INDONESIA RUNNER-UP JAWARA MANGGA DUNIA
by indrihr • 03/10/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Tahun 2019, dengan sedih saya menulis di KONTAN, bahwa mangga Indonesia disalip China. Negeri yang dulunya tak menanam mangga, tiba-tiba naik ke peringkat dua dunia di bawah India sebagai jawara. Tapi sejak tahun 2020, kita menggantikan China.
Inilah lima besar penghasil mangga dunia (FAO 1970, dalam ribu ton): India 7.100; Brasil 751,9; Pakistan 496,8; Thailand 450; Bangladesh 399,5. Indonesia 335 ribu ton belum masuk lima besar. Tahun 1980 peta lima besar penghasil mangga dunia berubah: India 8.363,3; Thailand 650; Meksiko 638; Brasil 618,6; Pakistan 550,2. Indonesia dengan produksi 325,2; tetap peringkat enam dunia. China dengan produksi 281,9 peringkat tujuh dunia. Tahun 1990 berubah lagi: India 8.645,4; Meksiko 1.074,4; China 912,5; Thailand 900; Pakistan 766; Indonesia dengan produksi 508,8 turun ke peringkat tujuh di bawah Brasil 545,1. China melesat ke peringkat tiga.
Tahun 1990 yang turun bukan hanya Indonesia, tetapi juga Thailand, Pakistan, dan Brasil. Tahun 2000, mangga China semakin kokoh naik ke peringkat dua (FAO 2000 dalam juta ton): India 10,5; China 3,2; Thailand 2,5; Pakistan 1,8; Meksiko 1,6; Indonesia naik lagi ke peringkat enam dunia dengan produksi 1 juta ton. Tahun 2010, peta mangga dunia berubah lagi tetap dalam juta ton: India 15; China 4,2; Thailand 2,5; Pakistan 1,8; Meksiko 1,6; Indonesia dengan produksi 1,5 juta ton tetap di peringkat enam dunia. Dan tahun 2020 Indonesia berjaya ke peringkat dua dunia: India 24,7; Indonesia 3,6; China 2,3; Meksiko 2,4 dan Brasil 2,1.
Posisi ini masih akan bisa berubah. Sebab mangga sangat bergantung ke cuaca, yakni curah hujan, intensitas sinar matahari, dan angin. Data Badan Pusat Statistik Indonesia, menunjukkan bahwa produksi mangga kita tahun 2021 turun menjadi 2,8 juta ton. Saya tak menemukan data produksi mangga China 2021. Data FAO 2021 baru akan keluar pada 2023. Kelihatannya ke depan kita akan berebut peringkat dua dengan China. Sebab mengejar India, dengan volume produksi tahun 2020 sebesar 24,7 juta ton sungguh sangat berat. Buah mangga, sejak dulu memang sudah melekat dengan India.
Karenanya, spesies mangga paling populer di dunia diberi nama botani Mangifera indica. Padahal habitat asli Mangifera indica bukan hanya India. Di India spesies ini hanya terlacak tumbuh liar di negara bagian Assam, Arunachal Pradesh, Nagaland, Manipur, Mizoram dan Tripura dan Meghalaya. Tujuh negara bagian ini merupakan wilayah India yang menjorok di atas Bangladesh, dan berbatasan dengan Bhutan, China, dan Myanmar. Sebaran Mangifera indica justru lebih banyak di lereng timur Himayala, yang merupakan wilayah China, sampai ke China Tengah, Myanmar dan Thailand.
Spesies Terbanyak Justru di Indonesia
Sampai dengan Juli 2022, di Daftar Nama Tumbuhan Internasional (The International Plant Names Index, IPNI) di seluruh dunia hanya tercatat ada 10 spesies dalam genus Mangifera yang berstatus diakui (accepted). Sejak 2013, para pakar botani dunia, terutama dari Kew Garden, Inggris; sepakat untuk meneliti dan menata ulang nama-nama spesies, genus dan suku (famili). Melalui teknologi DNA (penghitungan jumlah kromosom), penataan ulang ini menjadi lebih mudah, murah dan cepat. Genus Mangifera, suku Anacardiaceae termasuk yang diteliti dan ditata ulang. Tahun 2021 penataan ulang itu selesai dan Agustus 2022 dipublikasikan untuk umum.
Dari awalnya hanya ada 10 spesies dalam genus Mangifera yang berstatus accepted, setelah diteliti dan ditata ulang jumlah spesies accepted dalam genus Mangifera menjadi 63. Dari 63 spesies genus Mangifera itu, sebanyak 36 spesies berhabitat asli Indonesia. Pengertian berhabitat asli Indonesia, bukan terdapat dari Sabang sampai Merauke dan tidak terdapat di kawasan lain luar Indonesia; melainkan ada yang hanya endemik Kalimantan, misalnya mangga kasturi (Mangifera casturi). Ada yang terdapat di Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua sampai ke Kepulauan Bismark. Ada yang hanya endemik Semenanjung Malaya dan Sumatera.
Dari 63 spesies Mangifera itu, sebanyak 23 spesies merupakan hasil penelitian Prof. Dr. André Joseph Guillaume Henri Kostermans (1906 –1994). Kostermans merupakan ahli Botani berkebangsaan Belanda yang lahir di Purworejo, Jawa Tengah 1 Juli 1906. Ia meraih gelar Doktor di Universitas Utrecht, Negeri Belanda 1936; lalu mengabdikan diri di Kebun Raya Bogor. Setelah Indonesia merdeka, Kostermans menjadi WNI dan terus melanjutkan penelitiannya, khususnya tentang mangga. Ia meneliti sebanyak 69 spesies mangga, dan 63 di antaranya sekarang diakui dan dicatat di IPNI.
Bukunya tentang mangga yang ia tulis bersama J.M. Bompard tahun 1993 berjudul The Mangoes: Their Botany, Nomenclature, Horticulture and Utilization; diterbitkan oleh Academis Press, London dan beredar pada 15 Juli 1994. Kostermans tak sempat menyaksikan bukunya terbit. Ia wafat pada 10 Juli 1994 meninggalkan belasan anak asuh. Sampai wafatnya Kostermans tidak menikah, tetapi membiayai anak asuh. Salah satunya Prof. Mien Achmad Rifai, M.Sc, Ph.D. yang juga banyak menulis buku tentang botani, kamus biologi dan budaya Madura. Prof. Mien Rifai asli dari Madura.
Spesies mangga penting Indonesia yang diteliti Kostermans antara lain mangga kasturi (Mangifera casturi Kosterm) dan mangga lalijiwa (Mangifera lalijiwa Kosterm). Meskipun banyak dibudidayakan di luar habitat aslinya, termasuk di Florida, AS; mangga kasturi justru sudah dinyatakan punah di habitat aslinya di hutan-hutan Kalimantan. Beda dengan mangga lalijiwa, yang di habitat aslinya di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku Tenggara, masih bisa dijumpai. Selain bisa menjadi runner-up jawara mangga dunia, di Cukur Gondang, Pasuruan, kita punya kebun koleksi mangga terlengkap kedua setelah India. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan
Foto F. Rahardi
