• REALITAS BISNIS JATI YANG TIDAK SUPER

    by  • 10/10/2022 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Awal dekade 2000, ketika belum ada media sosial, belum ada Android; masyarakat dihebohkan oleh euforia tentang jati super, jati unggul, jati mas dan aneka sebutan lain. Orang lalu ramai-ramai menanam jati dengan harapan bisa menjadi kaya dalam waktu cepat.

    Padahal dalam realitas, tak pernah ada komoditas super, unggul, hebat; yang bisa mendatangkan keuntungan cepat bagi siapa pun. Bisnis, sama dengan bidang kegiatan lain, memerlukan keterampilan (skill), dan kemampuan bawaan (aptitude) sebagai bekal. Tidak semua orang bisa bisnis. Sama dengan tidak semua orang bisa berpolitik, menjadi seniman, menjadi olahragawan, juru masak dll. Jadi sesuper apa pun sebuah komoditas, kalau ditanam oleh orang yang tak bisa bisnis, akan mendatangkan kerugian, atau kebangkrutan. Sebaliknya, singkong atau kangkung pun, kalau ditanam pebisnis akan mendatangkan keuntungan.

    Jati super, unggul, emas, dll. yang pernah heboh pada dekade 2000, mestinya sekarang sudah bisa mendatangkan keuntungan berlipat-ganda bagi investornya. Sebab sesuai dengan janji para pedagang benih jati super, komoditas ini mulai bisa dipanen pada umur 5 tahun, kemudian bisa ditebang habis pada umur 15 tahun. Jadi mestinya, pada tahun 2022 sekarang ini, para investor jati super sudah menjadi kaya-raya dan sudah kembali berinvestasi menanam jati super baru. Tetapi tak pernah kedengaran para investor itu memanen dan menjual komoditas andalannya. Para penjual benih jati super juga sudah ganti dagangan.

    Tetapi bukan berarti kayu jati tak diperlukan lagi. Jepara (Jateng), Bantul (DIY), dan Klender (DKI Jakarta); merupakan sentra industri kayu jati yang tetap memerlukan pasokan. Beda dengan industri pariwisata dan pengumpulan massa yang selama pandemi kolaps, industri kayu tetap jalan, meski volume permintaan juga menurun. Paska pandemi, industri kayu lebih cepat menggeliat. Meski industri kayu bisa menyerap jenis kayu lain, tetapi jati tetap kayu favorit untuk bahan mebel. Jati menjadi pilihan favorit industri mebel karena keras, kuat, awet tetapi renyah hingga mudah dikerjakan.

    Kayu asam dan lengkeng misalnya, lebih keras, lebih kuat dan lebih awet dibanding jati. Tetapi dua jenis kayu ini sulit dipotong dan dibelah karena liat dan seratnya tak beraturan. Andaikan diminati sebagai bahan mebel, kayu asam dan lengkeng perlu penanganan khusus. Pebisnis hanya mau mengerjakan dua jenis kayu ini apabila ada pesanan. Lain dengan kayu sana keling dan johar, yang lebih keras, lebih kuat dan lebih awet dari jati; tetapi tingkat kerenyahannya juga masih baik, hingga mudah dikerjakan. Sana keling dan johar sekarang menjadi kayu alternatif pengganti kayu hitam sulawesi (eboni).

    Bisnis Jati Sekarang

    Sampai dengan dekade 1970; Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah), Gunung Kidul dan Kulonprogo (DIY); terkenal gersang dan tandus. Para petani mengolah lahan secara manual dengan cangkul, untuk ditanami jagung dan singkong. Masyarakat mengonsumsi jagung dan singkong, sebab harga beras sangat tinggi. Dekade 1980 keadaan sudah berubah. Tiga kabupaten di Pulau Jawa ini menjadi hijau. Sebagian besar lahan itu ditanami jati. Bukan jati super, jati unggul dan jati mas; melainkan jati biasa, yang baru bisa dipanen setelah umur di atas 15 tahun semenjak ditanam.

    Promosi jati super, jati unggul, jati mas dll, sebenarnya tak berorientasi ke konsumen. Konsumen kayu itu industri mebel. Bagi industri mebel, keunggulan kayu jati ditentukan oleh diameter, panjang potongan dan kelas kayu yang terdiri dari tingkat kekerasan, kekuatan, keawetan dan tekstur. Jati unggul hanya menjanjikan kecepatan pertumbuhan dan tekstur kayu yang halus tanpa mata bekas cabang. Kecepatan pertumbuhan justru menghasilkan tingkat kekerasan, kekuatan dan keawetan rendah, dibanding pohon jati dengan tingkat pertumbuhan lebih lamban.

    Jati biasa pun, ketika dibudidayakan di Jawa Barat dengan curah hujan tinggi, akan tumbuh dengan sangat cepat. Tetapi tingkat kekerasan, kekuatan dan keawetannya rendah. Jenis jati yang sama, dibudidayakan di Bogor selama 20 tahun akan berdiameter 40 sentimeter. Sementara di Gunungkidul pada umur yang sama baru berdiameter 25 sentimeter. Karenanya dengan diameter dan panjang sama, jati Gunungkidul berharga lebih tinggi dibanding jati dari Banyumas, terlebih dari Jawa Barat. Para pelaku industri mebel benar-benar hafal kualitas jati sesuai dengan daerah asalnya.

    Kualitas jati Perum Perhutani selalu lebih baik dibanding jati rakyat, dari lokasi budidaya yang sama. Artinya jati perhutani asal Banten, dibandingkan dengan jati rakyat juga asal Banten. Jati perhutani dari Blora, dibandingkan dengan jati rakyat juga dari Blora. Penyebab utama tingginya jati perhutani, bukan karena jenis jatinya, melainkan karena umur panen. Jati perhutani baru akan dipanen pada umur di atas 50 tahun. Panen pada umur di bawah 50 tahun hanya merupakan hasil penjarangan. Faktor penebangan juga ikut menentukan harga. Jati perhutani diteres (dimatikan) dan baru ditebang setelah satu tahun. Jati rakyat ditebang langsung.

    Trend menanam jati, sekarang sama populernya dengan trend menanam sengon. Bedanya, jati perlu menunggu panen lebih lama dibanding sengon. Jati rakyat baru bisa dipanen paling cepat umur 15 tahun, sengon sudah mulai bisa dipanen pada umur lima tahun. Dengan diameter dan panjang sama, harga kayu jati juga lebih tinggi dibanding sengon. Harga kayu jati gelondongan berkisar antara Rp 2,5 juta sampai Rp 13 juta per meter kubik. Harga sengon berkisar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per meter kubik. Selain menggerakkan perekonomian, jati dan sengon juga berkontribusi terhadap perbaikan lingkungan di Pulau Jawa. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *