YUYU SAWAH SEBAGAI KOMODITAS “CEMILAN”
by indrihr • 06/06/2023 • UMKM • 0 Comments
Malam hari dua minggu yang lalu, di lapangan parkir Taman Wisata New Bandungan Indah, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah; saya membeli kepiting goreng. Kata yang jual itu yuyu sawah. Jenis kepiting apakah itu? (Yuni, Semarang).
Sdri. Yuni, yuyu sawah, kepiting sawah, keuyeup, Parathelphusa convexa; merupakan satwa air yang sekarang lazim digoreng kering berikut capit, kaki dan cangkangnya; dengan bumbu garam, bawang putih dan kunyit. Biasanya si pedagang tak hanya menjual yuyu sawah goreng, melainkan juga aneka sosis dan kentang goreng. Yuyu sawah sudah naik status dari satwa air liar yang hidup di sungai, rawa dan sawah; menjadi jajanan kaum millenial. Karena ada pasar, masyarakat mulai ada yang membudidayakannya.
Padahal dulu, yuyu sawah bukan termasuk satwa air yang layak makan. Sebab di sawah dan sungai-sungai masih ada ikan gabus, lele, wader, udang air tawar dan kerang. Satwa ini lebih enak dikonsumsi dibanding yuyu sawah. Karenanya waktu itu yang mengonsumsi yuyu sawah hanyalah masyarakat yang tergolong paling miskin. Itu pun caranya hanya dengan dibotok dengan bumbu bawang merah/putih, cabai, ketumbar, kencur, lengkuas, salam dan kelapa parut. Kadang juga hanya dibakar dan langsung dimakan oleh anak-anak.

Sampai sekarang, para petani di pedesaan masih memanfaatkan yuyu sawah untuk menanggulangi hama walang sangit. Ketika padi mencapai tahap masak susu dan hama walang sangit datang untuk mengisap cairan padi muda itu; petani menangkap yuyu sawah, ditusukkan di ujung bambu yang diruncingkan, lalu bambu itu ditancapkan di petakan sawah. Hama walang sangit akan berkerumun di bangkai yuyu sawah itu. Pada malam hari petani datang dengan obor blarak (daun bambu kering) untuk membakar kerumunan hama walang sangit.
Para peternak itik petelur, memanfaatkan yuyu sawah sebagai protein hewani bagi ternak mereka. Yuyu sawah itu ditumbuk, lalu dicampurkan ke dedak dan jagung/gabah. Itik yang diberi pakan yuyu sawah, akan bertelur lebih banyak dibanding yang hanya diberi pakan dedak dan jagung/gabah. Selain itu kualitas kuning telur pada itik yang diberi pakan yuyu sawah juga akan lebih baik. Ukuran kuning telur itu lebih besar, warnanya lebih mengarah ke orange. Sebab cangkang yuyu sawah mengandung pigmen karotenoid cukup tinggi.
Para perajin minyak kelapa tradisional, memanfaatkan yuyu sawah untuk memfermentasi parutan kelapa sebagai bahan baku minyak. Beberapa ekor yuyu ditumbuk, diperas diambil airnya. Air yuyu itu dicampurkan ke parutan kelapa sampai merata lalu diperam semalam. Esoknya, parutan kelapa yang sudah terfermentasi itu dijemur. Dalam jangka waktu antara dua sampai tiga hari akan mengering yang ditandai warnanya berubah menjadi coklat keabuan. Adonan itu diperas diambil minyaknya. Ampasnya bisa dimasak atau dijadikan pakan ternak.
Sekarang yuyu sawah juga dijual di marketplace sebagai pakan ikan predator, terutama Arwana. Pasar pakan ikan hanya menghendaki yuyu sawah yang masih kecil. Yuyu dewasanya dikonsumsi manusia. Harga yang dibanderol pedagang yuyu sawah di marketplace berkisar antara Rp 1.000 sampai Rp 3.000 per ekor ukuran kecil sampai besar. Ada juga yang menawarkan Rp 20.000 per 5 ekor, dan Rp 135.000 per 20 ekor. Yuyu sawah yang dipasarkan di marketplace ini hasil budidaya, bukan tangkapan dari alam.
Budidaya yuyu sawah relatif mudah, asalkan ada air yang mengalir, atau air menggenang tetapi diberi pompa rotasi. Bagian tepi kolam diberi pagar dari plastik agar yuyu sawah tidak kabur. Pakan utama yuyu sawah siput, anak kodok, ikan cethul dan cacing tanah. Sama dengan kepiting bakau, yuyu sawah juga berkembangbiak dengan cara bertelur. Setelah bertelur, bayi yuyu sawah ini memerlukan pakan yang masih halus berupa siput yang ditumbuk, bangkai anak kodok dan ikan cethul. Pertumbuhan yuyu sawah di kolam budidaya, relatif lebih cepat dibanding di alam liar.
Komoditas yuyu sawah naik daun, terutama karena ikut trend masyarakat mengonsumsi kepiting laut (kepiting bakau). Selama ini kepiting laut merupakan menu yang prestisius. Yuyu sawah dengan ukuran cukup besar, bisa dimasak menggunakan bumbu kepiting laut. Setelah masak, masyarakat sulit membedakan yuyu sawah dengan kepiting laut, karena warnanya sama-sama merah. Hanya ukuran yuyu sawah yang lebih kecil dibanding kepiting laut. Rasanya tentu beda. Sama dengan ikan laut kecil yang dijual sebagai wader, juga beda dengan wader asli yang merupakan ikan air tawar. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
