SURINAM CHERRY
by indrihr • 10/08/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Seorang teman yang baru saja pulang dari Suriname, membawa oleh-oleh buah surinam cherry. Katanya, di sana buah ini cukup populer. Saya baru pertamakali melihat dan merasakannya. Apakah buah ini bisa ditanam di Indonesia? (Marissa, Bogor)
Sdri Marissa, surinam cherry, Eugenia uniflora sudah lama ada di Indonesia. Di sini surinam cherry dikenal dengan nama sianto, asam selong, dewadaru dan cerme belanda. Surinam cherry diduga sudah lama didatangkan ke Indonesia oleh bangsa Portugis/Belanda dari Amerika Tropis. Di negeri asalnya, surinam cherry disebut pitanga atau Ñangapirí. Ada dua kultivar surinam cherry, yakni yang berbuah masam, dan yang berbuah manis. Di Amerika Tropis, surinam cherry dibudidayakan untuk dipanen buahnya. Buah kultivar manis, dikonsumsi segar; yang masam diolah menjadi jus, jam, jelly, es krim, dan cake.
Tanaman surinam cherry berbentuk perdu, dan di dataran rendah mampu tumbuh sampai setinggi delapan meter. Habitatnya mulai dari dataran rendah 0 m, dpl; sampai ke ketinggian 1.500 m. dpl. Di dataran tinggi tanaman akan tumbuh lebih pendek dibanding dengan di dataran rendah. Beda dengan di negeri asalnya, di Indonesia surinam cherry hanya dibudidayakan sebagai tanaman hias. Meskipun mampu berbuah lebat di dalam pot atau di lahan di halaman rumah, buah-buah yang merah kehitaman ketika masak ini tetap tak dikonsumsi dan dibiarkan rontok berserakan di bawah tajuk tanaman.
Sejak sebelum kedatangan Bangsa Spanyol dan Portugis, masyarakat Indian Inka (Inca) di Amerika Selatan, sudah memanfaatkan buah surinam cherry, sebagai obat tradisional, terutama untuk mengatasi gangguan pencernaan. Dengan mengonsumsi secara rutin buah surinam cherry, masyarakat Indian Inka percaya akan terhindar dari sakit perut. Buah surinam cherry yang telah benar-benar masak banyak mengandung air, berasa manis dengan tetap menyisakan rasa masam, dan beraroma sangat khas. Di dalam daging buah terdapat satu sampai dua butir biji. Masa dorman (masa istirahat) biji surinam cherry sebagai benih, sangat pendek hingga harus segera ditanam.
Penelitian terhadap buah ini pada zaman modern, menunjukkan bahwa buah surinam cherry banyak mengandung vitamin A dan C. Selain itu daging buah juga mengandung beta – Carotene (β-Carotene), dan zat yang mampu meredakan radang (anti-inflammatory), serta analgesic (meredakan nyeri). Khasiat lainnya adalah anti hypertensive (menurunkan tekanan darah), antidiabetic (menurunkan kadar gula darah). Penelitian modern ini, bukan merupakan legitimasi (pengesahan), bahwa buah surinam cherry bisa menjadi obat radang, penghilang rasa sakit, tekanan darah dan kadar gula darah tinggi.
Karena kepercayaan kuno dan hasil penelitian modern inilah, maka sekarang surinam cherry dibudidayakan secara luas di Amerika Selatan. Terbawa oleh kepercayaan Indian Inka, orang-orang Negro, Hispanik, dan Jepang yang kemudian bermukim di Amerika Selatan, ikut percaya terhadap khasiat buah surinam cherry bagi kesehatan. Beda dengan masyarakat Indonesia, yang membudidayakan surinam cherry sebagai tanaman dewadaru yang keramat, dan akan mendatangkan keberuntungan.
Di kompleks peziarahan Gunung Kawi, ada tanaman surinam cherry yang disebut dewadaru dan dikeramatkan. Masyarakat percaya, daun, bunga, atau buah surinam cherry dari Gunung Kawi, akan membuat bisnis mereka jadi sukses. Pohon surinam cherry itu, konon merupakan tongkat Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II, dan Eyang Sujo (Raden Mas Imam Sujono). Mereka pengawal Pangeran Diponegoro (1785 – 1855). Tongkat ajaib itu setelah ditancapkan di tanah, bisa bertunas dan tumbuh menjadi pohon dewadaru.
Selain dewadaru surinam cherry, di Indonesia dikenal pula dewadaru Fagraea elliptica, famili Loganiaceae, yang dikeramatkan di Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah. Kemudian
ada satu tanaman lagi yang juga disebut dewadaru, yakni nagasari ( Mesua ferrea), famili Clusiaceae. Dewadaru nagasari, dikeramatkan di Gunung Kemukus, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Pada tahun 1960an, pohon-pohon nagasari yang memenuhi bukit itu habis ditebang penduduk. Tahun 1980an, ditanamlah pohon nagasari baru, oleh Pemerintah Kabupaten Sragen, tetapi tak ada yang bertahan hidup.
Meskipun dipercaya sebagai tumbuhan keramat, harga benih surinam cherry tidak pernah melambung tinggi. Sebab tanaman ini akan menghasilkan banyak buah dengan biji yang mudah sekali disemai. Surinam cherry juga terkenal sebagai tumbuhan bandel yang tahan hama serta penyakit. Itulah sebabnya di Pulau Bermuda, Atlantik, surinam cherry menjadi tumbuhan invasive (liar dan dominan). Di Indonesia, Surinam cherry masih belum menjadi invasive seperti di Bermuda. Sdri. Marissa, benih Surinam cherry bisa diperoleh di tukang pinggir jalan, atau bisa pula dibeli secara online. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
