KOMODITAS BUMBU UNTUK IKAN
by indrihr • 09/03/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di Pasar Singkawang, ada penjual salak merah, Salacca affinis. Saya beli semua sekitar dua kilogram. Si pedagang heran. Sampai hotel, saya cicipi salak merah itu dan ternyata masam luar biasa. Dua tiga kali saya ambil tetap sama masamnya.
Kembali ke Jakarta, saya cerita ke teman-teman, pengalaman saya membeli salak merah yang sangat masam itu. Salah seorang di antara mereka pernah lama tinggal di Singkawang, menertawakan saya. “Salak merah itu untuk bumbu masak ikan Pak. Bukan untuk dikonsumsi sebagai buah.” Pantas ketika saya bilang akan membeli semua, si penjual heran. Ikan dan produk perairan laut/darat, cepat sekali rusak, dan bau amis akibat bakteri pengurai protein di permukaan jaringan tubuh. Jeruk nipis, belimbing wuluh, asam jawa, dan salak merah akan menghilangkan bau amis dan mengembalikan aroma asli ikan.
Asam dalam buah-buahan itu akan mengikis lapisan protein yang telah tercemar bakteri. Lapisan berbau amis atau busuk yang dikikis asam itu kemudian larut dalam air. Lapisan luar ikan kembali bersih, kesat dan berbau segar. Sebenarnya selain dengan buah-buahan, bau amis ikan juga bisa dihilangkan dengan larutan cuka atau garam. Tetapi asam dari buah-buahan lebih ideal, karena cuka akan membuat ikan mudah gosong saat digoreng/dibakar, dan garam akan membuat ikan menjadi terlalu asin. Selain itu, jeruk nipis dan buah masam lainnya, akan menambah lezat citarasa ikan ketika dibakar, digoreng atau dibuat sup.
Dalam kenyataan sehari-hari, terjadilah ironi. Pulau-pulau kecil di luar Jawa yang kaya ikan; justru tak ada tanaman jeruk nipis dan buah-buahan penghasil rasa masam sebagai bumbu ikan. Kecuali di wilayah timur Indonesia, yang banyak ditumbuhi pohon asam. Jangankan pulau-pulau kecil yang berada jauh dari Pulau Jawa. Untung Jawa, merupakan salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, yang secara administratif masuk DKI Jakarta. Jarak dari Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang hanya 7,4 kilometer. Dengan perahu/kapal kelotok bisa ditempuh antara 20 – 30 menit.
Sebagian besar masyarakat Kepulauan Seribu berprofesi sebagai nelayan. Belakangan sektor pariwisata juga tumbuh dengan pesat. Investor masuk ke Pulau Bidadari, Ayer, Khayangan, Putri dan pulau-pulau lain yang kosong tanpa penduduk. Pulau-pulau berpenduduk padat seperti Untung Jawa, Lancang Besar, Pari, Tidung, Pramuka, Panggang, dan Kelapa; juga menjadi sasaran wisatawan. Yang datang ke pulau-pulau berpenduduk padat ini bukan hanya wisatawan “backpackers”, tetapi juga mereka yang berkantung tebal. Sektor wisata telah memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat Kepulauan Seribu.
Urban Farming
Pertumbuhan populasi dan ekonomi Kepulauan Seribu, direspon pemerintah dengan peningkatan status kawasan ini menjadi Taman Nasional sejak 10 Oktober 1982. Kemudian sejak 1999 kawasan Kepulauan Seribu ditetapkan pemerintah menjadi Kabupaten Administrasi. Sebelumnya, Kepulauan Seribu hanya berstatus kecamatan. Tapi ya itulah. Peningkatan status menjadi Taman Nasional dan Kabupaten Administrasi; tak banyak mengubah kemandirian masyarakat. Fasilitas listrik, air bersih, jaringan seluler memang langsung diadakan. Ada empat dermaga beton di Pulau Untung Jawa, sedangkan di Tanjung Pasir hanya ada satu dermaga pendaratan ikan.
Perahu reguler dari Kepulauan Seribu sehari-hari merapat di pasir pantai Tanjung Pasir. Penumpang naik dan turun meniti papan dan kadang harus masuk ke dalam air. Masyarakat di Kepulauan Seribu telah dimanjakan oleh sektor pariwisata, dan APBD DKI yang tahun 2022 ini mencapai Rp 82,47 triliun. Selama pandemi 2020 – 2021, sektor pariwisata Kepulauan Seribu ikut terpuruk. Apabila sektor perikanan dan pertanian ikut dibenahi, niscaya pandemi 2020 – 2021 tak akan berdampak terlalu buruk. Sektor perikanan bisa dibenahi antara lain dengan menghidupkan pengawetan ikan, terutama pengasapan.
Sektor pertanian hanya bisa dengan urban farming, mengingat tingkat kepadatan kampung dan desa di kawasan ini. Yang disebut urban farming tidak identik dengan hidroponik, terlebih hidroponik menggunakan pipa PVC. Prioritas utama menanam di tanah di halaman rumah. Prioritas kedua, apabila tak ada lahan terbuka, bertanam dalam pot, dengan wadah bahan bekas dan media tanam pasir serta kompos. Bukan mendatangkan media tanam dari Pulau Jawa. Selama ini bumbu ikan berupa buah masam, cabai, kunyit, lengkuas, jahe, semua didatangkan dari Jawa.
Pada dekade 1980, Malaysia pernah membenahi kampung nelayan miskin dan kumuh dengan cara cerdas. Secara simultan dibangun jalan, kios-kios masakan ikan, training menangani ikan segar dan memasaknya. Setelah tiga proyek ini selesai, wartawan dan seleb didatangkan ke lokasi ini. Minggu itu juga langsung ramai, tahun itu juga kesejahteraan nelayan meningkat. Tetapi ini terjadi di daratan Semenanjung Malaya; bukan di pulau-pulau kecil. Logistik berupa beras, sayuran, buah dan bumbu; bisa diangkut dengan mudah dan biaya murah, setelah jalan selesai dibangun.
Problematik pulau-pulau terpencil di Indonesia lebih kompleks. Jangankan pulau terpencil. Untung Jawa yang masuk wilayah DKI Jakarta, hanya 7,4 kilometer dari daratan Jawa, masih harus mendatangkan telur dan daging ayam serta bumbu-bumbu dari Jawa. Mestinya para wisatawan dipaksa utuk makan produk laut: ikan, udang, cumi, kepiting dan kerang. Tentu harus dibakar, digoreng, atau dibuat sup dengan enak. Agar bisa enak, perlu diberi bumbu yang pas. Idealnya, jeruk nipis, sereh, jahe dll, dipanen dari halaman rumah penduduk setempat, hingga pendapatan pemilik rumah bisa meningkat. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
