• REUNDEU SEBAGAI ANTI MIKROBA

    by  • 12/04/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Hampir di seluruh Provinsi Jawa Barat dan Banten, ada desa atau kampung bernama Cireundeu. Nama itu berasal dari tanaman reundeu, Staurogyne elongata; yang pucuknya biasa digunakan sebagai lalap. Padahal daun reundeu kasar dan berbulu, dengan aroma langu.

    Di kampung Ciseel, Desa Sobang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten; masih ada keluarga yang biasa mengambil reundeu liar untuk lalap. Caranya, ikan asin yang dicocol sambal, ditaruh di atas daun reundeu, digulung seperti sushi, lalu dimasukkan mulut bergantian dengan nasi hangat. “Kalau untuk lalap biasa seperti lalap lain memang tidak enak Pak.” Kata penduduk setempat. “Tapi anak-anak muda sekarang sudah banyak yang tidak doyan. Itu Pak Ketua RT juga tidak doyan lalap reundeu.” Pernyataan warga Ciseel itu benar. Bahkan di kampung dengan nama Cireundeu, tanaman reundeu sudah tidak ada dan tidak dikenal.

    Di lain pihak, generasi millenial justru kembali menyukai reundeu. Di Tokopedia, daun reundeu segar ditawarkan seharga Rp 50.000 per kilogram. Sedangkan tanamannya ditawarkan Rp 20.000 per polybag. Karena satu kilo daun reundeu sangat banyak, maka disediakan pula kemasan 100 gram seharga Rp 6.000. Selain di Tokopedia, daun reundeu juga ada di Bukalapak, Blibli, Lazada dan Shopee. Ini menandakan bahwa generasi millenial yang aktif di dunia digital, tahu reundeu, membeli secara online dan mengonsumsinya. Dunia jadi terbalik-balik. Di kampung Cireundeu tanaman ini tak dikenal, tapi diperdagangkan secara online.

    Yang menjadi pertanyaan, mengapa daun reundeu yang kasar, berbulu, dan beraroma langu itu dikonsumsi sebagai lalap? Penelitian di beberapa perguruan tinggi, menunjukkan, di permukaan daun reundeu yang berbulu halus itu, hidup bakteri filosfer. Meski sudah dicuci bersih, bakteri filosfer itu tidak semua hilang. Bakteri yang masih tersisa di permukaan daun reundeu; ikut masuk ke dalam organ pencernaan manusia, berkembangbiak dan menjadi pembasmi bakteri dan mikroba patogen penyebab sakit perut. Inilah penyebab reundeu yang berdaun kasar, berbulu dan langu itu dikonsumsi sebagai lalap.

    Sebenarnya bakteri filosfer ada di banyak tanaman, termasuk daun lalap lainnya. Tetapi populasi bakteri filosfer di daun reundeu cukup besar, hingga pasti ada yang ikut masuk ke lambung konsumennya, lalu menjadi zat antibiotik yang ampuh. Dalam masyarakat tradisional, informasi seperti ini disampaikan dalam berbagai versi secara lisan, dari generasi ke generasi tanpa pernah terhenti. Perubahan pola hidup tradisional menjadi modern, telah menghentikan penyampaian informasi ini. Dampaknya, pelan-pelan reundeu, juga lalap tradisional lain dilupakan dan tak dikenal lagi.

    Kehebatan Lalap Sunda

    Daun reundeu, bisa dikonsumsi tunggal sebagai lalapan, tanpa dikombinasi dengan jenis lalapan lain. Karena khasiat reundeu ada pada bakteri filosfer di permukaan daunnya. Tidak semua lalapan Sunda bisa dikonsumsi tunggal. Poh-pohan dan tespong, apabila dikonsumsi tunggal justru akan mengakibatkan diare. Fungsi poh-pohan dan tespong, untuk menetralisir bau amis ikan asin, ikan segar, dan terasi dalam sambal. Cabai dalam sambal, bukan hanya berfungsi menimbulkan rasa pedas di mulut untuk menambah selera makan, melainkan guna menekan pertumbuhan bakteri patogen dalam organ pencernaan.

    Kombinasi tespong, poh-pohan dan cabai akan memacu kinerja organ pencernaan, hingga potensial menimbulkan diare. Ancaman ini bisa diredam dengan pucuk jambu monyet, atau putat yang berasa kelat (sepet, astringent); karena kandungan zat taninnya. Ketika dibalik, daun jambu monyet atau putat dilalap tunggal tanpa tespong dan poh-pohan; akan berdampak ke susah BAB. Pengetahuan tentang lalap sunda berupa daun-daun yang ada di pekarangan dan kebun, diperoleh dari hasil coba-coba selama ratusan bahkan ribuan tahun. Pengetahuan seperti ini tak pernah ditulis dan hanya disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi.

    Ketika estafet penyampaian konsep lalap Sunda, ini kemudian terputus; generasi muda lebih mengenal selada, kol, timun, kacang panjang, kemangi dan terung gelatik sebagai lalap. Di warung sunda yang cukup besar, kadang masih bisa dijumpai tespong dan poh-pohan. Tetapi amat jarang ada pucuk jambu monyet dan kemang, terlebih pucuk putat. Yang sama sekali tak pernah dijumpai di warung sunda hanya reundeu. Sebenarnya ini hukum pasar biasa. Kalau tak pernah ada yang minta, tak akan ada yang menanam atau mencari dan menjual. Juga sebaliknya, karena tak ada di pasar, konsumen melupakannya.

    Reundeu merupakan terna tegak berdaun lebar berbentuk lanset. Warna daun hijau tua. Reundeu tumbuh merumpun di lokasi yang ternaungi. Bunga reundeu tumbuh di ujung tanaman, berbentuk terompet kecil dengan lima mahkota berbentuk bulat. Warna bunga pink cerah. Reundeu berkembangbiak dengan biji, atau pemecahan rumpun. Tumbuhan lalap ini berhabitat asli dataran rendah sampai menengah. Di Daftar Nama Tumbuhan Internasional, nama botani reundeu Staurogyne elongata berstatus belum terselesaikan (unresolved). Nama ini diberikan oleh ahli botani Jerman Carl Ernst Otto Kuntze (1843 –1907); pada tahun 1891.

    Dari bentuk, warna daun dan bunga, reundeu juga berpotensi sebagai tanaman hias, khususnya untuk border. Di alam, populasi reundeu justru aman dan tidak terancam punah. Yang “terancam punah” pemanfaatannya. Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Banten, semestinya mengeluarkan himbauan atau instruksi kepada pemerintah kabupaten dan kota, agar desa atau kampung dengan nama Cireundeu; menanam reundeu di kantor kepala desa atau kepala kampung. Halaman masjid atau mushola juga bisa dimanfaatkan untuk melestarikan reundeu, serta tanaman lalap lain yang nyaris punah. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *