EFISIENSI PERTANIAN
by indrihr • 10/05/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di media sosial, amat sering ada keluhan tentang menyusutnya jumlah petani. “Anak sekarang malas jadi petani, hingga lama-lama dunia pertanian akan punah.” Sepintas, pernyataan itu benar, sebab sekarang semakin banyak orang memilih profesi lain yang mereka anggap lebih terhormat
Sebenarnya penurunan populasi penduduk yang berprofesi sebagai petani, tidak menjadi masalah. Itu justru menjadi berkah apabila disertai dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi. Tahun 1950, penduduk Indonesia 82 juta. Dari jumlah itu, sebanyak 65 juta jiwa (80%) berprofesi sebagai petani. Tahun 2020 penduduk Indonesia 274 juta. Dari jumlah itu sebanyak 32,8 juta (12%) menjadi petani. Tahun 1950, sebanyak 65 juta petani Indonesia itu hanya menghasilkan 6,1 juta ton beras. Tahun 2020, sebanyak 32,8 juta petani itu menghasilkan 33 juta ton beras. Terjadi peningkatan produktivitas dan efisiensi yang luar biasa.
Di mana-mana di dunia, populasi petani memang akan terus menurun, sejalan dengan terbukanya lapangan kerja di berbagai bidang dan sektor. Tahun 2000, populasi penduduk Amerika Serikat (AS) sebesar 281,4 juta jiwa. Dari jumlah itu, sebanyak 2,1 juta (0,74%) berprofesi menjadi petani. Populasi AS tahun 2020, naik menjadi 328,2 juta. Petaninya tinggal 2 juta = 0,61%. Tahun 2000, 2,1 juta petani AS itu menghasilkan jagung 251,8 juta ton; gandum 60,6 juta ton; dan kentang 23,2. Tahun 2020, dua juta petani AS itu menghasilkan 347 juta ton jagung; 52,2 juta ton gandum; dan 19,1 juta ton. Jagung dan kentang turun, tapi gandum naik tajam.
Produktivitas sektor pertanian, bukan hanya karena faktor intensifikasi. Petani gandum di AS, tidak peduli dengan intensifikasi. Produktivitas rata-rata petani gandun AS hanya tiga ton per hektar per musim tanam. Petani gandum AS kalah dari petani gandum Afrika. Zimbabwe dan Mali empat ton; Zambia dan Nammibia enam ton. Petani gandum Selandia Baru paling produktif sedunia, karena dari tiap hektar lahan mampu menghasilkan rata-rata 10 ton gandum. Bagi petani AS, hasil hanya tiga ton per hektar tidak penting, sebab yang mereka utamakan; berapa biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi tiap ton gandum. Semakin murah, semakin baik.
Efisiensi memang bisa diraih melalui intensifikasi, misalnya pada petani gandum di Selandia Baru; tetapi bisa pula dengan ekstensifikasi. Misalnya pada petani gandum di AS. Satu petani AS, bisa menanam sampai ribuan hektar gandum. Agar efisien, benih ditebar menggunakan pesawat. Demikian juga dengan pemupukan. Gulma mereka biarkan tumbuh bersama gandum. Hama juga tak dibasmi. Sebab biaya menyiangi tanaman, dan membasmi hama; lebih tinggi dari peningkatan hasil akibat penyiangan dan pembasmian hama. Biji gulma mereka sortasi bersamaan dengan pembuangan biji hampa, serta ikutan benda asing lain.
Efisiensi di China
China sering dituduh bersaing secara tak sehat dalam perdagangan dunia. Bawang putih China jauh lebih murah dibanding bawang putih petani Indonesia. Padahal, kualitas bawang putih China lebih baik dari bawang putih kita. Kadang tuduhan itu disertai dengan fanatisme agama dan sentimen rasialisme. Padahal bawang putih memang tumbuhan sub tropis, yang memerlukan kelembapan udara rendah, serta panjang hari sampai 17 jam. Di kawasan tropis seperti Indonesia, kelembapan udara sangat tinggi, sinar matahari paling panjang hanya 12 jam. Pertumbuhan bawang putih tidak pernah bisa optimum.
China juga penghasil bawang putih utama dunia. Produksi bawang putih China sangat mencolok dibanding India (peringkat 2); dan Bangladesh (peringkat 3). Indonesia hanya berada di peringkat 16 penghasil bawang putih dunia. Inilah 20 besar produsen bawang putih dunia (FAO 2019, ton): 1 China 23.305.888; 2 India 2.910.000; 3 Bangladesh 466.389; 4 Korsel 387.671; 5 Mesir 318.800; 6 Spanyol 271.350; 7 AS 237.340; 8 Algeria 223.311; 9 Uzbekistan 216.272; 10 Ukraina 215.070; 11 Myanmar 208.908; 12 Russia 202.120; 13 Ethiopia 152.595; 14 Argentina 147.649; 15 Brasil 131.523; 16 Indonesia 88.817; 17 Thailand 84.039; 18 Peru 83.297; 19 Meksiko 82.910; 20 Pakistan 75.342.
Produk apa pun dari China, menjadi sangat murah karena efisien akibat volume yang sangat besar. Membuat baju untuk 2,4 milyar manusia di China, per satuan tentu lebih murah dibanding membuat baju untuk 270 juta penduduk Indonesia. Demikian pula dengan produk pertanian. Itulah sebabnya China menjadi penghasil beras, gandum, kentang, ubi jalar, tomat, cabai, wortel, bawang putih, apel, jeruk keprok, daging/telur unggas; semua nomor satu. Apabila China melebihkan satu sampai dua ratus ribu ton kentang, tomat, cabai, wortel; kemudian diekspor ke Indonesia, harganya akan tetap lebih murah, dengan kualitas lebih baik.
Bahkan pisang pun, kita kalah dari China. Padahal selama ini pisang dikenal sebagai tumbuhan tropis. Ternyata kawasan selatan China masih sedikit tropis, hingga bisa menghasilkan pisang. Pisang kita peringkat lima dunia dengan produksi 7,2 (juta ton). Kita di bawah Kolumbia 7,4; Filipina 9,2; China 11,2 dan India 30,5. Untunglah mangga kita masih lebih unggul dari China. Indonesia produsen mangga peringkat tiga dunia. Lima besar produsen mangga dunia: 1 India 25.631.000 (ton); 2 Indonesia 3.294.817; 3 China 2.582.791; 4 Meksiko 2.396.675; 5 Pakistan 2.270.229. Kemungkinan sebentar lagi mangga kita akan disalip China.
Produksi padi nasional kita menjadi efisien, bukan hanya karena intensifikasi dengan benih unggul, juga bukan karena mekanisasi. Sejak era reformasi, petani pemilik sawah cenderung menyewakan lahan mereka ke juragan pemilik penggilingan padi. Seorang juragan bisa punya sampai belasan bahkan puluhan penggilingan, dengan sawah sewaan juga belasan sampai puluhan hektar. Pengolahan lahan, pengadaan benih, pupuk dan pestisida menjadi sangat efisien; dibanding apabila para petani membudidayakan padi secara individual. Kendati ada alih fungsi lahan sawah untuk non pertanian, produksi padi kita terus meningkat. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F.Rahardi
