HOYA TANAMAN HIAS EKSLUSIF
by indrihr • 28/09/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Bandara utama di Indonesia baru belakangan ini dihias anggrek. Di Thailand, bukan hanya bandaranya yang dihias anggrek. Logo perusahaan penerbangan nasional mereka Thai Airways juga berupa kuntum bunga anggrek Dendrobium.
Sebelum pandemi, saya naik Thai Airways dari Terminal 3 Bandara Soekarno – Hatta. Saya bangga sekali karena mulai dari tempat check in, sampai ruang tunggu keberangkatan di Terminal 3 ini penuh dengan anggrek. Sekarang, Bandara Soekarno – Hatta sudah sama dengan Bandara Suvarnabhumi di Bangkok. Saya terakhir ke Suvarnabhumi 2009 saat Bandara ini baru tiga tahun diresmikan. Waktu itu pertanyaan saya, kapan ya bandara di Indonesia dihias anggrek seperti di Suvarnabhumi ini? Tetapi betapa kaget ketika saya lihat hiasan anggrek di Suvarnabhumi sekarang sudah berbeda.
Sekarang di sekeliling pot Dendrobium dan Phalaenopsis itu menjuntai sulur tanaman hias daun. Saya mengira itu Tarlmounia elliptica, yang di Indonesia populer dengan nama “janda merana” dan Lee Kwan Yew. Karena penasaran, sulur tanaman di sekeliling pot anggrek itu saya amati. Ternyata itu sulur Hoya nummularioides, yang ditanam di pot plastik kecil berbentuk keranjang, dengan media sphagnum moss.Ternyata, sektor pertanian Indonesia, termasuk subsektor tanaman hias, memang selalu satu langkah tertinggal dibanding Thailand. Di Indonesia, hoya baru diminati oleh segelintir hobiis.
Hoya merupakan salah satu genus dalam suku Apocynaceae, yang beranggotakan 51 spesies. Tumbuhan ini berupa terna memanjat epifit, hidup menempel di batang dan cabang pohon menggunakan akar panjat, yang tumbuh di ruas-ruas batangnya. Di Indonesia hoya diminati oleh hobiis tanaman hias spesifik, yang sangat fanatik. Beda dengan anggrek yang spesies langkanya bernilai tinggi, harga hoya tak setinggi anggrek. Hibridanya sudah banyak diciptakan. Meskipun bunga spesies aslinya juga tak kalah indah. Bagi masyarakat awam, hoya tak terlalu menarik karena bunganya terlalu kecil. Informasi spesies hoya langka antara lain bisa dilihat di https://www.rare-hoyas.com/Catalog.htm.
Di depan terminal/pasar Parung, ada sebatang trembesi besar, yang di atasnya ditumbuhi hoya. Untuk melihatnya harus pakai binokular, dan memotretnya pakai prosumer dengan zoom di atas 1000 mm. Di pohon samping kiri pintu masuk Grand Garden Resto & Cafe di Kebun Raya Bogor; juga ada hoya yang bisa dilihat jelas karena cukup pendek. Di Taman Cimelati, Cicurug, Sukabumi; ada pohon ficus besar yang di atasnya ada hoya putih. Dugaan saya ini Hoya pachyclada. Yang di Parung dan Kebun Raya, saya belum sempat identifikasi spesiesnya. Kalau kita agak jeli mengamati, hampir semua pohon tua ditumbuhi hoya selain pakis-pakisan dan anggrek.
Hobiis Eksklusif
Di Indonesia, hobiis anggrek masih tergolong eksklusif dibanding tanaman hias pada umumnya. Karena untuk mengetahui jenis dan merawatnya, memang diperlukan pengetahuan dan keterampilan khusus. Maklumlah, suku anggrek, Orchidaceae, terdiri dari 763 genera, dengan sekitar 28.000 spesies. Habitatnya ada yang di batu, di pohon, ada pula yang di tanah. Genus hoya hanya terdiri dari 51 spesies. Tetapi penggemarnya justru lebih eksklusif dibanding anggrek. Sebab masyarakat yang tahu hoya memang lebih sedikit dibanding mereka yang tahu anggrek. Ketika saya iseng tanya anggrek ke teman-teman, mereka tahu anggrek itu apa. Tetapi ketika saya menyebut hoya, generasi muda tahunya aktor drakor.
Di situs Tokopedia dan Bukalapak, sudah banyak jenis hoya yang ditawarkan. Mulai dari yang harga Rp 20.000, sampai tertinggi Rp 350.000. Belum ada yang sampai jutaan. Meskipun hobiis menyenangi hoya karena bunganya, sebagian spesies hoya, juga hibridanya, justru dibudidayakan karena keindahan daun. Misalnya Hoya compacta dengan daun tebal dan meliuk-liuk. Di Tokopedia, yang ditawarkan seharga Rp 350.000 juga Hoya compacta, tetapi variegata. Tampaknya hoya juga mengikuti trend Monstera “janda bolong”, yang berharga tinggi selalu yang variegata.
Dalam kondisi bisnis hoya yang masih eksklusif seperti sekarang ini, harga masih sangat wajar. Bandingkan dengan Monstera janda bolong yang di situs Tokopedia ada yang ditawarkan seharga Rp 85 juta dengan hanya dua daun. Anehnya semakin tinggi ditawarkan, justru semakin tinggi pula peminatnya. Ini persis fenomena kangkung hidroponik Bob Sadino dekade 1980. Waktu itu kangkung cabut masih langka. Pasar sayuran masih didominasi kangkung potong dari sawah dengan harga Rp 75 per ikat. Harga kangkung cabut yang masih langka itu Rp 200 dan juga laku. Bob Sadino menjual kangkung hidroponiknya Rp 2.000 per ikat dan laris manis.
Hoya, terutama yang spesies asli, sebenarnya jauh lebih mudah diurus dibanding anggrek. Cukup ditempel di pohon atau perdu di halaman rumah, dan akan hidup secara alamiah tanpa perlakuan apa pun. Lalu pada saat berbunga akan tampak pesona spesies ini. Hoya hibrida umumnya dibudidayakan dalam pot, bukan ditempel di pohon. Mereka yang tertarik untuk memulai hobi baru di tengah pandemi, lalu ingin tahu tentang hoya; bisa dibuka situs http://www.international-hoya.org/faqs.asp. International Hoya Association (IHA), merupakan wadah berhimpunnya hobiis hoya di seluruh dunia.
Dalam hal wadah internasional, hobiis dan pebisnis anggrek kalah dari hoya. Sampai sekarang tak ada wadah internasional bagi para hobiis dan pebisnis anggrek. Yang ada hanya organisasi di masing-masing negara. Di tingkat dunia hanya ada World Orchid Conference (WOC) tiga tahun sekali, digilir di negara-negara di lima benua. Hobiis hoya di Indonesia, umumnya juga hobiis atau malah pebisnis anggrek. Di dunia tanaman hias, tampaknya prestise hoya cukup tinggi meski berharga murah. Sebab ketika seseorang bicara tentang hoya, tak akan banyak yang bisa mengikutinya. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
