• GELIAT BISNIS BUNGA PASKA PANDEMI

    by  • 16/08/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Sabtu, 16 Juli 2022, pukul 05.00 saya turun dari Hotel New Bandungan Indah milik PT Kereta Api, menuju Pasar Bunga Bandungan. Dulu pasar yang hanya ramai dari pukul 04.00 – 08.00 ini berlokasi di depan kantor kecamatan. Sekarang direlokasi di tepi jalan ke arah Ambarawa.

    Pukul 05.00 pasar khusus bunga itu sudah ramai. Para petani memanen bunga mereka pada sore hari, atau dini hari, lalu membawanya ke pasar khusus ini. Pembelinya pedagang dan floris. Selama pandemi aktivitas di pasar ini menurun, tetapi tidak sampai terhenti sama sekali. Sebab selama pandemi kebutuhan bunga untuk rangkaian ucapan duka cita korban Covid-19 justru tinggi. Yang terhenti rangkaian bunga untuk pesta pernikahan, ulang tahun, gereja, seminar/rapat dan hotel. Tampaknya, aktivitas pesta pernikahan, ulang tahun dll. mulai ramai lagi pada 2022.

    Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah; dikenal sebagai salah satu sentra bunga di Indonesia. Sebelum dekade 1980, Bandungan dikenal sebagai produsen lily paskah (lily putih, Lilium longiflorum) satu-satunya di Indonesia. Lily paskah ini ditanam petani di lereng terasering ladang, bersama mawar tabur, singkong, keladi dll. Lily paskah itu tumbuh secara alami tanpa perlakuan apa pun. Tiap kali keluar bunga, petani memanennya. Sejak dekade 1990, lily paskah juga dibudidayakan di dataran tinggi Ijen, Jawa Timur dan Bali. Jawa Barat pernah mencoba membudidayakan lily paskah, tetapi hasilnya tak sebaik di Ijen dan Bali.

    Selain bunga potong, Bandungan juga penghasil mawar tabur, bersama dengan Kecamatan Grabag di Kab. Magelang. Menjelang Ramadan dan Idulfitri 2022 para petani mawar tabur Bandungan juga Grabag panen raya, setelah selama dua tahun “puasa” akibat pandemi. Beda dengan bunga potong dengan pasar masyarakat menengah ke atas, mawar tabur dipakai oleh semua lapisan masyarakat. Selain untuk ziarah makam, mawar tabur juga digunakan dalam upacara pemakaman dan sesaji. Di Jabodetabek, harga mawar tabur sangat tinggi, hingga disubstitusi dengan bunga pacar air.

    Pasar bunga Bandungan tak hanya menampung produk petani bunga di Kecamatan Bandungan, melainkan juga dari Kecamatan Bergas dan Kecamatan Sumowono. Sekarang petani bunga di Kecamatan Bergas dan Sumowono, bahkan lebih banyak dibanding di Kecamatan Bandungan sendiri. Sebab para petani di Kecamatan Bandungan banyak yang alih profesi ke sektor pariwisata. Baik sebagai pedagang makanan dan cenderamata, maupun sebagai penyedia jasa naik kuda. Selama pandemi, aktivitas wisata di Bandungan benar-benar terhenti. Sedangkan komoditas bunga masih berjalan meski dengan volume menurun.

    Krisan dan Mawar Jawara

    Di Indonesia, krisan masih tetap sebagai “jawara” bunga potong nasional. Disusul mawar, sedap malam, gerbera dan anggrek. Data BPS 2019, produksi krisan nasional mencapai 465,3 (juta tangkai); menyusul mawar 213,9; sedap malam 123,5; gerbera 33,0 dan anggrek 18,6. Tahun 2020 produksi krisan nasional turun menjadi 383,4; mawar 147,6; sedap malam 115,1; gerbera 13,0 dan anggrek 11,6. Tahun 2021 produksi krisan nasional 344,0; mawar 129,6 sedap malam 122,8; anggrek 11,3 dan gerbera 10,5. Yang bernasib tragis gladiol dan anyelir. Tahun 2019 produksi gladiol 1,9 juta tangkai; anyelir 1,8.

    Tahun 2020 produksi gladiol nasional justru naik jadi 2,4 dan anyelir turun jadi 1,4. Tetapi pada 2021 produksi gladiol dan anyelir masing-masing nol. Tampaknya gladiol dan anyelir telah bergeser menjadi bunga yang sangat elite, hingga selama pandemi permintaan atas dua jenis bunga ini sama sekali terhenti. Ini terbalik dibanding sebelum dekade 1990. Waktu itu gladiol justru bunga yang murah meriah dan diproduksi massal. Krisan yang diproduksi di Indonesia masih sebatas krisan tunggal yang bernilai sangat tinggi, karena dibudidayakan di bawah naungan dan tunas sampingnya rutin dibuang.

    Sebelum dekade 1990, anyelir tidak terlalu laku. Waktu itu yang banyak dibudidayakan justru calla lily. Sekarang calla lily hanya dibudidayakan secara terbatas, karena konsumennya sangat kecil. Selera konsumen bunga memang terus berkembang dari satu dekade ke dekade selanjutnya. Dulu masyarakat lapis bawah senang aster. Warna-warni aster memang seronok, dan budidayanya juga mudah serta murah. Dulu aster dibudidayakan secara massal menjelang lebaran. Sebab tiap lebaran, di meja-meja rakyat wajib dipasang bunga aster warna-warni, terutama pink, kuning dan putih.

    Dekade 1980, benih, teknologi dan modal budidaya krisan modern dari Negeri Belanda masuk ke Indonesia. Benih dan teknologi budidayanya dari Aalsmeer, modalnya dari Rabobank. Sebenarnya waktu itu yang masuk Indonesia bukan hanya krisan, tapi juga mawar, lily paskah, anthurium dll. Tetapi yang benar-benar berkembang secara massal hanya krisan. Padahal budidaya krisan perlu green house dan lampu untuk memperpanjang hari. Lampu diperlukan krisan agar tumbuh kompak dan tidak cepat berbunga. Pada menjelang berbunga, lampu justru dimatikan. Tanpa lampu tangkai krisan akan tumbuh memanjang dan lentur, tidak kekar.

    Pada dekade 1980, budidaya krisan modern hanya berkembang di jalur puncak. Tak lama kemudian masuk ke Bandungan, Jateng; Batu dan Nongkojajar, Jatim. Dekade 2000 budidaya krisan melebar ke Bedugul (Bali), Tomohon (Sulut), Berastagi (Sumut) dan Malinau (Sulsel). Sekarang krisan sudah ada di mana-mana sebagai bunga paling murah. Yang tetap konsisten sedap malam. Dari dulu bunga ini disenangi masyarakat lapis bawah dan menengah, karena aroma wanginya. Sampai paska pandemi sekarang ini, sedap malam tetap eksis. Posisi sedap malam malah naik ke peringkat tiga setelah krisan dan mawar. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *