BISNIS POHON CEMARA ASLI
by indrihr • 09/02/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Saya pedagang ritil tanaman hias. Desember yang lalu, permintaan pohon cemara hidup ramai. Sebenarnya ada berapa jenis cemarakah di Indonesia? Apa beda cemara laut, cemara udang dan cemara pinus?(Sutiman, Semarang).
Sdr. Sutiman, kosakata pohon cemara digunakan sebagai nama tumbuhan suku Pinaceae (ordo Pinales, 11 genera, 255 spesies); suku Cupressaceae (ordo Pinales, 32 genera, 166 spesies); dan suku Casuarinaceae (ordo Angiosperms, 4 genera, 91 spesies). Jadi yang disebut pohon cemara, sebenarnya terdiri dari 2 ordo, 3 suku 47 genera dan 512 spesies. Ada beberapa spesies yang berhabitat asli Indonesia. Misalnya pinus sumatera (Pinus merkusii), cemara laut/udang (Casuarina equisetifolia), cemara sumatera (Gymnostoma sumatranum), dan cemara gunung (Casuarina junghuhniana).
Cemara laut dan cemara udang sebenarnya sama-sama Casuarina equisetifolia. Sebaran jenis cemara ini sangat luas dari kawasan basah di Pulau Anak Krakatau, sampai yang ekstrim kering seperti di NTT. Yang tumbuh di kawasan basah disebut cemara laut, dengan tajuk berbentuk pohon natal. Yang tumbuh di kawasan kering seperti di Pulau Madura, disebut cemara udang karena tumbuhnya bengkok-bengkok seperti udang. Cemara laut/udang selama ini paling banyak digunakan sebagai bakalan bonsai, atau semi bonsai sebagai elemen taman di halaman rumah atau bangunan perkantoran. Kisaran harga cemara udang antara Rp 20.000 berupa bibit, sampai Rp 6.000.000 yang sudah jadi.
Cemara asli Indonesia berikutnya pinus sumatera juga tak terlalu menarik sebagai pohon natal. Bibit pinus sumatera dijual untuk ditanam sebagai elemen taman di halaman rumah/taman. Harga bibit pinus sumatera terendah Rp 25.000 tertinggi Rp 50.000 per tanaman. Relatif murah dibanding bonsai cemara udang, bahkan juga cemara norfolk (Araucaria heterophylla). Harga cemara norfolk Rp 25.000 sampai 450.000 per tanaman. Pinus sumatera juga lebih murah dari cemara lilin (Cupressus sempervirens); dengan harga terendah Rp 45.000 dan tertinggi Rp 2.000.000 per tanaman. Bahkan cemara kipas (Thuja occidentalis) seharga Rp 20.000 terendah dan Rp 1.400.000 tertinggi, juga masih lebih tinggi dari pinus sumatera.
Di Indonesia, bisnis pohon cemara hidup sebagai hiasan natal, tidak semarak di Uni Eropa, Jepang dan Amerika. Pertama, karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Kedua, para pemeluk Kristen dan Katolik di Indonesia, lebih memilih pohon cemara dari plastik, yang bisa dipakai terus-menerus tiap hari natal. Kalau menurut Anda, pada Desember 2020 bisnis pohon cemara hidup sebagai hiasan natal naik tajam, itu menggembirakan, sebab ada perubahan perilaku untuk beralih dari plastik ke pohon hidup. Selama pandemi 2020, masyarakat kelas menengah di kota besar Indonesia tiba-tiba menyukai tanaman.
Dari puluhan jenis cemara yang dijual sebagai pohon natal, yang paling banyak ditawarkan cemara lilin, cemara kipas dan cemara norfolk. Sebab tiga jenis cemara itu sudah lama dibudidayakan di Indonesia. Cemara norfolk malah pernah sangat populer sebagai elemen taman dan penghias halaman pada dekade 1980. Kemudian banyak yang menebangnya, karena cemara asli pulau Norfolk di Pasifik selatan ini, ternyata tumbuh sangat cepat menjadi pohon besar hingga memenuhi halaman rumah yang rata-rata sempit.
Di kawasan beriklim dingin, ada lima jenis cemara yang populer sebagai pohon natal: Cedars (Cedrus libani); Cypress (Cupressus sempervirens); Fir (Abies cilicica); Pines (Pinus helepensis dan Pinus pinea); serta Spruce (Picea abies). Cedars dan Cypress merupakan hiasan rumah paling awal di negara-negara kuno Timur Tengah. Dulu di Babilonia, Asiria, dan Mesir, orang biasa membawa masuk pohon Cedars atau Cypress ke dalam rumah saat musim dingin tiba. Dua spesies cemara ini paling populer sebagai hiasan rumah di Timur Tengah, karena tajuknya sudah kompak saat masih berukuran kecil.
Dari Timur Tengah, tradisi menghias rumah saat musim dingin ini menjalar ke Kekaisaran Romawi, untuk menghormati Dewa Matahari (Dies Natalis Solis Invicti), tiap tanggal 25 Desember. Sejak itulah cemara menjadi populer sebagai hiasan natal di Kekaisaran Romawi. Peristiwa kelahiran Yesus, berdasarkan waktu Sensus Kirenius dan Pemerintahan Raja Herodes Agung, terjadi antara tahun 6 sampai 4 SM. Berdasarkan fenomena Bintang Bethlehem (Konstelasi Pisces), dan lokasi kelahiran di gua kandang ternak (yang sedang kosong) diperkirakan Yesus lahir pada musim semi (April) tahun 6 SM.
Pada abad 4 ada kompromi politik antara Gereja Purba dengan Kekaisaran Romawi (Bizantium). Natal 25 Desember diadopsi sebagai tanggal lahir Yesus, dan sekte Nasrani/Kristen dalam Agama Yahudi, diakui sebagai agama resmi yang terdaftar di Kekaisaran Romawi. Gereja Purba kemudian pecah menjadi tiga; Katolik berkembang di Kekaisaran Romawi dan Eropa, Ortodoks di Timur Tengah dan Eropa Timur, Kristen Thomas (Nasrani) di Pakistan dan India. Sejalan dengan perkembangan agama baru ini, hiasan pohon natal juga menjalar ke Eropa. Di negeri-negeri dingin ini yang dipilih cemara Spruce, Picea abies. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
