• PENGAWETAN KAYU

    by  • 22/08/2022 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Bagaimanakah cara pengawetan kayu, bambu dan rotan agar tidak diserang hama bubuk, kutu kayu dan rayap? Sebab sekarang harga kayu cenderung makin tinggi karena yang memerlukan banyak, produksi makin sedikit. (Ricky, Yogyakarta).

    Sdr. Ricky, ada jenis kayu yang tidak perlu diawetkan, karena tingkat kekerasan, kekuatan dan keawetannya sangat tinggi. Misalnya kayu ulin, kayu hitam sulawesi, kayu sana keling, johar dll. Kayu-kayu itu sedemikian keras dan kuatnya hingga tak akan pernah diserang hama bubuk, kutu kayu maupun rayap. Bahkan terkena hujan serta panas pun kayu-kayu itu tidak akan lapuk. Kayu jati tidak terserang bubuk dan kutu kayu, tahan terhadap pelapukan; tetapi masih bisa dimakan rayap.

    Ada pula kayu surian yang sebenarnya lunak, tetapi tak akan diserang bubuk, kutu dan rayap, karena dalam jaringan kayunya ada zat surenon, surenin, dan surenolakton yang merupakan racun bagi serangga. Tetapi daya tahan kayu surian terhadap pelapukan tidak sekuat kayu jati. Hingga sebaiknya kayu surian tidak digunakan untuk konstruksi luar ruang yang tak ternaungi atap. Kayu surian termasuk yang tidak perlu diawetkan karena secara alamiah tidak akan terserang serangga hama/perusak kayu.

    Secara tradisional, masyarakat mengawetkan kayu bahan bangunan dengan mengeringkan, memprosesnya hingga siap pasang sebagai kerangka bangunan, lalu merendamnya dalam lumpur selama minimal tiga bulan. Setelah direndam, kayu diangkat, dibersihkan, dijemur atau diangin-anginkan baru dipasang sebagai kerangka bangunan. Meskipun tidak dilapis ter atau dicat, kayu yang direndam lumpur ini akan awet sampai puluhan tahun. Terlebih kayu sebagai kerangka dapur yang akan terkena asap setiap hari.

    Khusus bambu sebagai bahan bangunan atau dinding rumah (gedek), ditebang ketika dalam rumpun itu rebung sudah tumbuh menjadi individu tanaman baru. Saat itulah cadangan gula dalam batang bambu induk sudah habis karena digunakan untuk menumbuhkan rebung menjadi batang bambu muda. Hingga pori-pori bambu tua yang sebelumnya berisi gula, menjadi kosong. Setelah dipotong dan dibelah sesuai pemanfaatan kemudian dijemur, bambu itu juga direndam dalam lumpur sekitar tiga bulan. Rongga yang dulunya berisi gula, akan dimasuki molekul lumpur.

    Dalam industri kayu modern, kayu gelondongan dipotong dan dibelah sesuai pemanfaatan. Setelah itu kayu dipres dan dioven hingga tidak melengkung atau bengkok. Kayu olahan kering ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki untuk divakum hingga udara dalam molekul kayu keluar semua. Setelah itu dimasukkan uap pestisida ke dalam tangki, hingga ruang dalam molekul kayu akan terisi pestisida. Kayu-kayu olahan yang telah diberi pestisida ini akan tahan serangan bubuk, kutu kayu dan rayap, tetapi belum tentu tahan terhadap pelapukan.

    Agar tahan terhadap pelapukan, ke dalam tangki pengawetan kayu yang telah hampa udara itu dimasukkan zat pengawet pelapukan, berupa resin, terpentin, ter atau bahan lain. Hingga yang terlapisi bahan pengawet bukan hanya bagian permukaan melainkan juga jaringan kayunya. Meskipun sudah diawetkan dengan cairan anti pelapukan, kayu-kayu lunak tetap jangan digunakan sebagai konstruksi luar. Sebab daya tahan kayu lunak yang telah dilapisi zat anti pelapukan, juga relatif terbatas.

    Indonesia selama ini juga dikenal sebagai eksportir meubel kayu dan rotan. Negara pengimpor, umumnya memberlakukan persyaratan pengawetan sesuai dengan ketentuan negeri bersangkutan. Meubel bambu masih perlu “disuntik” dengan styrofoam cair hingga mengisi semua rongga dalam ruas bambu. Dengan cara itu bambu utuh tetap ringan, tetapi rongga di dalamnya telah menjadi masif terisi styrofoam. Rotan karena tak berongga cukup dengan direndam cairan pengawet seperti halnya kayu bahan bangunan. Cairan pengawet akan masuk melalui ujung dan pangkal potongan rotan.

    Tidak semua olahan kayu diawetkan. Kayu lapis, multipleks, soft board, hard board, Medium Density Fiberboard (MDF) dan barecore; diproduksi tanpa melalui pengawetan seperti pada kayu belahan/potongan. Proses pengeringan, pengeleman dan pengepresan telah mambuat kayu olahan itu tidak disukai bubuk dan kutu kayu. Meskipun rayap tetap masih mau memakannya. Kayu-kayu olahan juga tak tahan air yang akan mengakibatkan ikatan lem lepas dan kayu kembali terurai menjadi serat, serutan atau potongan.

    Sekarang, kayu dan bambu hanya digunakan sebagai kerangka bangunan eksotis, bukan untuk rumah dan bangunan fungsional lain. Rumah tinggal lebih murah menggunakan kerangka beton dan baja ringan atau aluminium, berdinding batako putih (hebel). Meubel kayu, bambu dan rotan pun, sekarang juga berharga lebih tinggi dibanding meubel berbahan plastik dan logam. Dengan kondisi seperti ini, sebenarnya ada peluang untuk membudidayakan kayu secara massal dan komersial. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *