• GAYAM MATAAIR DAN GENDERUWO

    by  • 29/08/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Benarkah pohon gayam tempat bersemayam genderuwo? Pohon gayam sebagai penjaga mata air di lahan warisan orang tua saya, telah diprotes warga karena ada genderuwonya. Mereka minta pohon itu ditebang. (Amin, Bantul).

    Sdr. Amin, genderuwo itu nama makhluk halus khas Jawa. Namanya juga makhluk halus, jadi tempat bersemayamnya bisa di mana saja, tidak harus di pohon, terlebih di pohon gayam. Yang jelas senang bersemayam di pohon gayam bukan genderuwo, melainkan semut rangrang. Sebab daun gayam yang lebar lentur dan liat, mudah ditangkup-tangkupkan oleh semut rangrang menjadi sarang. Karenanya, para pencari kroto (anak semut rangrang), justru paling senang kalau melihat ada pohon gayam berukuran cukup besar.

    Kalau benar, pohon gayam tempat bersemayam genderuwo, Keraton Kasultanan Yogyakarta tidak akan menanamnya di halaman Bangsal Siti Hinggil. Tahun 2022 ini dalam rangka renovasi Jalan Malioboro, Pemerintah Kota Yogyakarta juga menanam gayam di sepanjang jalur jalan itu. Gayam juga menjadi flora identitas Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Anggapan bahwa pohon gayam merupakan sarang genderuwo, disebabkan oleh daunnya yang lebar, berwarna hijau tua, dan tajuknya yang gelap dan rimbun.

    Selama ini yang diisukan sebagai sarang hantu, genderuwo, kuntilanak dll; bukan hanya pohon gayam melainkan juga beringin, karet kebo, randu alas dan kepuh. Pohon-pohon itu dianggap angker oleh masyarakat, karena berukuran cukup besar, bertajuk rimbun, dan tentu saja berumur cukup tua. Orang-orang berusia paling tua yang tinggal di dekat pohon besar itu selalu bilang, “Waktu saya masih kecil, pohon gayam itu juga sudah sebesar itu. Kakek dan nenek saya juga bilang seperti itu.” Orang semakin percaya karena pohon-pohon besar itu tak ditebang.

    Padahal alasan tak ditebangnya pohon gayam, beringin, karet kebo, randu alas dan kepuh; bukan karena orang takut akibat angkernya si pohon; melainkan karena kayunya tak bernilai komersial. Tingkat kekerasan, kekuatan dan keawetan kayu-kayu itu rendah. Bahkan untuk kayu bakar pun, kayu-kayu itu tidak laku karena kecilnya kandungan kalori. Karenanya pohon gayam, beringin, karet kebo, randu alas dan kepuh bisa bertahan terus sampai berukuran raksasa tanpa adanya ancaman penebangan.

    Pohon gayam juga bukan “penjaga” terlebih pencipta mata air. Selama ini masyarakat memang yakin bahwa pohon gayam, juga beringin, akan mendatangkan air (mata air). Paling tidak, mata air yang ditumbuhi pohon gayam atau beringin, akan tetap mengalirkan airnya yang jernih sepanjang tahun. Kalau pohon gayam dan beringin itu ditebang, mata air akan mati. Anggapan ini juga tidak benar. Sebab logikanya, mata air sudah ada terlebih dahulu sebelum pohon gayam atau beringin itu tumbuh.

    Pohon gayam memang banyak tumbuh di tepi sungai, belik (kolam kecil penampung air), rawa dan danau. Sebab biji gayam yang berbentuk bulat pipih itu berkulit liat, rapat berlapis gabus/serabut kuat. Ketika jatuh dan hanyut di sungai, buah gayam akan mengapung, lalu terdampar di tepi dan tumbuh. Itulah sebabnya gayam banyak terdapat di tepi sungai/perairan. Sama dengan kelapa yang banyak tumbuh di pantai karena buah tua yang jatuh terapung-apung di laut lalu terdampar di pantai dan tumbuh.

    Belakangan, pohon gayam justru bernilai ekonomis, karena buahnya lalu dijual. Di marketplace harga biji gayam mentah (kupas) per kilogram Rp 20.000 (Bukalapak), Rp 25.000 (Tokopedia) dan Rp 30.000 (Shopee). Di Tokopedia juga ditawarkan keripik gayam Tuban Rp 41.000 per kemasasn ¼ kilogram. Sebenarnya dari dulu, biji gayam biasa dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan. Tetapi bagi masyarakat Jawa pada umumnya, gayam dianggap sebagai makanan orang miskin.

    Belakangan, mereka yang dulunya pernah menikmati biji gayam rebus di desa; setelah bermukim di kota merindukan makanan kampung itu. Peluang ini ditangkap oleh mereka yang berjiwa bisnis. Di desa, biji gayam tak ada harganya. Siapa pun boleh mengambil buah yang berjatuhan itu. Harga biji gayam antara Rp 20.000 sampai Rp 30.000 per kilogram itu, sebenarnya hanya biaya mengambil, mengupas, mengemas dan keuntungan pedagang. Sebab selama ini belum ada yang membudidayakan gayam secara komersial.

    Sdr. Amin, saran saya, pohon gayam itu janganlah Anda tebang. Apabila ada yang protes dengan alasan pohon itu dihuni genderuwo, suruhlah si pemrotes itu jalan-jalan ke Malioboro atau Keraton Yogya. Atau, Anda bisa minta ganti rugi. Sebab pohon gayam yang sudah cukup besar, bisa menghasilkan 1.000 butir buah per tahun. Bobot buah rata-rata 50 gram dengan kulit atau 25 gram biji. Satu batang pohon gayam akan menghasilkan 25 kilogram biji kupas. Selain direbus dan dibuat keripik, biji gayam juga bisa ditepungkan. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *