DI BALI GONDA LEBIH PRESTISIUS DARI KANGKUNG
by indrihr • 15/11/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Gonda, wedgewort, Sphenoclea zeylanica; sebenarnya gulma padi sawah. Habitat aslinya meliputi Afrika, Asia dan Australia. Tentu termasuk Indonesia. Sejak abad 16, gonda juga telah menyebar ke Benua Amerika dan Kepulauan Karibia.
Gonda juga bukan tumbuhan baru. Joseph Gaertner, ahli botani Jerman, telah meneliti dan memberi nama gonda Sphenoclea zeylanica pada tahun 1788. Di Indonesia gonda tumbuh merata di semua sawah di Sumatera, Jawa, dan Bali. Genus Sphenoclea hanya terdiri dari dua spesies, Sphenoclea zeylanica dan Sphenoclea dalzielii. Sphenoclea dalzielii baru diteliti dan diberi nama oleh Nicholas Edward Brown pada tahun 1912. Habitat asli Sphenoclea dalzielii hanya di Afrika Barat, dan tampaknya tak cepat menyebar seperti halnya gonda. Sphenoclea merupakan genus tunggal suku Sphenocleaceae.
Tetapi orang Jawa dan Orang Sunda tak tahu gonda. Mereka lebih mengenal wewehan yang di Jawa Barat disebut eceng leutik; sebagai gulma edible. Di Jawa Timur, masyarakat juga lebih familier dengan semanggi sebagai bahan pecel. Di Pulau Jawa, gonda tak dikenal. Kecuali oleh orang Jawa dan Sunda yang pernah mengenal kultur Bali. Sebab di Bali, gonda merupakan sayuran yang lebih prestisius dibanding kangkung atau genjer. Bagi masyarakat Bali, plecing gonda lebih membanggakan dibanding plecing kangkung atau genjer. Sebab kangkung dan genjer bisa dengan mudah dijumpai di pasar, sedangkan gonda tidak.
Dulu kangkung dan genjer, didapat dari mengambil di sawah yang telah dipanen. Lama kelamaan kangkung mulai dibudidayakan. Awalnya kangkung ungu yang diambil pucuknya. Kemudian kangkung putih ditanam dari biji kemudian dicabut. Hingga dikenallah kangkung cabut. Sekarang di DKI Jakarta, kangkung ungu yang diambil pucuknya sudah jarang dijumpai di pasaran. Yang ada tinggal kangkung putih cabutan. Dulu di DKI Jakarta yang dijual bunga genjer. Sekarang bunga genjer makin langka, berganti dengan daun genjer. Baik bunga maupun daun genjer yang dipasarkan bukan hasil budidaya.
Di Bali, gonda juga didapat dari “berburu” di sawah-sawah yang telah dipanen, tetapi belum kembali diolah untuk budidaya padi berikutnya. Karenanya beda dengan kangkung dan genjer, gonda hampir tak pernah dijumpai di pasaran. Guna memenuhi kebutuhan penggemar fanatik gonda yang cukup besar, para petani mulai berinisiatif untuk membudidayakannya. Karena masyarakat Bali cenderung lebih menyukai gonda dibanding kangkung dan genjer, maka gonda budidaya laris manis. Para petani gonda yang jumlahnya baru satu dua itu bisa memasarkan produk mereka dengan sangat mudah. Para tengkulak yang justru mendatangi petani gonda.
Dari Setek dan Biji
Rasa (aroma) gonda sangat khas hingga tak bisa dibandingkan dengan sayuran mana pun. Dengan sesama gulma air, tekstur gonda paling dekat dengan kangkung. Sedangkan tekstur wewehan paling dekat dengan genjer. Meskipun rasa gonda tetap lebih enak dari kangkung, dan rasa wewehan lebih enak dari genjer. Sama-sama gulma air edible, nasib gonda lebih baik, karena di Bali gulma air ini makin digemari masyarakat dan mulai dibudidayakan. Sedangkan di pulau Jawa wewehan dilupakan. Masyarakat Sunda dan Banten yang menyebut wewehan dengan nama eceng leutik juga melupakan gulma air ini.
Para petani gonda di Bali mengaku lebih mudah menjual gonda dibanding kangkung dan genjer; karena gulma air edible ini belum banyak yang membudidayakan. Harga gonda di Bali, lebih tinggi dari kangkung. Per kilogram kangkung cabut rata-rata Rp 20.000. Gonda per kilogram Rp 21.000. Di Bali harga genjer paling tinggi, di atas Rp 30.000 per kilogram; karena yang mengonsumsi genjer hanya orang Jawa, hingga sedikit yang membudidayakan. Lain dengan di DKI Jakarta dan sekitarnya, harga kangkung cabut tetap sekitar Rp 20.000 per kilogram, tetapi harga genjer daun/bunga hanya Rp 18.000 per kilogran.
Budidaya gonda mutlak memerlukan air. Meskipun tekstur gonda lebih mirip kangkung, tetapi karakter tanamannya seperti genjer. Meski tumbuhan air, biji kangkung toleran ditebar di darat, kemudian dipanen dengan cara dicabut. Gonda, sama dengan genjer harus ditanam dalam lumpur dengan air menggenang antara 1 – 5 sentimeter. Benih gonda bisa berupa setek batang/pucuk, bisa pula berupa biji. Di Shopee ditawarkan benih gonda berupa biji Rp 5.000 per kemasan tetapi habis. Di Toped ditawarkan sayuran gonda Rp 5.500 per ikat bobot 250 gram, dikirim dari Denpasar, hingga preorder perlu waktu 1 hari.
Sayuran berupa potongan pucuk ini bisa dijadikan benih. Gonda juga bisa dibudidayakan dalam ember plastik, seperti teratai, lotus, genjer dan tumbuhan air lain. Media tanamnya tanah liat dicampur pasir dan pupuk kandang perbandingan 1:1:1. Isi 2/3 media dalam wadah, isi air sampai penuh (luber), hingga 1/3 wadah tergenangi. Tempatkan ember plastik ini di lokasi yang terkena sinar matahari penuh. Ke dalam ember berisi media dan air ini ditancapkan benih berupa setek, atau tebarkan biji. Sebagai pengobat rindu, masyarakat Bali yang tinggal di kota-kota besar tetap bisa menyantap plecing gonda, hasil panen dari halaman rumah.
Belakangan ada kecenderungan generasi millenial justru kembali menyukai sayuran jadul; yang dilupakan oleh generasi tua. Misalnya putat dan reundeu; yang di Ciputat dan Cireundeu pun tanamannya sudah tak dikenal. Gonda agak beda. Generasi jadul tetap menyukai sayuran ini. Barangkali ini terkait dengan karakteristik masyarakat Bali yang kuat terikat adat. Gonda memang bukan sayuran adat. Tetapi keberadaan gonda sebagai gulma tanaman padi di sawah, terkait erat dengan adat Subak. Subak merupakan tata pengairan khas Bali, yang tetap kokoh meskipun interaksi dengan budaya asing sangat intens. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
