LAJA GOWAH YANG TERLUPAKAN
by indrihr • 04/04/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Laja gowah? Apa itu? Bahkan saat ditunjukkan foto close up bunga laja gowah; jawabnya: “Anggrek ya?” Bunga laja gowah memang mirip anggrek tanah. Padahal, laja gowah salah satu penghasil minyak asiri potensial.
Laja gowah lebih dikenal sebagai lengkuas malaka atau lengkuas hutan. Nama laja gowah (laja goah) berasal dari kosa kata Bahasa Sunda. Orang Jawa menyebutnya kamijara, lebih asing lagi. Nama botaninya Alpinia malaccensis. Laja gowah beda dengan lengkuas biasa, Alpinia galanga; juga lain dengan lengkuas merah Alpinia purpurata. Umbi laja gowah mirip dengan lengkuas biasa, hanya berukuran lebih besar. Selain dibudidayakan sebagai tanaman hias dan sumber bahan baku minyak asiri, laja gowah banyak tumbuh liar di hutan dataran rendah sampai menengah. Di alam laja gowah berkembang biak melalui biji.
Seluruh bagian tanaman laja gowah beraroma tajam. Aroma laja gowah campuran antara aroma lengkuas biasa dengan kecombrang (Etlingera elatior/Etlingera hemisphaerica). Kadang masyarakat pedesaan mengambil kuncup bunga laja gowah untuk disayur atau campuran sambal. Meskipun seluruh bagian tanaman beraroma tajam, yang biasa diambil disuling/diekstrak hanya rimpangnya. Harga minyak asiri laja gowah di tingkat konsumen antara Rp 30.000 sampai Rp 60.000 per kemasan 10 ml (Rp 3.- Rp 4 juta per liter). Harga di tingkat produsen sulit dilacak karena penyuling minyak laja gowah masih sangat terbatas.
Di Indonesia, minyak asiri yang paling banyak diproduksi minyak kayu putih, daun cengkih, biji pala muda, sereh wangi, akar wangi dan nilam. Produsen minyak asiri dari bahan rimpang empon-empon belum banyak. Termasuk minyak asiri dari rimpang laja gowah. Padahal agar ketel tetap produktif sepanjang tahun, diperlukan paling sedikit tiga bahan utama. Misalnya penyuling daun cengkih biasanya akan kekurangan bahan baku saat musim penghujan. Agar ketel tidak menganggur, mereka membudidayakan nilam dan sereh wangi, yang produktif justru pada musim penghujan.
Laja gowah hanya bisa dipanen rimpangnya pada musim kemarau. Hingga musim penghujan diperlukan daun nilam dan sereh wangi untuk disuling. Dengan kombinasi seperti itu, ketel akan terus produktif sepanjang tahun. Akan lebih ideal lagi selain laja gowah juga dibudidayakan komoditas penghasil rimpang lainnya seperti jahe emprit (Zingiber officinale), lempuyang wangi (Zingiber zerumbet), jeringau (Acorus calamus). Dalam bisnis minyak asiri, semakin bervariasi produk yang dihasilkan, akan semakin aman secara finansial. Selain ketel bisa terus beroperasi sepanjang tahun, saat harga komoditas utama jatuh, akan ditopang oleh komoditas pendamping.
Aspek Pasar
Di Indonesia ada dua pelaku besar bisnis minyak asiri, yakni Jasula Wangi dan Indesso Aroma. Di luar dua perusahaan ini, ada puluhan pelaku bisnis minyak asiri skala menengah dan kecil. Mereka akan siap menampung produk minyak asiri apa pun. Harga sangat bergantung ke kualitas produk, dan ketersediaan barang di tingkat dunia. Saat stok barang di tingkat dunia melimpah, harga akan turun. Ketika ketersediaan di tingkat dunia menurun, harga akan naik. Tahun 2005 – 2010; harga minyak nilam dunia naik tajam. Petani bergairah untuk membudidayakannya. Sebab tahun 2004, pelaku bisnis nilam Aceh, banyak yang menjadi korban tsunami.
Laja gowah termasuk minyak asiri dengan volume produksi sangat kecil. Harga minyak laja gowah relatif lebih stabil dibanding nilam, kayu putih atau minyak daun cengkih. Yang disebut minyak asiri (minyak terbang), adalah minyak hasil destilasi atau ekstraksi bagian tumbuh-tumbuhan. Misalnya daun (nilam, sereh wangi, kayu putih, cengkih); bunga (kenanga, ylang-ylang, melati, mawar); biji (adas, pala, lada); kulit kayu (kayu manis); kayu (cendana, sintok); akar (akar wangi); rimpang (jahe, lempuyang, laja gowah). Selain minyak asiri, juga dikenal minyak nabati (kelapa, sawit); lateks (karet) dan resin (kemenyan, damar, gondorukem).
Di pasar dunia, minyak asiri merupakan bahan baku parfum, industri farmasi, industri essens, dan pestisida. Industri makanan, minuman, dan rokok penyerap minyak asiri dalam bentuk essens yang cukup besar. Indonesia masih mengimpor essens karena produksi dalam negeri masih belum mencukupi. Misalnya minyak jeringau untuk industri minuman dan rokok. Kita masih unggul sebagai produsen minyak kayu putih, daun cengkih dan nilam. Sereh wangi sudah diambil alih Sri Lanka dan akar wangi kita kalah dari Haiti serta Mauritius. Kita juga pernah menjadi penghasil minyak kenanga utama dunia, kemudian merosot dan belum tergantikan.
Laja gowah hanyalah salah satu dari sekian banyak tanaman penghasil minyak asiri di Indonesia. Produsen minyak laja gowah dunia justru bukan Indonesia melainkan India dan Malaysia. Habitat asli laja gowah menyebar dari India, Indochina, Semenanjung Malaya, sampai ke Jawa. Nama botani laja gowah Alpinia malaccensis diberikan oleh William Roscoe tahun 1807. Roscoe meneliti ulang karya Nicolaas Laurens Burman tentang laja gowah tahun 1768. Burman mengira laja gowah tumbuhan genus Maranta, suku Marantaceae, hingga tahun 1768 ia menamakannya Maranta malaccensis.
Khusus di Semenanjung Malaya, terdapat Alpinia malaccensis var. nobilis. Varietas ini ditemukan oleh Ian Mark Turner tahun 1996. Turner meneliti ulang temuan Henry Nicholas Ridley tahun 1899. Ridley mengira laja gowah yang ditemukannya di Semenanjung Malaya merupakan spesies tersendiri, karena bunganya lebih besar dengan bentuk agak berbeda. Karenanya ia memberi nama laja gowah Semenanjung Malaya ini Alpinia nobilis. Setelah meneliti ulang temuan Ridley, Turner menemukan bahwa laja gowah Semenanjung Malaya hanya varian dari Alpinia malaccensis. Lalu ia memberinya nama Alpinia malaccensis var. nobilis. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
