• BENIH UMBI-UMBIAN BAHAN PANGAN

    by  • 09/09/2020 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments

    Bulan Agustus saat paling tepat mengumpulkan benih umbi-umbian untuk bahan pangan. Bulan Juli kemarin sebenarnya sudah mulai ada, tetapi belum sebanyak Agustus. Benih itu dibiarkan sampai tumbuh sulur atau tunas, untuk ditanam pada awal musim penghujan.

    Ada 19 umbi-umbian pangan yang ada di Indonesia. Dari 19 umbi-umbian itu ada lima umbi-umbian: Kentang, singkong, ubijalar, talas, keladi, iles-iles/porang; yang dibudidayakan secara luas sebagai bahan pangan. Benihnya juga mudah diperoleh. Berarti masih ada 14 jenis umbi-umbian yang belum dibudidayakan secara optimum, bahkan sebagian nyaris punah. Ke 14 umbi-umbian itu adalah: Kentang hitam, talas sayur, kimpul plecet, suweg, gembili/gembolo, jebubug, gadung dan uwi-uwian lain, ganyong, garut, dan taka. Uwi-uwian merupakan bahan pangan penting di Afrika Tropis.

    Sebagai bahan pangan, iles-iles/porang, gadung dan taka; tidak bisa dikonsumsi langsung. Iles-iles/porang diambil glukomanannya untuk bahan konyaku dan shirataki. Gadung dibuat keripik sebagai snack. Taka ditepungkan untuk dibuat aneka kue. Lainnya bisa dikonsumsi langsung dengan dikukus, direbus atau dibakar. Meskipun ganyong dan garut juga diambil patinya, tetapi dua jenis umbi-umbian ini juga biasa dikonsumsi langsung. Suweg, elephant foot yam, Amorphophallus paeoniifolius, yang asli Asia Tenggara terutama Indonesia, justru dibudidayakan sebagai bahan pangan penting di India.

    Uwi-uwian, spesies Dioscorea yang di dunia ada 613 spesies, 35 diantaranya terdapat di Indonesia. Spesies Dioscorea yang familier di masyarakat gembili Dioscorea esculenta, gadung Dioscorea hispida, dan uwi/huwi terutama Dioscorea alata dengan variannya yang sangat banyak. Meskipun masih satu spesies dengan gembili, gembolo, forma besar dari gembili, nyaris punah karena jarang petani yang mau membudidayakannya, akibat duri kemarung yang sangat tajam di pangkal batangnya. Tambaresa Dioscorea pentaphylla juga nyaris punah, karena produktivitasnya rendah.

    Nigeria negara paling banyak membudidayakan uwi-uwian sebagai bahan pangan utama. China dan Jepang membudidayakan Chinese yam, nagaimo, Dioscorea polystachya sebagai bahan pangan prestisius. Talas yang di sini hanya dibudidayakan secara serius di Bogor, disebut taro dan menjadi makanan utama di Hawaii. Kimpul plecet Colocasia antiquorum, di Jepang juga sangat digemari melebihi kentang dan disebut satoimo. Resep masakan satoimo ada puluhan, baik sebagai makanan utama maupun snack. Masyarakat Indonesia tahunya satoimo asli Jepang. Padahal tanaman itu dari sini.

    Mengumpulkan Benih

    Kecuali ubi jalar, umbi-umbian bahan pangan merupakan tanaman semusim, yang ditanam pada awal musim penghujan, dipanen pada musim kemarau. Ubi jalar karena berumur pendek, antara 3 – 4 bulan bisa dibudidayakan sepanjang tahun, terutama di lahan sawah. Ubi jalar dibudidayakan dengan benih stek sulur. Benih singkong dari stek batang. Umbi-umbian lainnya dibudidayakan dengan benih berupa umbi. Baik umbi bawah, maupun umbi atas (bulbil). Tidak semua umbi-umbian menghasilkan bulbil. Tetapi ada juga Dioscorea dengan umbi atas lebih produktif dibanding umbi bawah. Misalnya jebubug, yang juga sering disebut gembolo, Dioscorea bulbifera.

    Suweg, kimpul plecet, dan uwi-uwian genus Dioscorea pada umumnya; dibudidayakan dari umbi anak, atau umbi utama yang dipotong-potong. Bulan Juli sampai September saat yang tepat untuk mengumpulkan benih umbi-umbian ini. Benih yang didapat, jangan langsung ditanam sekarang, tetapi ditaruh di tempat teduh (ternaungi). Lebih baik lagi kalau di dalam, atau di kolong rumah (untuk rumah panggung). Umbi-umbi itu ditaruh begitu saja tanpa perlu ditutup. Nanti pada bulan Oktober akan tumbuh tunas (apa suweg, kimpul plecet) dan sulur (pada uwi-uwian Dioscorea). Benih yang sudah bertunas dan bersulur ini ditanam pada bulan November saat hujan sudah turun.

    Suweg, kimpul plecet, ganyong, garut dan taka; tak memerlukan ajir, tiang atau pohon sebagai rambatan. Semua genus Dioscorea memerlukan ajir, tiang atau pohon sebagai rambatan. Pohon untuk rambatan Dioscorea, sebaiknya bukan tanaman produktif yang diharapkan hasilnya; melainkan tanaman peneduh. Misalnya lamtoro, gamal, kaliandra. Sebab tanaman yang dirambatkan ini akan mengurangi produktivitas pohon yang ditumpangi. Semua umbi-umbian tanaman pangan ini memerlukan sinar matahari cukup. Suweg lebih senang dibudidayakan di bawah naungan dibanding di lahan terbuka.

    Menanam umbi-umbian tak perlu menggali tanah membuat lubang tanam. Cukup benih ditaruh, kemudian ditimbun tanah campur pupuk organik, hingga membantuk guludan. Dengan cara ini kita tidak keluar biaya/tenaga menggali lubang; nanti memanennya juga mudah. Khusus uwu/huwi lajer dengan umbi tumbuh lurus memanjang ke bawah, benih ditaruh di ujung talang atau genteng yang ditata telentang memanjang, dengan posisi bagian untuk menaruh benih lebih tinggi. Tujuannya agar umbi tumbuh memanjang mengikuti talang plastik atau genteng yang ditata itu, hingga memudahkan panen. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *