TUA-TUA KELADI
by indrihr • 14/12/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Makin tua, makin menjadi-jadi. Ada lagi frasa “biang keladi”. Keladi yang dimaksud peribahasa dan frasa ini; mengacu ke talas belitung, kimpul, bothe, enthik, boa, arrowleaf elephant’s ear, American taro, Xanthosoma sagitifolium.
Keladi merupakan tanaman umbi-umbian penghasil bahan pangan. Sosok tanaman keladi mirip talas, taro, Colocasia esculenta. Kalau talas dikonsumsi umbi induk, keladi dikonsumsi umbi anaknya. Kandungan kalsium oksalat pada umbi induk keladi sangat tinggi hingga berasa gatal di mulut. Dari situlah muncul frasa “biang keladi”. Nama botani keladi Xanthosoma sagitifolium, diberikan oleh ahli botani Austria Heinrich Wilhelm Schott (1794 – 1865), pada tahun 1832. Genus Xanthosoma, suku Araceae, beranggotakan 76 spesies, semua berhabitat asli Amerika Tropis. Keladi diintroduksi ke kepulauan Nusantara oleh Bangsa Portugis dan Belanda.
Sekarang keladi, lebih banyak ditanam di Indonesia dibanding talas; karena lebih tahan penyakit hawar daun talas, akibat kapang Phytophthora colocasiae. Di pasar-pasar tradisional Jabodetabek, keladi lebih mudah ditemukan dibanding talas. Tetapi, keladi yang “menjadi-jadi” sekarang ini bukan kimpul, melainkan tanaman hias genus Caladium. Sama dengan keladi, Caladium juga berasal dari Amerika Tropis. Caladium bicolor, malahan lebih dahulu diketemukan oleh ahli botani Perancis, Étienne Pierre Ventenat (1757 – 1808), pada tahun 1800. Genus Caladium hanya beranggotakan 14 spesies dan semua merupakan tanaman hias.
Meskipun hanya beranggotakan 14 spesies, genus Caladium “diketemukan” dan diberi nama dalam rentang waktu cukup panjang. Setelah spesies pertama Caladium bicolor diketemukan tahun 1800, spesies berikutnya Caladium smaragdinum, diketemukan oleh Karl Heinrich Emil Koch dan Carl David Bouché pada tahun 1853. Kalau Caladium bicolor berhabitat asli seluruh kawasan Amerika Tengah dan Selatan; Caladium smaragdinum hanya ada di Kolumbia dan Venezuela. Spesies berikutnya Caladium humboldtii, diketemukan oleh Heinrich Wilhelm Schott di Venezuela dan Brasil tahun 1854.
Tahun 1855 dua spesies Caladium diketemukan bersamaan. Caladium macrotites juga diketemukan oleh Wilhelm Schott di Kolumbia dan Brasil; Caladium picturatum diketemukan oleh Karl Heinrich Emil Koch dan Carl David Bouché di seluruh bagian utara Amerika Selatan. Kemudian berturut-turut Caladium coerulescens diketemukan tahun 1975; Caladium lindenii dan Caladium ternatum diketemukan bersamaan 1981; Caladium andreanum 1984; Caladium schomburgkii 1958; Caladium tuberosum 1991. Dua spesies terakhir Caladium clavatum dan Caladium praetermissum; baru diketemukan tahun 2009 dan sudah sampai ke Indonesia, dengan harga masih di atas Rp 500.000 per tanaman.
Nama Keladi yang Membingungkan
Sebutan keladi bagi masyarakat Indonesia, bukan hanya ditujukan ke genus Xanthosoma dan Caladium, tetapi juga ke beberapa spesies dari genus lain. Salah satunya keladi tikus, taro mice, Typhonium flagelliforme; dengan sebaran dari daratan Asia sampai Australia, termasuk Indonesia. Meskipun tumbuhan asli Indonesia, masyarakat kita baru memperhatikan keladi tikus, setelah ada informasi tentang peluang pemanfaatan umbinya sebagai obat kanker. Tetapi di Indonesia juga ada Typhonium roxburghii, yang tumbuh liar dan sering dimanfaatkan untuk tanaman hias dengan sebutan lily voodoo mini. Orang sering bingung, mana yang keladi tikus, mana yang lily voodoo mini.
Ternyata tak hanya berhenti sampai di situ. Masih ada keladi tatto, Cercestis mirabilis. Genus Cercestis terdiri dari 10 spesies, semua berasal dari Afrika Tropis. Di situs penjualan online, harga keladi tatto berkisar antara Rp 500.000 sampai Rp 2,5 juta. Kemudian keladi katak (kodok), Drimiopsis maculata. Genus Drimiopsis terdiri dari 14 spesies dan juga berasal dari Afrika Tropis. Sebutan “keladi” untuk genus Drimiopsis sebenarnya aneh. Xanthosoma, Caladium, Typhonium dan Cercestis masih wajar disebut keladi; karena sama-sama suku talas-talasan (Aroid, Araceae). Drimiopsis bukan suku talas-talasan tetapi asparagus-asparagusan (Asparagaceae).
Kebingungan masyarakat masih ditambah lagi, dengan sebutan talas, lumbu dan lompong untuk keladi, talas (genus Colocasia, 8 spesies), senthe (genus Alocasia, 80 spesies). Untunglah Anthurium yang beberapa tahun silam pernah heboh, tak sekalian diberi predikat keladi atau talas. Sebab genus Anthurium beranggotakan 926 spesies. Masih ada lagi nampu atau cariang (genus Homalomena, 124 spesies). Homalomena juga populer sebagai tanaman hias, dan bentuk daun serta tanamannya persis keladi dan talas. Masyarakat awal juga menyebut Homalomena dengan nama talas, atau keladi.
Senthe memang sudah sejak lama disebut salah sebagai keladi atau talas. Belakangan ini muncul “keladi amazon” yang sebenarnya senthe. Nama keladi amazon sebenarnya bukan hanya kesalahan masyarakat Indonesia, melainkan juga ahli botani André Michaux. Tahun 1871, ia menulis di Jurnal Revue Horticole, Paris; tentang diketemukannya silangan alami antara Alocasia longiloba dengan Alocasia sanderiana; yang ia beri nama Alocasia × mortfontanensis. Di International Plant Names Index (IPNI), nama itu berstatus Unplaced dan Unresolved. Hingga “temuannya” tidak diakui secara internasional.
Tetapi tahun 1953, John B. Reark menulis prosiding di Florida State Horticultural Society tentang Alocasia × mortfontanensis; yang ia beri nama baru sebagai Alocasia × amazonica. Di IPNI, publikasi itu berstatus not validly. Dari situlah para pedagang tanaman hias, termasuk di Indonesia, mengklaim “keladi amazon” alias topeng afrika (African Mask), sebagai keladi jenis baru. Meskipun jelas itu senthe bukan keladi, juga tidak berasal dari Amazon maupun Afrika. Dalam kebingungan itulah para pedagang tanaman hias menangguk keuntungan, hingga nama “keladi tengkorak” digunakan untuk puluhan spesies Alocasia dan hibridanya. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
