BAYAM BELANDA JADI GINSENG MERAH KOREA
by indrihr • 18/04/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Sejak 2019, bayam belanda, buah tinta, pokeweed, Phytolacca americana; telah dijual sebagai “ginseng merah korea”. Banyak yang percaya, termasuk media massa Indonesia. Kaidah baku jurnalistik check and recheck, telah diabaikan.
Yang telah terkecoh oleh bayam belanda dan memberitakannya sebagai ginseng merah korea antara lain Kompas https://www.kompas.com/tag/petani-di-banyuwangi-tanam-gingseng-merah-korea; Detik https://www.detik.com/jatim/bisnis/d-5905698/petani-banyuwangi-sukses-budidaya-ginseng-merah-raup-rp-200-juta-per-bulan; Liputan 6 https://surabaya.liputan6.com/read/4584991/gingseng-merah-korea-bisa-tumbuh-di-banyuwangi-ini-resepnya; dan Warta Tani https://www.wartatani.co/9896/inspirasi/sukses-petani-ginseng-merah-di-banyuwangi-berpenghasilan-rp-200-juta-per-bulan/.
Padahal bayam belanda bukan ginseng dan bukan berasal dari Korea. Tumbuhan ini asli Amerika Utara, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di sini, bayam belanda banyak tumbuh liar di elevasi 2.000 meter dpl. Sebab habitat aslinya kawasan sub tropis yang dingin. Spesies ini hampir tidak mungkin tumbuh di dataran rendah. Lain dengan gulma tinta, inkweed, Phytolacca octandra; “saudara satu genus” yang juga berasal dari Amerika Utara, dan juga sudah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Gulma tinta banyak tumbuh di dataran rendah/menengah, dan daun mudanya sering dipetik sebagai sayuran.
Genus Phytolacca, suku Phytolaccaceae, terdiri dari 24 spesies, berasal dari Amerika Utara, Amerika Selatan dan Asia Timur. Phytolacca americana disebut bayam belanda karena spesies ini dibawa ke Kepulauan Nusantara oleh Bangsa Belanda. Kadang, gulma tinta juga disebut salah sebagai “bayam belanda”. Sebutan untuk dua spesies Phytolacca ini berbeda-beda di masing-masing daerah. Kadang nama bayam belanda di satu desa berbeda dengan sebutan untuk tumbuhan yang sama di lain desa. Bayam belanda juga menghasilkan umbi seperti halnya ginseng korea. Inilah yang membuat banyak orang terkecoh.
Tumbuhan yang diklaim sebagai “ginseng” tidak hanya bayam belanda. Dekade 1970 kolesom, som, Talinum fruticosum; dan kolesom jawa, som jawa, Talinum paniculatum; juga diberitakan sebagai “ginseng”.Padahal dua tumbuhan ini berasal dari Amerika Selatan, dan sudah menyebar ke seluruh dunia; termasuk Indonesia. Dekade 1980 makin ramai orang membudidayakan kolesom dan kolesom jawa; karena umbinya dipromosikan bisa laku dengan harga tinggi. Dua spesies Talinum suku Talinaceae ini paling awet menyandang sebutan ginseng. Sampai sekarang pucuk kolesom bisa dijumpai di gerai swalayan dengan lebel “daun ginseng”.
Genus Panax
Ginseng asli, ginseng korea, Panax ginseng; kadang juga disebut ginseng china atau ginseng asia. Sebab habitat aslinya tersebar mulai dari kawasan Siberia di Rusia, China, Semenanjung Korea dan Kepulauan Jepang. Meskipun sebaran Panax ginseng sangat luas, spesies ini dibudidayakan secara intensif pertamakali di Semenanjung Korea. Itulah sebabnya spesies ini kemudian lebih dikenal sebagai “ginseng korea”. Sampai sekarang Panax ginseng belum pernah bisa dibudidayakan di Indonesia. Jangankan di Indonesia; budidaya di luar Korea pun, kualitas produknya tidak akan sebaik yang ditanam di Korea.
Genus Panax, suku Araliaceae terdiri dari 12 spesies; yang semuanya merupakan tumbuhan sub tropis. 1 Panax bipinnatifidus, Pegunungan Himalaya; 2 Panax ginseng, Rusia, China, Korea dan Jepang; 3 Panax japonicus, Korea dan Jepang; 4 Panax notoginseng, China (Yunnan) dan Vietnam; 5 Panax pseudoginseng, Tibet dan Nepal; 6 Panax quinquefolius, AS dan Kanada; 7 Panax sokpayensis, India; 8 Panax stipuleanatus, China (Yunnan) dan Vietnam; 9 Panax trifolius, AS dan Kanada; 10 Panax vietnamensis, Indochina; 11 Panax wangianus, China (Sichuan); 12 Panax zingiberensis, China (Yunnan) dan Vietnam.
Dari 12 spesies Panax, yang paling banyak dibudidayakan Panax ginseng. Menyusul kemudian Panax notoginseng dan Panax quinquefolius. Tahun 2022, harga ginseng kering sekitar 90,55 dolar AS (Rp 1.267.700) per kilogram. Ini harga ginseng produk massal. Kalau diberi embel-embel “liar”, harganya akan naik sekitar 483 dolar AS (Rp 6.762.000) per kilogram. Ketika diberi embel-embel umur 100 tahun, harganya akan melambung jadi fantastis. Tahun 2012, ginseng liar umur 100 tahun seberat 30 gram, laku terjual dengan harga 430.000 dolar AS (Rp 6 miliar). Mengapa harga ginseng bisa setinggi itu?
Karena bonggol ginseng kering itu dipercaya bisa membuat umur panjang, meningkatkan gairah seks, menyembuhkan aneka penyakit termasuk kanker. Padahal sampai sekarang, berbagai penelitian farmakologi, tidak menemukan korelasi antara ginsenosides yang terkandung dalam akar ginseng, dengan aneka khasiat yang selama ini dipercaya oleh publik. Satu-satunya dampak setelah seseorang mengonsumsi ginseng hanyalah efek tonik. Merasa lebih bugar dibanding sebelum mengonsumsinya. Beberapa penelitian bahkan menganjurkan agar konsumsi ginseng dibatasi kurang dari enam bulan secara terus-menerus agar efek sampingnya tak merusak kesehatan.
Bayam belanda sebenarnya juga tumbuhan beracun. Beda dengan gulma tinta yang selama ini dikenal sebagai sayuran. Tahun 2020 saya pernah mengingatkan seorang teman, yang gencar mempromosikan bayam belanda sebagai “ginseng merah korea” yang ia peroleh bibitnya langsung dari Korea. Kepada media massa, petani “ginseng abal-abal” dari Banyuwangi ini juga menyebutkan bahwa ia mendatangkan benih ginseng merah ini sebanyak 2.500 biji langsung dari Korea. Tak tahu apakah dia yang ngibul, atau ia pun ditipu pedagang benih. Sebab di lereng Gunung Merapi, Ijen, dan Raung di Kabupaten Banyuwangi, bayam belanda itu tumbuh liar dengan biji puluhan bahkan ratusan ribu butir. # # #.
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
