sebabnya kopi liberika juga sering disebut kopi nangka. Kandungan kafein liberika 60 mililiter per 8 oz. Paling rendah dibanding arabika dan robusta. Rasa kopi liberika tidak terlalu pahit, juga tidak ada masamnya.

    Produktivitas per satuan tanaman kopi liberika paling tinggi dibanding arabika dan robusta. Tetapi pohon kopi liberika berukuran sangat besar, hingga produktivitas per satuan luas jenis kopi ini paling rendah dibanding arabika dan robusta. Sisa-sisa kopi arabika peninggalan Belanda, masih bisa dijumpai di beberapa daerah. Harga kopi liberika di pasar dunia paling tinggi. Tetapi di Indonesia justru lebih rendah dari robusta. Baru belakangan ini di beberapa tempat harga kopi liberika bisa lebih tinggi dari robusta.

    Bersamaan dengan masuknya kopi liberika ke Indonesia, masuk pula jenis kopi ekselsa. Waktu itu, kopi ekselsa dianggap sebagai spesies baru hingga diberi nama Coffea excelsa. Belakangan diketahui bahwa kopi ekselsa hanyalah varietas dari kopi liberika. Perbedaan kopi ekselsa dengan liberika, daun kopi ekselsa lebih lebar dan lebih bulat. Buahnya juga lebih besar dan lebih bulat. Daun kopi liberika lebih kecil dan lebih meruncing. Bentuk buah kopinya juga lebih memanjang.

    Komoditas kopi memang sangat dipengaruhi oleh lokasi tumbuh. Masing-masing daerah memiliki ciri khas, hingga biji kopi yang dihasilkan juga sangat khas daerah tersebut. Karakter konsumen kopi juga sangat khas. Hingga kita tak bisa mengklaim bahwa kopi dari daerah tertentu lebih enak, dibandingkan kopi dari daerah lain. Masing-masing punya kekhasan tersendiri, dengan konsumen tersendiri. Tetapi secara umum, arabika memerlukan habitat yang dingin dan kering. Robusta lembap dan basah. Liberika toleran dengan bermacam agroklimat.

    Menurut data FAO tahun 2017, Indonesia merupakan penghasil kopi terbesar nomor empat dunia, dengan produksi 668.677 ton (biji kopi kering); Penghasil kopi terbesar dunia Brasilia dengan produksi 2.680.515 ton; Vietnam nomor dua dengan produksi 1.542.398 ton; Kolombia nomor tiga dengan hasil 754.376 ton; dan Ethiopia nomor lima dengan produksi 471.247 ton. Meskipun masuk dalam lima besar penghasil kopi utama dunia, baru belakangan ini tingkat konsumsi kopi nasional kita melaju dengan pesat. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *