• HARGA MINYAK SAWIT MENTAH MELAMBUNG

    by  • 13/12/2021 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Pertengahan November 2021 saat artikel ini ditulis, harga minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO) di pasar dunia mencapai 1.235 dolar AS (Rp 17,29 juta) per ton. Harga CPO ini mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah kelapa sawit.

    Sebenarnya produksi CPO Indonesia bulan Juli 2021 sebesar 4,4 juta ton; sudah turun 10,5% dibanding Juni 2021 sebesar 4,9 juta ton. Agustus 2021 produksi CPO Indonesia kembali turun 4,14% menjadi 4,2 juta ton. September 2021 produksi CPO Indonesia kembali turun sekitar 1% menjadi 4,1 juta ton. Penurunan produksi inilah penyebab utama kenaikan harga CPO di tingkat dunia, dan juga berdampak ke kenaikan harga minyak goreng nasional. Kenaikan paling tajam memang baru terjadi pada November 2021. Yang menjadi pertanyaan, mengapa produksi CPO Indonesia turun sejak Juli 2021?

    Produksi CPO, sangat bergantung dari produksi tandan buah sawit (TBS). Produksi TBS bergantung pada efektifitas fotosintesis. Jamaknya sejak bulan Mei, wilayah Indonesia mulai masuk musim kemarau yang ditandai dengan berkurangnya hujan dan tingginya intensitas sinar matahari. Tahun 2021 ini wilayah Indonesia mengalami kemarau basah. Hujan terus turun dengan intensitas tinggi, sampai dengan masuk musim penghujan lagi pada bulan September 2021. Curah hujan tinggi selama musim kemarau 2021 inilah yang berdampak ke penurunan produksi TBS secara nasional.

    Sampai sekarang, perkebunan sawit Indonesia paling banyak berada di pulau Sumatera dan Kalimantan. Dua pulau besar ini beriklim tropis, hujan turun merata sepanjang tahun; tanpa perbedaan kemarau dan penghujan yang mencolok. Lain halnya dengan Jawa, Bali, NTB dan NTT yang beriklim muson (monsoon), dengan perbedaan kemarau/musim hujan cukup tajam. Jadi sebenarnya sawit sudah terbiasa dengan musim kemarau basah. Bedanya, pada tahun 2021 ini, curah hujan selama musim kemarau, lebih tinggi dari rata-rata curah hujan tahun-tahun sebelumnya. Dan tampaknya sawit cukup rentan terhadap curah hujan tinggi.

    Penurunan produksi CPO Indonesia, berpengaruh sangat besar terhadap harga CPO dunia. Sebab Indonesia merupakan produsen CPO utama dunia. Inilah 10 produsen CPO dunia (estimasi 2021, juta ton): 1 Indonesia 44,5; 2 Malaysia 19,7; 3 Thailand 3,1; 4 Kolombia 1,6; 5 Nigeria 1,4; 6 Guatemala 0,88; 7 Honduras 0,6; 8 Papua Nugini 0,565; 9 Ekuador 0,564; 10 Brasil 0,550. Total produksi CPO dunia 73,5 juta ton; sekitar 33% dari total produksi minyak nabati dunia. Produksi CPO Indonesia 60,5% dari total produksi CPO dunia, dan 19,96% dari total produksi minyak nabati dunia.

    Sawit dan Isu Lingkungan Hidup

    Tingkat produktivitas minyak nabati sawit, paling tinggi dibanding komoditas lain. Tiap hektar lahan sawit, dalam satu tahun akan menghasilkan 5,5 ton minyak nabati. Kelapa hanya 2,5 ton. Kacang tanah, bunga matahari, kedelai hanya 1,5 ton. Sebelum sawit dibudidayakan massal pada dekade 1970, minyak nabati dunia didominasi oleh kelapa dan kacang tanah. Setelah ada sawit minyak nabati kelapa surut. Produsen minyak kacang tanah, bunga matahari dan kedelai dari negara-negara sub tropis, sangat terpukul dengan hadirnya CPO. Selain produktivitas lebih tinggi, sawit juga tak perlu mengolah tanah dan menanam ulang seperti kacang tanah, bunga matahari dan kedelai.

    Sawit sekali tanam, sejak 2,5 tahun sampai usia 20 tahun; bisa terus dipanen tanpa perlu pengolahan lahan dan penanaman ulang. Praktis biaya yang keluar hanya untuk pupuk dan panen. Lain halnya dengan kacang tanah, bunga matahari dan kedelai yang harus rutin mengolah lahan, menanam, memupuk dan memanen. Resiko gagal panen karena iklim ekstrim dan serangan hama/penyakit tanaman sangat besar pada tanaman semusim. Karenanya negara-negara penghasil kacang tanah, bunga matahari dan kedelai yang nota bene menguasai media massa arus utama dunia, berkampanye menyerang sawit.

    Padahal, lingkungan lahan sawit tentu lebih baik dibanding lahan kacang tanah, kedelai dan bunga matahari. Sebab kebun sawit akan tertutup tajuk tanaman dan gulma selama sekitar 20 tahun. Serangga dan satwa lain bisa hidup di lahan sawit. Sedangkan lahan kacang tanah, kedelai dan bunga matahari; pasti sudah terbuka dan perlu diolah rutin tiap tahun; agar bisa menghasilkan. Tetapi isu yang dilontarkan ke publik, sawit merusak lingkungan. Bahkan yang lebih ekstrim, sawit musuh rakyat. Itulah hebatnya media massa, yang bisa mengubah persepsi publik, bahkan memutarbalikkan fakta di lapangan.

    Isu deforestrasi oleh lahan sawit, juga dilontarkan ke publik oleh penghasil minyak nabati dari tanaman semusim. Padahal deforestrasi paling hebat di Indonesia, sudah terjadi antara dekade 1970 – 1990 dalam bentuk Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang dalam praktek hanya menebas hutan untuk diambil kayunya. Sebagian besar perkebunan sawit Indoensia, dibuka di atas lahan bekas HPH dekade 1970 – 1990. Tentu ada lahan sawit yang dibuka di lahan hutan primer, tetapi persentasenya sangat kecil. Sebab hutan primer yang masih utuh di Sumatera dan Kalimantan, berada di kawasan Taman Nasional.

    Sawit memang buah si malakama bagi Uni Eropa, khususnya Belanda dan Inggris. Dua negeri inilah yang meneliti sawit Afrika (Elaeis guineensis) dan sawit Amerika Latin (Elaeis oleifera); lalu menyilangkan keduanya, hingga dihasilkan sawit budidaya penghasil minyak nabati paling efisien di dunia. Belanda meneliti dan mengembangkan sawit budidaya di Hindia Belanda; sedangkan Inggris meneliti dan mengembangkannya di Semenanjung Malaya dan Kalimantan Utara. Paska Perang Dunia II, pengembangan sawit ini terus dilanjutkan oleh Indonesia dan Malaysia, dua negeri penghasil sawit dunia saat ini. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *