• BENIH PORANG

    by  • 13/09/2021 • Uncategory • 0 Comments

    Ayah saya petani porang (dulu dikenal sebagai iles-iles), di bawah tegakan hutan jati Perum Perhutani. Saya agak bingung dengan sebutan benih porang sekarang. Apa bedanya katak dengan katak mini dan spora? (Jumali, Cepu)

    Sdr. Jumali, memang benar, sebutan porang baru mulai populer pada 2014. Sebelumnya komoditas ini lebih dikenal dengan nama iles-iles. Perum Perhutani juga sudah mengembangkan komoditas ini bersama para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan, sejak dekade 1980. Yang disebut petani porang di hutan jati generasi Ayah Anda; sesungguhnya tidak benar-benar menanam porang. Mereka hanya mengumpulkan umbi porang dari hutan jati. Karena tidak pernah menanam, mereka juga tidak mengenal benih porang.

    Porang Amorphophallus muelleri, salah satu dari 198 spesies genus Amorphophallus. Umbi porang dipanen sebagai substitusi umbi konjac, Amorphophallus konjac; penghasil glukomanan untuk bahan konyaku dan shirataki, makanan khas Jepang. Glukomanan merupakan serat pangan yang larut dalam air, dan akan menggumpal menjadi jeli. Sebagai serat pangan, glukomanan lezat, mengenyangkan, tetapi nol kalori; hingga cocok untuk menu diet. Pati umbi porang justru dibuang untuk pakan ternak atau bahan lem.

    Proses ekstraksi glukomanan dari umbi konjac dan porang, dimulai dari seleksi umbi. Hanya umbi berbobot di atas satu setengah kilogram yang akan diolah. Di bawah itu dikembalikan ke kebun sebagai umbi benih. Pengolahan umbi dimulai dengan pencucian, dilanjutkan pengirisan setebal 0,5 cm; dan pengeringan dengan penjemuran, dryer; atau kombinasi jemur/dryer. Keripik porang inilah yang akan digiling, untuk dipisahkan antara pati dengan glukomanan. Seluruh tahapan proses ini bisa dikerjakan secara manual atau masinal.

    Umbi konjac hanya tumbuh di kawasan sub tropis Jepang, Korea dan China. Sedangkan porang berhabitat asli kawasan tropis Asia Tenggara. Selain konjac dan porang; glukomanan dalam kadar tinggi juga dihasilkan oleh umbi Amorphophallus bulbifer; yang berhabitat asli India, Bangladesh dan Myanmar. Sebenarnya umbi kembang bangkai (acung, walur, Amorphophallus variabilis), juga mengandung glukomanan, tetapi rendemennya tidak setinggi porang. Demikian juga suweg, Amorphophallus paeoniifolius.

    Kandungan glukomanan umbi bunga bangkai raksasa (titan arum, Amorphophallus titanum) sebenarnya juga sangat tinggi. Tetapi untuk mencapai rendemen glukomanan di atas 50%, titan arum perlu waktu tujuh tahun. Sedangkan porang hanya 1 – 3 tahun. Genus Amorphophallus berkembangbiak dengan cara vegetatif dan generatif. Vegetatif melalui umbi anak dan umbi atas (bulbil, katak). Secara generatif dengan biji yang di alam disebarluaskan oleh burung dan musang. Porang tidak menghasilkan umbi anak, melainkan katak dan biji.

    Di hutan jati, “petani porang” hanya akan mengambil umbi dengan bobot di atas 1 kilogram; ketika tanaman sedang dorman (pelepah daun mengering). Katak yang tumbuh di “ketiak daun” sudah lepas dan jatuh di sekitar tanaman induk. Dalam satu tanaman porang, paling sedikit ada satu katak. Tanaman berukuran sedang akan menghasilkan satu katak besar dan tiga katak kecil. Tanaman berukuran besar, bisa menghasilkan satu katak jumbo, tiga katak biasa, dan sembilan katak mini. Disebut mini karena berukuran sangat kecil.

    Secara alami buah porang yang sudah masak dikonsumsi burung dan musang. Bersama dengan fases burung/musang, biji porang menyebar ke mana-mana, terutama di sekitar rumpun bambu. Sebab musang paling senang tinggal di rumpun bambu. Benih dari katak jumbo paling banyak dicari, karena dalam satu tahun dimungkinkan menghasilkan umbi produksi. Yang disebut katak mini, berukuran sangat kecil, hingga setara dengan biji porang. Idealnya katak mini dan biji disemai terlebih dahulu, untuk menghasilkan umbi benih.

    Sebutan “katak” dan “spora”, merupakan ragam bahasa khusus para petani porang sejak 2014. Apabila digunakan di masyarakat luas, memang harus lengkap dilanjutkan dengan kata porang; hingga menjadi katak porang dan spora porang. Kalau tidak, masyarakat awam akan bingung. Sebab kosa kata katak ditujukan untuk hewan amfibi; kosa kata spora digunakan untuk mewadahi pengertian alat reproduksi (benih) paku-pakuan. Dalam ragam bahasa tulis, sebutan spora porang masih perlu disertai tanda petik “spora porang” dan dilanjutkan dengan penjelasan.

    Sebutan biji porang sebenarnya lebih pas. Sebab itu memang biji. Dalam pertanian porang, umbi yang sudah tumbuh optimum bobot di atas tiga kilogram, akan tumbuh bunga, kemudian menjadi buah. Buah yang telah masak dirontokkan, digilas hingga pulpnya terkelupas, dicuci bersih lalu diangin-anginkan sampai kering. Benih katak maupun biji porang, perlu didormankan (dihamparkan) di tempat teduh dua sampai tiga bulan agar berkecambah. Apabila langsung ditanam, katak dan biji yang belum berkecambah akan mudah busuk. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto R. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *