MENGATASI HAMA BUBUK PADA BAMBU
by indrihr • 11/09/2023 • Kerajinan, UMKM • 0 Comments
“Saya sudah malas membeli kursi, bangku dan meja bambu hitam yang sering tampak dijajakan dengan dipikul keliling keluar masuk gang” Kata seorang teman. Produk itu tak akan bisa bertahan lama karena serangan hama bubuk, kutu Dinoderus minutus.
Kecuali sebelum digunakan perabotan bambu itu direndam dalam kolam berlumpur selama sekitar tiga bulan. Bahkan bagian bawah tempat nasi (bakul, wakul, ceting, boboko) yang terbuat dari belahan bambu utuh, tak luput dari serangan hama bubuk. Bagian atasnya utuh, tapi bagian bawahnya hancur. Bambu apa pun tak akan luput dari serangan hama bubuk. Dinding anyaman bambu yang menggunakan bilah cukup tebal, juga akan diserang. Kecuali anyaman yang menggunakan bilah tipis. Terlebih lagi kerangka rumah seperti usuk (kaso) dan reng. Galar dan galur amben (balai-balai) bambu juga tak luput dari serangan hama bubuk.
Pernis dan cat sama sekali tak bisa mengatasi serangan hama bubuk. Kumbang Dinoderus minutus akan menyuntikkan telurnya lewat bagian yang tak terkena pernis dan cat. Setelah menetas larvanya akan memakan selulosa yang masih kaya akan karbohidrat dan gula. Akibatnya bagian dalam bambu akan hancur. Kumbang Dinoderus minutus disebut hama bubuk karena larvanya menghasilkan sekresi hasil cernaan jaringan bambu berupa bubuk halus berwarna coklat muda. Dari sinilah munculnya istilah hama bubuk. Dinoderus minutus hanya salah satu dari 574 spesies kumbang dalam suku Bostrichidae.
Kumbang hama bubuk suku Bostrichidae terdiri dari sembilan subsuku, 88 genera, empat subgenera dan 574 spesies. Larva kumbang suku ini makan karbohidrat dan gula yang terdapat dalam selulosa kayu apa pun termasuk bambu. Sebanyak 574 spesies suku Bostrichidae hidup menyebar di kawasan tropis maupun sub tropis di semua benua. Sekresi kumbang suku Bostrichidae tidak hanya berupa bubuk (tepung halus) melainkan juga berupa butiran yang lebih kasar. Kumbang Subfamily Lyctinae ini disebut hama teter. Daya rusak kumbang hama teter tak kalah hebat dibandingkan kumbang hama bubuk yang menyerang bambu.

Kumbang hama bubuk suku Bostrichidae bersama dengan rayap, suku Termitidae; telah membuat masyarakat alergi terhadap bahan bangunan dari kayu dan bambu. Trend masyarakat sekarang cenderung memilih bahan bangunan berkerangka beton dan baja ringan, dinding hebel (batako dari abu limbah batubara), penyekat dan plafon asbes. Anehnya bangunan-bangunan elite justru menggunakan lantai parket dari potongan kayu kualitas baik. Memang ada kayu yang aman dari hama bubuk, teter maupun rayap. Kayu yang secara alamiah mengandung minyak asiri dan pestisida (pinus, jati, surian); aman dari serangan hama bubuk teter dan rayap.
Saat Potong Bambu
Masyarakat Jawa punya hitungan rumit saat menebang bambu agar tak terserang hama bubuk. Bambu hanya boleh ditebang setelah lewat pukul 12.00 sampai dengan sebelum mahgrib. Hari potong bambu hanya Senin, Rabu, Kamis, Jumat dan Minggu. Sedangkan Selasa dan Sabtu hari pantangan untuk memotong bambu. Perhitungan ini tentu tak rasional meskipun masyarakat meyakini kebenarannya dengan berbagai argumentasi. Misalnya jam menebang lewat pukul 12.00 sampai sebelum mahgrib terkait dengan kandungan air dalam batang bambu. Penentuan hari memotong bambu terkait dengan nogo dino, hari keberuntungan.
Ketentuan waktu memotong bambu pada Mongso Kapitu (Musim Ketujuh, 22 Desember – 2 Februari) sesuai perhitungan Pranoto Mongso (Penataan Musim) yang juga ada di masyarakat Jawa; justru sangat rasional. Sebab rebung bambu akan keluar pada awal musim penghujan, Mongso Kalimo (Musim Kelima 13 Oktober – 8 November) dan Mongso Kanem (Musim Keenam 9 November – 21 Desember). Hingga pada Mongso Kapitu, rebung telah tumbuh menjadi tanaman muda. Pada saat itulah bambu tua telah terkuras cadangan nutrisinya berupa karbohidrat dan gula. Hingga rongga selulosa dalam jaringan bambu itu telah kosong.
Bambu yang sudah tak berkarbohidrat/gula di jaringan selulosanya itu kemudian dipotong-potong dan dibelah sesuai peruntukannya, dijemur sampai kering, kemudian diikat dan direndam dalam kolam, sawah atau sungai berlumpur selama minimal tiga bulan. Untuk digunakan sebagai bahan bangunan, perendaman bambu dalam lumpur bersamaan dengan kayu yang juga akan digunakan sebagai bahan bangunan. Perendaman bisa berlangsung sampai satu tahun untuk mendapatkan hasil optimum. Rongga selulosa dalam jaringan bambu dan kayu yang kosong akan diisi oleh partikel lumpur.
Setelah diangkat dari lumpur, dibersihkan dan dijemur, bambu dan kayu itu tetap akan memancarkan aroma lumpur yang tak sedap untuk jangka waktu sampai beberapa bulan. Aroma ini kemudian akan hilang, tanpa dicat/dipernis pun, bambu dan kayu ini akan tahan tidak dimakan bubuk, teter dan rayap. Bambu-bambu lunak seperti apus, ampel, talang dll, justru akan menjadi sangat kuat setelah jaringan selulosanya terisi lumpur. Demikian pula dengan kayu-kayu lunak seperti sengon, senu, dadap dll. Itulah sebabnya masyarakat sengaja memilih bambu yang tak terlalu tua, hingga jaringannya masih relatif lunak agar mudah diisi partikel lumpur.
Masyarakat pantai, bisa merendam bambu dan kayu yang telah dipotong dan dijemur itu ke dalam air laut. Rongga dalam jaringan selulosa yang ditinggalkan karbohidrat dan gula, akan diisi oleh garam air laut. Larva kumbang bubuk, teter dan rayap juga tak mau makan jaringan bambu dan kayu yang bergaram. Bambu yang direndam air laut lebih diterima masyarakat dibanding yang direndam lumpur. Sebab yang direndam air laut, warna serta aromanya tidak seburuk bambu dan kayu yang direndam lumpur. Sekarang, rumah dari material kayu dan bambu yang telah diawetkan, justru jadi barang elite yang mahal. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
