• KIRINYUH SEBAGAI BIO PESTISIDA CABAI

    by  • 25/10/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Awal abad 19 (tahun 1800an), kirinyuh koleksi Kebun Raya Bogor lepas ke alam bebas. Awalnya hanya tumbuh liar di sekitar Bogor. Tetapi dalam waktu singkat kirinyuh menyebar ke seluruh wilayah Indonesia sebagai gulma yang sangat infasiv.

    Nama daerah kirinyuh sangat beragam. Krinyo, krinyuh, tumbuhan siam, rumput merdeka, putihan. Dalam Bahasa Inggris disebut Siam weed, Christmas bush, jack in the box, devil weed, Communist Pacha, common floss flower. Nama botaninya Chromolaena odorata. Kirinyuh berasal dari Amerika Utara, Tengah dan Selatan. Kirinyuh hidup di kawasan tropis maupun sub tropis. Kirinyuh dibawa keluar dari Benua Amerika sejak abad 16, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Sebaran kirinyuh bisa sangat cepat karena biji bersayapnya bisa diterbangkan angin sampai jarak puluhan bahkan ratusan meter.

    Habitat kirinyuh mulai dari 0 sampai 3.000 meter dpl. Tetapi di dataran rendah sampai menengah, kirinyuh jarang berbunga. Kalau pun berbunga, bunganya tak sebanyak dan selebat di dataran tinggi. Kirinyuh baru mulai berbunga di elevasi sekitar 700 meter dpl. Kirinyuh yang tumbuh di dataran rendah dan menengah, kebanyakan berasal dari biji-biji yang diterbangkan angin dari dataran tinggi. Sama dengan gulma kipahit, Tithonia diversifolia; kirinyuh juga merupakan tumbuhan perintis, yang menjadi indikator kesuburan lahan. Lahan yang ditumbuhi kirinyuh, hampir pasti lahan subur dengan topsoil tebal.

    Gulma kirinyuh memiliki senyawa alelokimia yang mampu menghambat pertumbuhan tanaman yang ada di sekitarnya. Sifat tumbuhan demikian disebut alelopati. Ada beberapa gulma yang dikenal bersifat alelopati. Salah satu yang paling terkenal alang-alang, Imperata cylindrica. Satu hamparan lahan yang telah ditutup alang-alang, akan sulit ditumbuhi gulma lain. Sifat alelopati kirinyuh, tidak seekstrim alang-alang. Sebab kirinyuh tidak akan menutup satu hamparan lahan yang cukup luas. Kirinyuh hanya menutup rapat satu petak lahan kecil, tetapi spot-spot kirinyuh akan tumbuh di mana-mana.

    Selain memiliki sifat alelopati, kirinyuh juga mengandung senyawa flavonoid, steroid, alkaloid, fenolik, saponin dan tanin. Dalam senyawa steroid kirinyuh, terkandung metabolit sekunder, yang bisa menghambat pertumbuhan bakteri penyebab kebusukan pada cabai. Sebenarnya senyawa steroid terdapat dalam banyak tumbuhan. Tetapi upaya pemanfaatan steroid sebagai bio pestisida, tentu harus memperhatikan faktor ketersediaan dan kemudahan dalam mengumpulkannya. Dua faktor ini akan menentukan tinggi rendahnya biaya produksi cabai, terutama cabai musim penghujan di dataran tinggi.

    Sebagai Mulsa

    Di Indonesia, ada dua pola budidaya cabai. Musim kemarau cabai ditanam di lahan sawah di dataran rendah; terutama di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Pada musim penghujan, cabai ditanam di dataran menengah dan tinggi. Cabai musim penghujan inilah yang rentan serangan jamur, bakteri dan virus penyebab keriting. Resiko gagal panen cabai musim penghujan sangat tinggi. Itulah sebabnya tak banyak petani yang mau menanam cabai pada musim penghujan. Cara mengatasi hama cabai pada musim penghujan dengan menggunakan sungkup (tudung) plastik bening, dengan kerangka bambu.

    Cara penanggulangan lain, menyemprot tanaman dengan fungisida dan bakterisida. Cara ini selain berbiaya tinggi, sama dengan menggunakan sungkup plastik bening; juga beresiko mencemari hasil panen cabai yang akan dijual dan dikonsumsi. Hingga secara umum, penggunaan sungkup plastik lebih sehat dibanding fungisida dan bakterisida. Jamur dan bakteri yang menyerang cabai, berasal dari tanah. Ketika hujan, tanah yang terpercik ke bagian bawah daun, akan menumbuhkan jamur dan bakteri patogen penyebab penyakit cabai. Sungkup plastik, mencegah air hujan memercik ke tanaman cabai.

    Gulma kirinyuh ternyata bisa menjadi alternatif penanggulangan jamur dan bakteri pada budidaya cabai di musim penghujan. Cara ini terhitung paling mudah, dan murah. Sebab gulma kirinyuh tumbuh di mana-mana di dataran menengah sampai tinggi. Biasanya gulma ini tumbuh di lahan-lahan kosong, terutama di batas petakan lahan, atau di tebing jurang. Penggunaannya cukup dengan membabatnya, kemudian menaruhnya di sekitar tanaman cabai sebagai mulsa. Mulsa dari gulma kirinyuh mampu mencegah air hujan memercik ke batang dan daun cabai, sambil menularkan jamur dan bakteri patogen.

    Selain mencegah percikan air hujan, fungsi mulsa juga mencegah gulma tumbuh di sekitar tanaman utama. Mulsa daun kirinyuh dengan zat alelopati, akan sangat efektif mencegah gulma lain tumbuh di sekitar cabai. Daun kirinyuh memang cepat sekali hancur, hingga fungsinya sebagai mulsa tidak sebaik jerami atau alang-alang. Tetapi daun kirinyuh yang cepat membusuk itu akan menjadi pupuk hijau yang sangat baik bagi tanaman cabai. Pupuk hijau merupakan pupuk organik “instan” karena cepatnya penguraian bahan organik menjadi senyawa kimia hingga bisa diserap tanaman dalam waktu singkat.

    Karena cepat terurai, mulsa daun kirinyuh harus segera ditambahkan, begitu mulsa pertama terurai jadi pupuk hijau. Cara lainnya, diberi mulsa yang cukup tebal bersama dengan gulma lain, termasuk gelagah dan alang-alang yang sulit terurai dalam jangka waktu pendek. Selain sebagai mulsa, pemanfaatan daun kirinyuh sebagai bio pestisida juga bisa dengan cara dihancurkan (digiling atau ditumbuk), dicampur air, disaring, dan disemprotkan ke tanaman cabai. Cara ini memerlukan tenaga dan biaya lebih tinggi dibanding dengan menaruhnya sebagai mulsa. Padahal efektivitasnya belum tentu lebih baik. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *