BISNIS INDONESIA SEMESTER II 2009
by indrihr • 02/07/2013 • PERTANIAN • 0 Comments
Sebenarnya bisnis semester II 2009 sudah harus dimulai pada awal Juli 2009. Namun hajatan nasional Pilpres 2009 telah menunda banyak hal, hingga baru pada minggu ketiga Juli 2009 revisi bisnis semester II 2009 mulai bergerak. Indonesia banyak diuntungkan, justru karena masih lemahnya ekspor ke pasar global.
Negara yang paling terpukul akibat resesi global adalah Jepang dan RRC, sebab dua negara ini lebih banyak mengandalkan pendapatan nasional mereka dari ekspor. RRC bisa segera mengalihkan pasar ekspor tekstil dan sepatu ke pasar domestik, sebab penduduk negeri ini mencapai 1,3 milyar jiwa (estimasi 2007). Jepang agak sulit untuk mengalihkan produksi otomotif, elektronik, dan perbankan mereka ke pasar domestik, sebab penduduk negeri ini hanya sekitar 127 juta jiwa (estimasi 2007). Selain itu, lebih dari 50% produksi otomotiv, elektronik, serta perbankan mereka ditujukan untuk konsumsi global.
Ekspor tekstil dan alas kaki Indonesia mulai diserobot RRC pada awal tahun 2000an. Ketika itu dampak terhadap perekonomian nasional cukup besar, antara lain berupa gelombang PHK. Namun pada tahun 2009 ini, hal tersebut justru menguntungkan. Ekspor Indonesia kemudian lebih banyak berbasiskan produk pertanian (perkebunan), terutama CPO, dan juga hasil laut. Meskipun RRC, India, dan Jepang terlanda krisis global, mereka tetap perlu CPO, dan terutama Jepang tetap perlu mengonsumsi hasil laut. Selain itu, Indonesia sangat berprospek untuk menggenjot produksi pangan, bukan saja untuk kepentingan dalam negeri, melainkan juga ekspor.
# # #
Naiknya harga minyak bumi sampai menembus angka 70 dollar AS per barel pada Juni 2009, di satu pihak memang membawa dampak serius pada perekonomian nasional. Namun di lain pihak, kenaikan harga minyak bumi di pasar global itu, juga telah mengatrol harga CPO hingga menembus 750 dollar AS per ton. Minyak bumi dan CPO sudah bisa menjadi barometer perekonomian nasional. Kenaikan harga dua komoditas ini, terutama CPO, bisa segera menggerakkan beberapa sektor perekonomian domestik. Sebab bisnis transportasi, hotel, restoran, dan konsumsi pangan akan segera terseret untuk bergerak lebih cepat.
Selama semester I 2009, sebenarnya ekonomi Indonesia sudah langsung terkena dampak krisis keuangan global akibat skandal Lehman Brothers, dan Madoff di AS. Indonesia sangat tertolong oleh kucuran dana Pemilu Legislatif, dan Pilpres 2009, hingga jasa transportasi, akomodasi, dan konsumsi pangan bergerak lebih cepat. Semester II 2009, kucuran dana Pemilu sudah terkuras habis. Hingga dari Juli sampai Desember 2009, kita harus benar-benar mengandalkan kondisi permintaan riil nasional, maupun peluang ekspor. Yang memerlukan perhatian serius, justru produksi pangan, terutama beras, jagung, singkong, dan sumber karbohidrat lain, yang selama semester I 2009 kurang terperhatikan.
Indikatornya antara lain, selama semester I 2009, Departemen Pertanian, serta dinas-dinas terkait yang menangani sarana/prasarana pengairan, tidak terlalu memperhatikan kondisi musim kemarau 2009. Meskipun sejak reformasi 1998, telah terjadi depolitisasi pada sebagian besar birokrat kita, selama semester I 2009, perhatian mereka tetap masih terkonsentrasi ke masalah politik. Akibatnya, selama semester I 2009, tidak pernah terpublikasikan, informasi tentang kondisi musim kemarau 2009. Sampai dengan bulan Juni 2009, hujan memang masih turun di hampir semua wilayah di Indonesia. Namun cuaca sejak awal Juli 2009, mengindikasikan akan datangnya kemarau panjang, dengan tingkat kekeringan yang tinggi.
# # #
Sepanjang-panjangnya kemarau 2009, seandainya terjadi, tidak akan sampai mencapai tujuh bulan seperti tahun 1996, dan 2006 (siklus 10 tahunan). Sebab dengan diawali pada bulan Juli, maka kemarau 2009 paling lama akan berakhir pada bulan November 2009 (lima bulan). Namun intensitas kemarau, bukan sekadar dipengaruhi oleh rentang periode, melainkan juga rendahnya curah hujan. Bisa saja kemarau berlangsung selama tujuh bulan, namun apabila hujan tetap turun pada pertengahan musim kemarau, maka intensitas kekeringan tidak akan terlalu tinggi. Dengan indikator beberapa areal tanaman padi sawah yang gagal panen (puso) belakangan ini, ada kekhawatiran produksi pangan kita selama 2009, tidak akan sebaik 2008.
Selama ini cadangan pangan, terutama beras di pasar dunia selalu cukup. Hal ini disebabkan, oleh peningkatan produksi yang cukup baik di negara-negara dengan populasi penduduk paling tinggi, yakni RRC, India, AS, dan Indonesia. Produksi pangan berlebih di empat negara ini, telah membuat cadangan pangan di pasar dunia juga berlebih, hingga harga gandum, beras, dan jagung relatif stabil. Dampak dari krisis finansial global, dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap produksi pangan di empat negara berpenduduk terbesar di dunia ini. Apabila di RRC, India, dan Indonesia terjadi krisis pangan, cadangan pangan di pasar dunia akan terserap habis, dan harga akan cenderung naik.
AS memang agak sulit mengalami hal ini, sebab cadangan pangan mereka lebih dari cukup, bahkan seandainya mereka gagal panen 100% sekali pun. Gagal panen di empat negara berpopulasi penduduk paling besar ini, memang tidak akan sampai mengakibatkan krisis pangan dunia. Krisis pangan yang terjadi di beberapa negara di Afrika, tidak pernah diakibatkan oleh kurangnya cadangan pangan dunia, melainkan oleh tidak adanya kemampuan daya beli masyarakat negara tersebut, akibat perang. Indonesia masih sangat beruntung, sebab sejak reformasi 1998, meski terjadi banyak gejolak politik, tidak sampai berkembang menjadi perang saudara. (R) # # #
