SAWO DUREN LEBIH SERING HABIS DI MARKETPLACE
by indrihr • 14/11/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Inilah buah dengan nama paling banyak. Karena daunnya mirip daun durian, disebutlah sawo duren, sawo kadu. Karena nama botaninya Chrysophyllum cainito, lalu dinamakan kenitu. genitu, manecu. Karena warna buah hijau, padahal ada juga yang ungu, disebutlah sawo hijau, sawo ijo, sawo hejo.
Karena kulit buah halus, disebutlah sawo beludru, sawo sutera. Karena bergetah putih seperti susu, orang Jawa bilang sawo susu. Orang Inggris ikut menyebut milk fruit. Orang Vietnam menyebutnya Vú Sữa, artinya buah payudara. Ternyata orang Vietnam lebih vulgar dibanding orang Jawa dan orang Inggris. Ketika dipotong melintang tampak gambar seperti bintang, orang Inggris menyebutnya star apple, orang Belanda ster appel dan diikuti orang Jawa menjadi strapel. Karena bagian bawah daun berwarna emas, disebut pula golden leaf tree. Di sini belum ada yang ikut menyebutnya pohon berdaun emas.
Pohon sawo duren bisa sangat besar dan rimbun, kayunya sangat keras tetapi mudah pecah. Untuk kayu bakar dan arang berkalori tinggi. Bagian yang lurus juga sering digunakan sebagai bahan bangunan. Sayangnya, jarang ada batang dan cabang sawo duren yang lurus dan berukuran cukup panjang. Batang sawo duren biasanya sudah mulai bercabang hanya beberapa meter dari permukaan tanah. Kemudian cabangnya juga kembali bercabang dengan jarak yang sangat berdekatan. Padahal batang dan cabang sawo duren rata-rata lurus dengan penampang yang bulat, hingga ideal untuk bahan bangunan/meubel.
Tajuk sawo duren berdaun lebat dan rapat. Dengan warna tembaga di bagian bawah permukaan daun, tanaman ini pernah menjadi pohon peneduh dan elemen taman favorit. Belakangan popularitasnya memudar, kalah oleh tanaman pendatang baru seperti angsana, mahoni dan trembesi yang sebenarnya juga tanaman lama. Trembesi sudah digunakan sebagai pohon peneduh dan elemen taman sejak zaman Belanda. Mahoni mulai populer tahun 1950an dan angsana baru dikenal sebagai pohon peneduh pada dekade 1970. Sampai sekarang deretan sawo duren sebagai peneduh masih bisa dilihat di sekitar Masjid Istiqlal, Jakarta.
Genus Chrysophyllum, suku Sapotaceae terdiri dari 53 spesies. Semua berhabitat asli Benua Amerika, terutama Amerika Tengah dan Selatan. Dari 53 spesies Chrysophyllum itu, hanya Chrysophyllum cainito yang dikenal dan dibudidayakan sebagai penghasil buah. Setelah Bangsa Eropa bermigrasi ke Benua Amerika pada abad 16, Chrysophyllum cainito si sawo duren segera menyebar ke seluruh dunia, termasuk sampai ke kepulauan Nusantara. Tak jelas kapan tepatnya sawo duren dibawa bangsa Portugis dan Belanda ke kepulauan Nusantara, khususnya ke Pulau Jawa.
Jatim dan NTT
Di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY dan Jawa Tengah, pohon sawo duren cenderung tumbuh sangat rimbun dan menjadi pohon besar. Curah hujan dan kelembapan udara di kawasan ini cukup tinggi. Ini yang menyebabkan sawo duren tumbuh sangat subur, tetapi produktivitas dan kualitas buahnya rendah. Karenanya di lima provinsi ini, buah sawo duren tak terlalu populer, meskipun pohonnya banyak. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa buah dari pohon dengan bagian bawah daun berwarna tembaga itu edible. Beda dengan di Jawa Timur, Bali, sampai ke NTB dan NTT.
Jatim, Bali, NTB dan NTT relatif lebih kering dibanding lima provinsi di Jawa tadi. Karenanya di kawasan ini sawo duren cukup populer. Pohonnya memang tak sesubur di kawasan barat Pulau Jawa, tetapi kuantitas dan kualitas buahnya lebih tinggi. Karena langit jarang mendung, sinar matahari lebih lama dan lebih intens, hingga fotosintesis berlangsung optimum. Meski pohon sawo duren di kawasan ini tampak kerdil dan kurang subur, tetapi buahnya banyak, besar-besar dan manis. Tiap musim buah sawo duren selalu bisa dijumpai dijual di pasar, kios dan kaki lima di kawasan ini.
Habitat asli sawo duren di Panama, Amerika Tengah, terletak di 7°–10° LU. Kawasan barat Pulau Jawa terletak di 6° LS, sedangkan Jatim, Bali, NTB dan NTT 7°– 8° LS, mirip dengan habitat asli sawo duren di Panama. Posisi Pulau Jawa sebenarnya bukan horisontal datar dari barat sampai ke timur, melainkan bagian barat agak mendongak ke atas (utara). Hingga semakin ke timur, semakin jauh dari khatulistiwa. Semakin jauh dari khatulistiwa, agroklimat akan semakin kering dan panas, dengan curah hujan dan kelembapan udara rendah. Agroklimat ini cocok dengan habitat asli sawo duren di Panama sana.
Meski sudah lama diintroduksi ke kepulauan Nusantara, sawo duren tak populer dibudidayakan dan dipasarkan sebagai buah. Salah satu sebabnya, sawo duren merupakan buah non klimaterik, yang harus dipetik setelah matang, karena tak bisa diperam. Contoh buah non klimaterik lainnya, apel, anggur, melon, semangka. Buah klimaterik yang bisa diperam misalnya pisang, mangga, sawo biasa dan sirsak. Padahal, memanen buah non klimaterik sebenarnya juga sama mudahnya dengan memanen buah klimaterik. Apabila kulit buah sawo duren berwarna lebih terang dan mengkilap, itulah tanda telah masak.
Di Queensland, Australia, petani sudah membudidayakan sawo duren, dan sengaja waktu berbuahnya digilir agar selalu bisa memenuhi permintaan pasar. Padahal pasar sawo duren di Australia lebih kecil dibanding di Indonesia. Di sini pasokan sawo duren ke marketplace sering terlambat, hingga lebih sering ada penjelasan bahwa stok habis. Sawo duren memang buah musiman, dengan segmen pasar yang masih sangat kecil. Petani Australia tetap ada yang membudidayakan sawo duren, tetapi dengan volume produksi yang selalu disesuaikan dengan kapasitas pasar yang ada. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
