• PEPAYA KALIFORNIA DAN VIRUS BERCAK CINCIN

    by  • 09/05/2022 • Uncategory • 0 Comments

    Sejak tahun lalu kualitas pepaya di kios buah, pasar dan warung menurun tajam. Bentuk, ukuran, warna kulit dan juga rasa daging buahnya jauh di bawah standar. Bahkan pada awal 2022 pepaya sempat menghilang dari pasar seperti halnya minyak goreng.

    Bedanya, produksi pepaya memang nyaris nol dan tak ada pihak yang menggorengnya hingga menjadi isu politik. Anehnya, meski pasokan menjadi lebih kecil dari permintaan; harga pepaya tetap biasa, tidak naik. Konsumen beralih ke buah-buahan lain. Pepaya berada di peringkat 7 dari 10 besar buah-buahan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 10 besar produksi buah-buahan Indonesia (2020 dalam ton): 1 Pisang 8.182.756; 2 mangga 2.898.588; 3 jeruk siam/keprok 2.593.384; 4 nanas 2.447.243; 5 salak 1.225.088; 6 durian 1.133.195; 7 pepaya 1.016.388; 8 nangka/cempedak 824.068; 9 rambutan 681.178; 10 avokad 609.049.

    Pepaya langka di pasaran, karena areal tanaman di sentra produksi telah rusak parah akibat virus bercak cincin, papaya ringspot virus (PRSV) genus Potyvirus. Ada dua biotipe utama virus bercak cincin. Pertama Potyvirus “Tipe P” (VRP-P), menginfeksi pepaya dan melon (suku Cucurbitaceae). Kedua Potyvirus “Tipe W” (VRP-W), yang hanya menginfeksi suku Cucurbitaceae seperti semangka, melon dan timun. Virus kedua ini pada awalnya dikenal sebagai virus mozaik semangka. Potyvirus “Tipe P” pertamakali diketemukan menginveksi pepaya dan melon di Pulau Miyako, Jepang tahun 1991.

    Dalam waktu singkat virus bercak cincin menyebar ke seluruh dunia dan menginveksi tanaman pepaya. Di kawasan tropis, serangan virus bercak cincin menjadi lebih mematikan dibanding di kawasan sub tropis. Sebab di kawasan tropis, budidaya pepaya berlangsung terus-menerus sepanjang tahun. Sedangkan di kawasan sub tropis budidaya pepaya terhenti selama musim dingin. Penyebaran virus bercak cincin berlangsung melalui benih, peralatan kerja, dan terutama disebarkan oleh serangga hama, seperti kutu daun (aphid) dan thrips. Selain itu buah pepaya, daun dan bunga sebagai sayuran juga ikut mempercepat penyebaran virus.

    Tanaman pepaya yang terserang virus akan tampak mengeriting dan tumbuh kerdil. Pada kulit buah tampak adanya bercak berbentuk cincin. Para petani biasanya merasa sayang untuk mengeradikasi tanaman yang telah terinveksi. Kecenderungan ini juga ikut mempercepat dan memperparah serangan virus ke hampir semua sentra pepaya di seluruh dunia. Areal pepaya yang masih selamat, justru yang berskala kecil dan berada di luar sentra pepaya, dengan produksi yang terbatas. Dari para petani kecil di luar sentra produksi itulah selama ini pasar mendapatkan suplai. Sebab suplai dari sentra pepaya sangat terhambat.

    Kultivar Kalifornia

    Sejak dekade 2000, pasar pepaya Indonesia didominasi oleh kultivar kalifornia. Sebelumnya yang ada di pasaran kultivar bangkok, yang selama dua dekade (1980 –1990) merajai pasar pepaya Indonesia. Pada dekade 1970 para petani hanya mengenal kultivar cibinong. Pada dekade 1990 pernah diperkenalkan kultivar hawaii; tetapi konsumen tidak menyukainya. Kultivar cibinong berbentuk memanjang dengan ujung runcing, berukuran sedang dengan daging buah kuning dan manis. Kultivar bangkok berukuran besar, dengan bentuk membesar di bagian tengah agak ke ujung, daging buah merah dan manis.

    Kultivar kalifornia berukuran sama dengan kultivar cibinong, tetapi dengan bagian pangkal tengah dan ujung yang tumpul berukuran hampir sama. Daging buah kuning dan manis. Kelebihan kultivar kalifornia, rongga buah yang berisi biji sangat kecil. Hingga dalam tiap buah, persentase daging buahnya lebih banyak dibanding kultivar cibinong dan bangkok. Salah satu kelemahan kultivar bangkok, apabila benih diambil dari biji buah hasil panen, ukuran akan mengecil, dengan rongga buah yang semakin besar. Kadang buah sama sekali tak berbiji, tetapi dengan daging buah tipis, dan rasa hambar.

    Meski disebut kultivar kalifornia, jenis pepaya ini hasil pemuliaan Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, Guru Besar dan peneliti Pusat Kajian Buah Tropika, Institut Pertanian Bogor (IPB).
    Dari hasil seleksi dan penyilangan berbagai kultivar pepaya di Indonesia, tahun 2001 Prof. Sriani mendapatkan lima kultivar unggul: arum, prima, carisya, sukma dan callina. Dari lima kultivar unggulan itu, yang paling disukai konsumen kultivar callina. Kultivar itulah yang kemudian menyebar ke para petani dan berubah nama dari callina menjadi kalifornia. Sejak itulah kultivar bangkok pelan-pelan menghilang dari pasar.

    Sentra-sentra pepaya di seluruh Indonesia kemudian hanya membudidayakan kultivar kalifornia secara monokultur dan terus-menerus. Penyebab mewabahnya virus bercak cincin pada pepaya; bukan hanya disebabkan oleh kultivar kalifornia yang rentan penyakit; melainkan juga pola budidaya. Tanaman pepaya kalifornia yang berada di tengah tanaman lain, selamat dari serangan virus. Tetapi tak ada petani yang membudidayakan pepaya secara tumpangsari. Semua monokultur, dengan tingkat kerapatan tinggi. Ketika satu tanaman terserang virus, dalam waktu cepat semua tanaman di areal kebun terinveksi.

    Solusi untuk mengatasi virus bercak cincin, sebenarnya mudah. Kalau masih tetap ingin membudidayakan kultivar kalifornia, harus menggunakan benih baru dari perusahaan pembenih profesional. Areal tanam pindah ke lain lokasi yang jauh dari lokasi penanaman sebelumnya. Tumpangsarikan pepaya dengan tanaman budidaya lain, misalnya jagung, atau kacang-kacangan. Setelah satu musim tanam selesai, rotasi lahan dengan tanaman lain minimal selama satu tahun. Kalau ingin tetap menanam pepaya di lahan lama, tanami terlebih dahulu dengan komoditas lain, baru ditanami pepaya dengan kultivar bukan kalifornia. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *