BLIGO TANGKUE DAN KUE PENGANTIN
by indrihr • 06/09/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Bligo juga disebut kundur, wax gourd, ash gourd, white gourd, winter gourd, tallow gourd, ash pumpkin, winter melon; Benincasa hispida. Bligo asli Asia Selatan dan Asia Tenggara; tetapi populer di China.
Di China, bligo diolah menjadi tangkue (tangkueh, tang kwe); dan tangkue menjadi kue pengantin yang juga disebut kue kasih sayang dan kue isteri. Bligo muda dimasak dengan daging babi. Sedangkan di Indonesia, bligo makin tak dikenal. Masyarakat Tionghoa di sini masih mengolahnya menjadi tangkue. Masyarakat Indonesia hanya mengonsumsinya sebagai sayuran saat masih muda. Meski tak pernah sengaja ditanam, di pedesaan pulau Jawa bligo tetap tumbuh liar merambat di pepohonan dan berbuah lebat. Buah mudanya disayur, sedangkan buah tuanya dibiarkan berjatuhan dan membusuk.
Bligo suku labu-labuan, Cucurbitaceae; sama dengan labu parang, labu air, labu siam, peria, timun, semangka, melon, oyong dan blustru. Bligo tumbuhan memanjat dengan menggunakan sulur kaitnya. Apabila tak ada pohon sebagai panjatan, bligo perlu ajir, atau dibiarkan melata di tanah. Secara alamiah, bligo tumbuh pada awal musim penghujan, berbuah pada musim kemarau dan akhir musim kemarau tanaman mati. Jadi bligo merupakan tanaman semusim. Satu tanaman bligo akan menghasilkan buah antara lima sampai dengan 15 butir. Bligo yang ada di Jawa umumnya berbentuk lonjong.
Di China, umumnya ditanam varietas panjang dengan pangkal dan ujung buah tumpul. Varietas ini tidak berlapis lilin pada kulitnya. Beda dengan bligo Indonesia yang berwarna putih karena lapisan lilin pada kulitnya. Lapisan lilin inilah yang membuat bligo disebut wax gourd, ash gourd, white gourd. Sebenarnya kulit buah bligo juga berwarna hijau, apabila lapisan lilin itu dibuang. Di sebut winter melon, karena buah bligo bisa tetap segar selama enam sampai sembilan bulan, hingga selama musim dingin masih bisa dikonsumsi dalam keadaan segar. Buah bligo bisa dibiarkan di ladang selama musim dingin, dan baru diambil apabila akan dikonsumsi.
Memanen bligo yang dipanjatkan di pohon, tidak boleh dijatuhkan. Sebab buah akan memar di bagian yang terbentur tanah. Bagian yang memar itu akan segera membusuk. Jadi buah bligo yang telah tua, harus dipetik menggunakan galah dengan kantung di ujungnya, hingga tidak jatuh ke tanah. Buah yang utuh seperti ini, bisa tahan disimpan sampai satu tahun tanpa rusak. Kualitas daging buah yang sudah disimpan lama akan semakin bagus. Masyarakat pedesaan biasa menyimpan buah bligo, juga labu parang di atas para-para. Asap kayu bakar dari tungku dapur akan mengawetkan buah bligo hingga kulit luar mengering tetapi daging buahnya tetap segar.
Ada di Marketplace
Dulu di Jabodetabek, bligo hanya bisa didapat di kios penjual bunga dan perangkat upacara adat di pasar tradisional. Yang pasti ada di tepi jalan di depan Pasar Kramatjati, Cililitan, Jakarta Timur. Sekarang bligo segar ada di marketplace. Rata-rata harga yang ditawarkan Rp 20.000 sampai Rp 25.000 per kilogram. Meskipun membeli secara online beresiko barang yang datang tak sesuai dengan harapan. Bahkan bisa saja barang telah rusak (busuk). Itulah sebabnya tetap disarankan membeli bligo segar di pasar tradisional, atau langsung pesan ke petaninya, meskipun dengan ongkir lebih tinggi.
Di marketplace juga ditawarkan tangkue, dengan sebutan Kundur Manis dan Buah Kering Kundur. Harganya bervariasi antara Rp 40.000 (500 gram), Rp 22.000 (250 gram) dan Rp 19.000 (200 gram). Warna tangkue umumnya putih, tapi ada juga yang diberi pewarna buatan hijau. Yang warna hijau ini umumnya untuk dikonsumsi langsung sebagai manisan, sedangkan yang putih untuk bahan kue pengantin. Selain tangkue, di marketplace juga ditawarkan minuman kundur, produksi Malaysia; dengan variasi harga antara Rp 5.500 sampai Rp 6.000 per kaleng kemasan 300 ml. Ada variasi kundur, teh kundur dan jali kundur.
Adanya pasar buah bligo segar, merupakan indikator masyarakat masih senang membuat tangkue, baik untuk dikonsumsi sendiri, maupun untuk dipasarkan secara terbatas. Sebab membuat tangkue cukup mudah. Pertama buah bligo yang telah benar-benar tua dikupas, dibuang bagian tengah yang ada bijinya, kemudian dipotong memanjang. Potongan daging buah ini direndam dalam larutan kapur sirih selama 4 – 12 jam. Setelah diangkat, irisan buah bligo itu ditiriskan. Sambil menunggu irisan buah bligo tiris, direbus gula sampai benar-benar mengental, kemudian irisan buah bligo dimasukkan.
Air dalam larutan gula itu akan naik sesaat setelah irisan buah bligo dimasukkan. Sebab gula akan masuk ke dalam daging buah bligo, sambil mendesak air keluar. Buah bligo dalam larutan gula itu tetap dibiarkan di atas kompor dengan api kecil, sampai air kembali surut. Meski dibiarkan cukup lama dalam larutan gula panas, irisan bligo itu tidak akan hancur, karena telah direndam dalam larutan air kapur. Agar tidak teroksidasi dan warna daging buah menjadi cokelat, ke dalam larutan gula itu dimasukkan sodium metabisulfite atau sodium pyrosulfite, Na2S2O5.
Zat aditif ini diizinkan untuk makanan oleh Badan POM/Kementerian Kesehatan RI. Kadang produsen manisan bligo memberi warna hijau, dengan bahan pewarna sintetis yang diizinkan untuk makanan. Apabila kita tidak suka dengan pewarna sintetis, bisa digunakan daun suji (hijau), kayu secang (merah), bunga telang (biru) dan kayu sisir/nangka (kuning). Tangkue warna-warni ini untuk dikonsumsi langsung. Sebab kue pengantin, juga kue bulan hanya dibuat dari tangkue warna putih dengan kandungan gula sangat tinggi. Tangkue warna-warni itu biasanya dikonsumsi selama perayaan Imlek. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F.Rahardi
