• IDULFITRI 2022 MAWAR TABUR KEMBALI BANGKIT

    by  • 06/06/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Sejak Maret 2022, bertepatan dengan awal Ramadan 1443 H, para petani kembali memanen mawar tabur mereka. Setelah pemerintah memutuskan masyarakat diperbolehkan mudik lebaran, harga mawar tabur semakin melambung.

    Selama dua tahun pandemi, 2020 dan 2021, para petani mawar tabur Bandungan dan Pakis, tak pernah memanen komoditas mereka. Penghasil mawar tabur Bandungan, tersebar di tiga kecamatan, yakni Bergas, Bandungan, dan Sumowono, Kabupaten Semarang, elevasi 800 – 1000 m. dpl, di lereng Gunung Ungaran. Penghasil mawar tabur Pakis juga tersebar di tiga kecamatan, yakni Grabag, Pakis, dan Sawangan, Kabupaten Magelang, dengan elevasi 800 – 1000 m. dpl di lereng Gunung Merbabu. Mawar tabur di dua sentra di Jawa Tengah ini dibudidayakan sebagai pembatas terassering lahan.

    Desember 2021, para petani di dua sentra mawar tabur ini kompak memangkas tanaman mawar mereka. Dugaan mereka, lebaran 2022 pemerintah akan mengizinkan masyarakat untuk mudik. Sebab jumlah kasus baru dan meninggal Covid-19 terus menurun pada tahun 2022. Mawar yang dipangkas pada bulan Desember 2021, pada bulan Maret 2022 akan serentak mengeluarkan bunga sampai dengan Awal Mei 2022. Prediksi para petani mawar ini benar. Pemerintah mengizinkan masyarakat untuk mudik. Bagi masyarakat Jawa, mudik juga berarti ziarah makam, dan ziarah makam wajib membawa mawar tabur.

    Sejak menjelang Ramadan pada akhir Maret 2022, harga mawar tabur yang sebelumnya Rp 10.000 per keranjang kecil, naik menjadi Rp 50.000. Keranjang tanggung yang sebelumnya Rp 25.000 naik jadi Rp 100.0000; dan keranjang besar yang sebelumnya Rp 50.000 menjadi Rp 300.000. Rata-rata harga mawar tabur selama menjelang lebaran sampai dengan Idulfitri Rp 200.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp 50.000 per kilogram. Harga ini masih termasuk wajar, karena tahun 2018 harga mawar tabur pernah melambung sampai Rp 350.000 per kilogram sebagai dampak dari kemarau panjang tahun 2017 dan 2018.

    Tradisi ziarah makam di Pulau Jawa hampir selalu mensyaratkan bunga tabur. Bahkan ziarah ke tempat-tempat yang bukan makam pun, misalnya mata air, pohon/batu besar, pantai, sungai dan puncak gunung juga memerlukan bunga. Bedanya, di tempat ziarah yang bukan makam, bunga tabur ini tetap dibiarkan berada dalam bungkus daun pisang. Khusus untuk ziarah makam di Jawa Tengah, selain mawar tabur, juga digunakan ikatan bunga selasih. Dulu, selain mawar dan selasih juga wajib ada kenanga dan kantil meski hanya beberapa kuntum. Dulu, ziarah makam juga disertai membakar kemenyan.

    Kultivar dari Rosa chinensis

    Mawar sebagai bunga tabur di makam merupakan tradisi khas Kepulauan Nusantara. Mawar tabur dipetik saat telah mekar, dekat dengan pangkal kelopak bunga, dengan hanya mengikutkan sedikit tangkai. Di kawasan lain, mawar dipetik dengan mengikutkan ranting dan daunnya, lalu diikat menjadi rangkaian. Tetapi karena tingginya harga, bunga mawar hanya dikemas satu tangkai dengan satu kuntum bunga yang belum mekar. Biasanya mawar merah. Di Indonesia mawar untuk rangkaian diproduksi oleh Nirmala Rose (Unilever) di Gunung Halimun, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

    Selain mawar tabur dan rangkaian, masih ada lagi mawar pagar, yang tanamannya menjalar dan merambat ke tanaman lain, gazebo, atau pagar. Bunga mawar pagar biasanya kecil-kecil, tidak harum, tetapi dalam satu ranting ada belasan kuntum. Beda dengan mawar rangkaian yang dalam satu ranting sengaja hanya dibiarkan satu kuntum bunga yang tumbuh. Sebagian besar spesies mawar merupakan tumbuhan sub tropis. Karenanya di Indonesia, mawar banyak dijumpai tumbuh di kawasan pegunungan, dengan elevasi antara 600 – 2000 meter dpl. Hanya sebagian kecil spesies mawar yang bisa beradaptasi dengan agroklimat dataran rendah.

    Di seluruh dunia tercatat ada 366 spesies mawar, dengan ribuan hibrida dan kultivar. Sebanyak 95 spesies mawar berasal dari Asia, 18 spesies dari Amerika dan 12 spesies dari Afrika serta Eropa. Hingga tidak benar anggapan bahwa mawar merupakan bunga bangsa Eropa. Mawar tabur warna merah dan putih yang biasa digunakan untuk ziarah makam, merupakan kultivar dari Rosa chinensis. Diduga mawar jenis ini sudah dibudidayakan di Kepulauan Nusantara sejak zaman Hindu. Dugaan ini didasarkan pada bentuk ragam hias simetris pada candi sebagai relief non cerita, yang mengacu pada mawar dan melati.

    Rosa chinensis juga disebut sebagai mawar Tiongkok. Sebaran Rosa chinensis mulai dari daratan Tiongkok sampai India, Myanmar dan Thailand utara yang sudah tropis. Karenanya mawar tabur mudah beradaptasi dengan iklim tropis. Di pulau Jawa mawar tabur bisa dibudidayakan di dataran rendah sekitar Jakarta, meskipun dengan produktivitas rendah. Selain warna magenta dan putih, kultivar Rosa chinensis juga berwarna merah, pink, oranye, kuning dan kehijauan. Hibrida Rosa chinensis menghasilkan bunga dengan varian warna lebih beragam lagi dengan gradasi putih ke merah, kuning, pink dan oranye.

    “Kebangkitan bisnis mawar tabur sejak awal Ramadan sampai Idulfitri 2022, menandai kembalinya kehidupan normal setelah selama dua tahun masa pandemi. Selama itu pula agroindustri bunga yang terkait dengan aktivitas pariwisata, pesta dan hajatan; langsung terpuruk. Satu-satunya harapan agroindustri bunga hanya untuk rangkaian ucapan duka cita. Sebab selama pandemi hanya aktivitas pemakamanlah yang memerlukan bunga. Sementara pesta pernikahan, serta acara-acara kelembagaan yang biasanya diselenggarakan di hotel dan gedung pertemuan dan memerlukan banyak bunga, selama pandemi juga terhenti. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *