ARA GAJAH BUKAN BUAH TIN MERAH BESAR
by indrihr • 21/12/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Teman membeli buah tin merah besar, yang kata penjualnya sangat manis dan telah langka. Setelah buahnya masak, dicicipi ternyata rasanya hambar. Benarkah buah tin kalau ditanam di sini menjadi tidak manis? (Rosida, Malang).
Sdri Rosida, kemungkinan teman Anda itu telah tertipu. Dari foto yang Anda lampirkan, itu bukan buah tin besar, merah, manis dan langka; tetapi buah ara gajah. Buah tin/ara, common fig, Ficus carica; berbentuk lonjong, mengerucut di bagian pangkalnya. Buah ara gajah, roxburgh fig, Ficus auriculata; berbentuk bulat, dengan bagian bawah buah agak datar. Buah tin berkulit licin, buah ara gajah berbulu. Rasa buah ara gajah tawar, tidak manis seperti buah tin. Meski berasal dari kawasan gurun, buah tin/ara relatif bisa beradaptasi dengan iklim tropis.
Jadi buah tin/ara yang ditanam di Indonesia, juga bisa manis. Meskipun tingkat kemanisannya berbeda-beda di masing-masing daerah. Di kota Malang dengan udara kering; buah tin relatif lebih manis dibanding di Bogor yang cukup basah. Tetapi buah tin di Malang, kalah manis dibanding buah tin di Pasuruan, Probolinggo dan Situbondo. Terlebih dibandingkan dengan buah tin di Bali Utara atau Sumba Utara yang ekstrim kering. Tetapi, buah tin di Bogor pun, masih tetap berasa manis dibanding dengan buah ara gajah.
Buah tin juga disebut buah ara, berasal dari kawasan sekitar Laut Tengah (Afrika Utara, Eropa Selatan, dan Timur Tengah); sampai ke Afganistan dan Pakistan. Buah tin sudah dibudidayakan sejak zaman pra sejarah. Selain dikonsumsi segar, buah tin juga dikeringkan kemudian dipress eperti halnya kurma. Ukuran, bentuk dan warna buah tin sangat beragam. Mulai dari hijau, hijau kekuningan, sampai ke cokelat. Tidak pernah ada buah tin yang benar-benar berwarna merah seperti warna buah rambutan.
Beda dengan buah tin yang berasal dari sekitar Laut Tengah, ara gajah berasal dari Asia Tropis, dengan sebaran mulai dari Pakistan sampai selatan China, ke selatan sampai Semenanjung Malaya. Meskipun buah ara gajah berukuran lebih besar, dengan daging buah lebih tebal; tetapi jarang dikonsumsi sebagai buah; seperti halnya tin. Pemanfaatan ara gajah lebih banyak sebagai tanaman hias, terutama sebagai pohon pelindung dan elemen taman. Daya tarik utama ara gajah, terutama pada kelebatan buahnya yang menempel di batang dan cabang utama.
Tajuk ara gajah juga rimbun, dengan daun yang cukup lebar. Sebagai elemen taman dan pohon pelindung, ara gajah potensial menjadi pesaing biola cantik, Ficus lyrata; yang sudah lama populer di Indonesia. Mungkin karena melihat kelebatan buahnya, dengan warna merah mencolok setelah masak, timbul ide dari penjual tanaman untuk menipu konsumen, dengan menyebut ara gajah sebagai buah tin merah, besar, manis, dan langka. Meskipun kalau ada buah yang besar, merah dan manis, pasti tidak langka; karena banyak yang membudidayakannya.
Dunia tanaman hias, tanaman obat dan buah-buahan memang rawan menjadi sarana penipuan. Genus Ficus, suku ara-araan (Moraceae), terdiri dari 841 spesies yang tersebar di semua benua, dari kawasan tropis sampai sub tropis. Beringin (Ficus benyamina dan Ficus annulata); merupakan spesies ficus paling populer di Indonesia. Awar-awar (Ficus septica) dan ampelas (Ficus ampelas); juga banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sebelum ada ampelas pabrik, daun ampelas digunakan untuk menghaluskan permukaan kayu.
Dolar rambat, creeping fig, Ficus fistulosa; yang banyak digunakan sebagai penutup tembok pagar halaman juga salah satu spesies dari genus Ficus. Di tebing jalan tol Jorr sebelum gedung Kementerian Pertanian dari arah Kampung Rambutan, dolar rambat ini digunakan untuk menutup tebing kiri kanan jalan yang dikeraskan dengan semen. Di bagian atas tanaman ini, sering tampak buahnya berwarna hijau. Di Taiwan, buah dolar rambat merupakan bahan minuman yang disebut aiyu jelly.
Spesies ficus dengan buah lebat yang menempel di pohon dan dahan utama, juga terdapat di Indonesia. Yang cukup populer adalah loa atau lo, Ficus racemosa; yang banyak tumbuh di tepi sungai di DKI Jakarta. Kemudian gondang, Ficus variegata; beunying, Ficus fistulosa; dan luwing, Ficus hispida. Pohon loa berukuran paling besar, dengan percabangan tak beraturan. Buah loa matang sangat merah, lebih merah dari ara gajah. Buah luwing bertangkai sangat panjang menjuntai. Buah beunying menempel rapat tanpa tangkai; dan buah gondang bertangkai pendek. Buah luwing, gondang dan beunying tak pernah menjadi merah.
Masuknya bibit buah tin dan ara gajah ke Indonesia hampir bersamaan, pada dekade 2000. Buah tin ditanam untuk diharapkan buahnya, ara gajah sebagai tanaman hias. Meskipun sudah ditanam sebagai elemen taman sejak tahun 2000an, banyak anggota masyarakat yang tak mengenal ara gajah. Hingga ketika ada pedagang yang menyebut ara gajah sebagai buah tin, ada saja masyarakat yang tertipu. Padahal sekarang mencari informasi menggunakan Android sangat mudah. Bertanya ke pihak yang berkompeten juga merupakan salah satu alternatif agar kita tak tertipu. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
