• CABAI DALAM SUNGKUP PLASTIK

    by  • 11/01/2022 • Uncategory • 0 Comments

    Tiap bulan Desember, Januari dan Februari; harga cabai di Indonesia melambung. Sebab para petani Brebes, sentra cabai dan bawang merah utama Indonesia; merotasi sawah mereka dengan padi. Pasokan berkurang dan harga cabai naik tajam.

    Kenaikan harga cabai pada pertengahan Desember 2021 ini, masih sebatas Rp 50.000 sampai Rp 60.000 per kilogram. Dari biasanya hanya belasan ribu per kilogram. Beda dengan tahun 2017 cabai rawit merah tembus sampai Rp 200.000 per kilogram. Memang ada yang mencoba posting berita media massa 2017, dengan teks tambahan seakan-akan itu terjadi pada tahun 2021 sekarang ini. Padahal di pasar kisaran harga cabai tertinggi masih Rp 50.000 – Rp 60.000 per kilogram. Kenaikan harga cabai ini masih akan terus berlangsung sampai sekitar bulan Februari 2022. Biasanya Maret harga cabai berangsur turun.

    Gejolak harga cabai di Indonesia, juga disebabkan oleh pola konsumsi cabai segar. Paling jauh baru sampai ke penggunaan cabai giling yang sudah dijual di pasar-pasar tradisional bersamaan dengan bahan bumbu lain. Masyarakat kita masih belum terbiasa menggunakan cabai kering atau serbuk cabai yang mudah disimpan. Bahkan merica (lada) butiran masih lebih laku dibanding merica bubuk. Lain dengan di China dan India. Di sana masyarakatnya sudah terbiasa menggunakan cabai kering dan serbuk cabai untuk keperluan dapur sehari-hari. Hingga di China dan India tak pernah ada gejolak harga cabai.

    Restoran franchise multi nasional seperti McDonald’s, KFC, Pizza Hut, HokBen; tidak pernah terdampak kenaikan harga cabai; karena mereka menggunakan bumbu oleoresin. Penggunaan oleoresin cabai, lada, pala, cengkih dll; sebenarnya lebih untuk menjaga tingkat keseragaman rasa makanan di semua gerai di seluruh dunia. Selain itu mengirim oleoresin juga lebih murah dibanding mengirim raw material. Tanpa mereka sadari, penggunaan oleoresin juga menghindarkan gerai mereka dari terpaan gejolak harga cabai dan bahan bumbu lain; yang hampir semuanya merupakan tumbuhan tropis.

    Warung-warung tradisional, menyiasati gejolak harga cabai dengan mengubah perbandingan volume jenis cabai. Dalam keadaan normal, mereka akan lebih banyak menggunakan cabai keriting, dengan sedikit campuran cabai rawit merah. Ketika harga cabai melambung, volume cabai rawit merah justru mereka tambah. Hingga dengan penggunaan cabai keriting lebih sedikit, rasa pedas sambal, sayuran dan menu lainnya tetap terjaga. Kalau kita masuk ke warung tegal atau warung tenda lamongan, pas harga cabai tinggi sekarang ini; sambal mereka justru sangat pedas.

    Meraih Keuntungan Musim Hujan

    Pada musim penghujan, budidaya cabai beralih ke lahan kering dataran menengah dan tinggi. Kendalanya, budidaya cabai lahan kering pas musim hujan, rentan serangan hama dan penyakit. Mulai dari serangga thrips, kapang Fusarium dan bakteri Pseudomonas. Resiko gagal pada budidaya cabai musim hujan sangat tinggi. Salah satu cara untuk menanggulanginya dengan menggunakan sungkup plastik berkerangka bambu. Idealnya digunakan plastik ultra violet (UV). Tapi sebenarnya plastik bening yang biasa digunakan untuk taplak meja juga sudah cukup, karena fungsinya hanya untuk manahan air hujan.

    Sungkup berkerangka bambu melengkung itu dibuat setinggi 1 meter. Hingga orang dewasa masih bisa masuk ke dalamnya dengan jalan merunduk. Sungkup itu menaungi 2 guludan cabai. Plastik yang digunakan selebar 1,5 meter dobel, hingga ketika dipotong di satu sisinya akan menjadi selebar 3 meter. Panjang plastik gulungan ini bisa dipotong sesuai panjang guludan. Harga plastik bening meteran ini berkisar antara Rp 8.000 sampai dengan Rp 10.000 per meter bergantung ketebalannya. Membeli satu rol pasti lebih murah. Konstruksi sungkup akan lebih ideal apabila bisa dibuka ketika panas dan ditutup saat hujan/malam.

    Para petani Taiwan menggunakan sungkup plastik seperti ini untuk semua jenis tanaman semusim. Mulai dari cabai, tomat, kol, melon dll. Mereka justru tidak menggunakan mulsa plastik hitam perak. Sebagai gantinya mereka menggunakan mulsa jerami. Petani Indonesia masih terlalu boros. Sudah menggunakan sungkup plastik, masih digunakan mulsa plastik hitam perak. Padahal di dataran menengah dan tinggi, selain jerami juga bisa digunakan mulsa dari berbagai jenis gulma. Mulsa dari batang ranting dan daun kirinyuh, Chromolaena odorata. Selain sebagai mulsa, daun kirinyuh juga pupuk hijau yang cukup baik.

    Tetapi, yang utama, daun kirinyuh merupakan fungisida dan bakterisida alami, yang bisa mencegah berbiaknya jamur dan bakteri patogen di dalam sungkup plastik. Meskipun sungkup plastik bisa mencegah guyuran hujan terhadap tanaman cabai, tetapi udara dalam sungkup bisa lembap dan panas, hingga memicu tumbuhnya kapang dan bakteri patogen. Itulah perlunya sungkup dibuka saat matahari bersinar, agar fotosintesis berlangsung optimum dan udara dalam sungkup tak terlalu lembap/panas. Ujung plastik di dua sisi sungkup juga perlu diberi jarak cukup, untuk sirkulasi udara saat sungkup ditutup.

    Cabai besar/keriting mulai bisa dipanen pada 2,5 – 3 bulan. Panen akan terus berlangsung selama 2 bulan. Agar bisa panen pada bulan Desember, idealnya cabai dalam sungkup plastik ditanam pada bulan akhir September atau awal Oktober. Bulan Desember, saat harga cabai merayap naik, petani sudah panen. Panen akan terus berlangsung sampai dengan bulan Februari. Maret, ketika cabai dalam sungkup sudah berhenti berproduksi, harga cabai sudah akan berangsur turun. Investor biasanya akan mulai menanam saat harga cabai tinggi pada akhir Desember/awal Januari. Pas panen harga sudah turun. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontam
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *