MELATI JEPANG
by indrihr • 02/03/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Masyarakat dan para pedagang tanaman hias menyebutnya “melati jepang”. Nama botaninya Pseuderanthemum carruthersii, Bahasa Inggrisnya carruthers’ falseface. Melati jepang ini jelas bukan melati, juga tak berasal dari Jepang.
Melati, genus Jasminum, suku Oleaceae, beranggotakan 198 spesies. Melati jepang, genus Pseuderanthemum, suku Acanthaceae, beranggotakan 47 spesies. Jadi melati jepang bukan hanya beda jenis (genus) dengan melati; melainkan juga beda suku (family). Melati jepang juga tidak berasal dari Jepang, melainkan dari Kepulauan Solomon dan Vanuatu di Samudera Pasifik. Memang ada beberapa jenis bunga bukan melati, tetapi disebut melati. Misalnya melati mentomori atau melati costa, Brunfelsia uniflora. Melati mentomori bukan suku Oleaceae melainkan Solanaceae dan berasal dari Amerika Tropis.
Melati bangkok, Wrightia antidysenterica; juga bukan suku Oleaceae, tetapi Apocynaceae; berasal dari Srilanka; bukan Thailand. Melati belanda, rangoon creeper, chinese honeysuckle, Combretum indicum; juga bukan suku Oleaceae tetapi Combretaceae dan berasal dari Asia Tropis. Kembali ke melati jepang, ada beberapa tumbuhan dengan nama jepang di belakangnya. Selain melati jepang, juga ada kamboja jepang, bungur jepang, bambu jepang dan belakangan pepaya serta talas jepang. Kamboja jepang bahkan lebih populer dari melati jepang. Padahal kamboja jepang bukan jenis kamboja, juga tidak berasal dari Jepang.
Kamboja jepang genus Adenium, terdiri dari lima spesies, semua berasal dari Afrika. Kecuali Adenium obesum, yang sebarannya sampai ke Pulau Socotra, di Laut Arab. Kamboja, genus Plumeria, terdiri dari 11 spesies, semua berasal dari Amerika Tengah. Kamboja jepang maupun kamboja biasa memang masih sama-sama suku Apocynaceae; tetapi jelas beda genus, dan satu pun tak ada yang berasal dari Jepang. Kamboja sudah diintroduksi dari Amerika Tengah ke Indonesia sejak Zaman Belanda. Kamboja jepang baru dikenal oleh pecinta tanaman hias Indonesia pada dekade 1970.
Bungur jepang juga aneh. Di Indonesia dikenal dua jenis bungur. Pertama bungur besar, giant crepe-myrtle, queen’s crepe-myrtle, pride of india; Lagerstroemia speciosa. Kedua bungur kecil, crape/crepe myrtle, crepeflower, Lagerstroemia indica. Keduanya asli India. Sampai dengan dekade 1970, masyarakat masih menyebut Lagerstroemia indica dengan nama bungur kecil. Sejak dekade 1980, nama bungur kecil berubah menjadi bungur jepang. Bahkan sekarang bungur jepang ini lebih populer sebagai bungur sakura. Kalau kita klik di Google, bungur jepang paling banyak keluar, baru bungur sakura dan yang paling sedikit bungur kecil.
Bambu, Pepaya dan Talas Jepang
Di Indonesia, bambu pagar berbatang kecil, tumbuh rapat, kompak dan lurus; disebut bambu jepang. Padahal, bambu ini berasal dari Thailand, namanya bambu biara (monastery bamboo, long-sheath bamboo, thai bamboo, umbrella bamboo, Thyrsostachys siamensis). Disebut bambu biara, karena di Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam dan Laos; bambu ini ditanam sebagai pagar kompleks biara para rahib Buddha. Di Thailand, selain sebagai pagar, bambu biara juga dibudidayakan untuk dipanen rebungnya. Bambu ini masuk Indonesia dekade 1980 sebagai “bambu jepang” sampai sekarang.
Bagaimanapun juga, bambu biara tetap disebut bambu, meskipun namanya dibelokkan menjadi “jepang”. Yang belakangan ini populer sebagai “pepaya jepang” sebenarnya bukan pepaya dan tidak berasal dari Jepang. Pepaya jepang berasal dari Meksiko. Nama aslinya chaya, tree spinach, Cnidoscolus aconitifolius. Genus Cnidoscolus suku Euphorbiaceae; beranggotakan 94 spesies. Sedangkan pepaya, papaw, Carica papaya; suku Caricaceae, beranggotakan 22 spesies. Seluruh genus Carica berasal dari Amerika Tropis. Jadi chaya lain suku dengan pepaya, dan tak ada hubungan sama sekali dengan Negara Jepang.
Kaitan chaya dengan pepaya, karena bentuk daunnya sama. Chaya sudah dikenal sebagai sayuran oleh masyarakat Indian Maya di Semenanjung Yukatan, Meksiko sejak tahun 2.000 SM. Tetapi tumbuhan ini baru dideskripsi dan diberi nama botani oleh Ivan Murray Johnston pada tahun 1923. Chaya masuk Indonesia awal tahun 2000, masih nama chaya. Tak lama kemudian daun chaya dijual di Pasar Bogor dengan nama “pepaya jepang” dan laris manis. Dengan cepat “pepaya jepang” ini populer dan menyebar ke seluruh Indonesia. Dengan cepat pula nama chaya tersingkir digantikan dengan sebutan “pepaya jepang’.
Belakangan ini talas jepang yang disebut satoimo, juga mulai populer di masyarakat Indonesia. Satoimo atau eddoe, memang umbi yang sangat prestisius di Jepang, hingga harganya mengalahkan kentang. Satoimo mulai dikenal sejak tahun 2005, ketika sebuah perusahaan mengintroduksi benih dari Jepang, untuk ditanam di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tampaknya si pengusaha dan juga konsultan mereka dari Kementan/IPB; tidak tahu bahwa umbi jepang Satoimo, Colocasia antiquorum, suku Araceae, yang beranggotakan 8 spesies, ini berasal dari Indonesia.
Di Indonesia, Colocasia antiquorum dikenal dengan berbagai nama. Di Jawa Tengah/DIY disebut kimpul plecet, kimpul pari. Di Jawa Barat disebut kimpul salak, tales dempel. Bersama dengan talas bogor, bentul; kimpul plecet bermigrasi ke arah Pasifik, Indochina, India, China, Korea dan Jepang; bersamaan dengan migrasi Homo sapiens antara 35.000 – 14.000 SM. Di Tawangmangu, dengan elevasi lebih dari 1000 meter dpl; produktivitas satoimo tak sebaik di Jepang. Idealnya, memang dikembangkan kultivar Colocasia antiquorum pelepah daun hijau asli Indonesia, yang tumbuh di dataran rendah, menengah dan tinggi. # # #.
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
