KUMBANG TANDUK HAMA SAWIT
by indrihr • 09/07/2024 • Uncategory • 0 Comments
Produktivitas sawit saat pertama berbuah, bisa turun sampai 60% akibat serangan kumbang tanduk, Asiatic rhinoceros beetle, Oryctes rhinoceros. Kematian tanaman sawit muda yang belum pernah berbuah, bisa mencapai 25% akibat serangan kumbang tersebut.
Tahun 2017, Joni Handoko, Hafiz Fauzana dan Agus Sutikno; menuliskan hasil penelitian mereka berjudul: Populasi dan Intensitas Serangan Hama Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros Linn.) Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Belum Menghasilkan; dalam Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Riau, Vol 4, No 1. Dalam hasil penelitian tersebut, dipaparkan bahwa serangan kumbang tanduk bisa menurunkan produktivitas buah perdana kelapa sawit sampai 60%; dan mengakibatkan 25% kematian pada tanaman yang belum berbuah. Kumbang tanduk memang hama paling merusak bagi tanaman suku palem-paleman (Arecaceae).
Dulu, sebelum sawit menjadi komoditas unggulan Indonesia dan Malaysia, kumbang tanduk merupakan hama utama kelapa. Kelapa yang terserang kumbang tanduk, tampak dari daunnya yang tampak seperti terpotong melintang. Apabila serangan sudah parah hingga sampai ke titik tumbuh, kelapa akan mati. Kumbang tanduk tak hanya menyerang sawit dan kelapa melainkan juga semua jenis tanaman suku palem-paleman termasuk sagu, aren dan salak. Serangan kumbang tanduk pada tanaman aren tak seganas pada sawit dan kelapa karena jaringan muda aren terlindung oleh ijuk, serat yang tumbuh di tepi pelepah daun.
Salak dan sagu juga tak luput dari serangan kumbang tanduk. Bedanya, kumbang tanduk tak menyerang jaringan muda pada titik tumbuh salak, melainkan memakan kuncup bunganya. Tanaman salak tidak akan mati, tetapi produktivitas buah menurun tajam. Sama dengan kelapa dan kelapa sawit, sagu juga diserang kumbang tanduk pada jaringan muda titik tumbuhnya. Ledakan hama kumbang tanduk sebenarnya juga diakibatkan oleh pola budidaya monokultur. Sawit yang dibudidayakan secara monokultur telah melipatgandakan populasi kumbang tanduk hingga potensial mendatangkan kerugian cukup besar bagi pekebun.

Selama 95 hari kumbang tanduk dewasa (imago) hidup dalam jaringan muda tumbuhan suku palem-paleman yang menjadi makanannya. Larvanya (instar) hidup dalam tanah selama 72 hari dengan memakan humus. Pada umur 20 hari pupa akan keluar dari dalam tanah lalu menempel di pohon. Imago akan keluar pelan-pelan dari pupa dan menjadi kumbang tanduk dewasa untuk kawin dan bertelur sebanyak 30 butir selama tiga sampai empat kali di pangkal batang palma. Dalam jangka waktu 12 hari telur akan menetas menjadi instar. Jadi dalam waktu setengah tahun sepasang kumbang tanduk akan berbiak menjadi 90 sampai dengan 120 ekor.
Dijebak dengan Akasia Golden
Membasmi kumbang tanduk menggunakan pestisida kontak hampir tidak mungkin. Imago kumbang tanduk hidup dalam jaringan tanaman, instarnya berada dalam tanah yang tidak bisa tersentuh pestisida kontak. Penggunaan pestisida sistemik juga dihindari karena jenis pestisida ini akan berada dalam jaringan tumbuhan cukup lama, agar bisa meracuni (membunuh) hama pemakan jaringan tanaman tersebut. Dampaknya akan membahayakan manusia yang mengonsumsi produk sawit dan kelapa karena residu pestisida sistemik akan tetap berada dalam tandan buah sawit dan kelapa dalam jangka waktu lama.
Untunglah ada cara sederhana untuk membasmi kumbang tanduk secara manual dengan menggunakan jebakan bunga akasia golden, desert cassia, Senna polyphylla. Getah (resin) tumbuhan asli Amerika Tropis ini ternyata sangat disukai kumbang tanduk. Akasia golden berbentuk perdu, berbunga kuning cukup mencolok. Awalnya ada perusahaan perkebunan sawit menanam perdu akasia golden di tepi jalan pembatas petak kebun sebagai hiasan. Ternyata banyak sekali kumbang tanduk yang hinggap di batang, dahan dan ranting akasia golden. Kumbang tanduk ini mengerat kulit kayu dan memakannya.
Petugas pembasmi hama di perkebunan tersebut cukup berbekal karung menangkapi kumbang tanduk di dahan akasia golden. Kadang juga cukup dengan mengguncang-guncang pokok perdu itu sampai kumbang tanduk di tajuknya berjatuhan untuk diambil satu persatu. Imago kumbang tanduk itu bisa langsung dibakar, atau diawetkan sebagai suvenir. Mengingat banyaknya populasi kumbang tanduk yang bisa dijebak menggunakan akasia golden, para pekebun sawit cenderung memusnahkan kumbang tanduk tersebut dengan membakarnya. Cara ini cukup efektif mengendalikan populasi kumbang tanduk di kebun sawit.
Akasia golden mudah dikembangbiakkan lewat biji. Tanaman ini relatif bandel. Serangan kumbang tanduk yang menghilangkan sebagian kulit batang dan cabang, kadang membuat cabang bahkan tanaman itu mati. Tetapi dari bagian pangkal cabang/batang itu akan segera tumbuh tunas baru untuk menggantikan cabang/batang yang mati. Meskipun cara menjebak kumbang tanduk ini cukup efektif di perkebunan sawit, masih belum banyak yang tahu dan melakukannya. Beda dengan pemanfaatan burung hantu serak Jawa, Tyto javanica untuk mengendalikan hama tikus pohon pemakan buah sawit.
Dengan cepat Tyto javanica populer sebagai pengendali tikus pohon di kebun sawit. Tyto javanica kemudian juga dimanfaatkan sebagai pengendali tikus sawah. Meski kerugian akibat serangan kumbang tanduk di kebun sawit cukup besar, tetapi perdu akasia golden sebagai “penjebak” hama yang cukup efektif nyaris tak terdengar. Membeli benih akasia golden di pasar online juga harus cermat. Sebab Senna polyphylla terdiri dari tiga varietas: Senna polyphylla var. montis-christi; Senna polyphylla var. neglecta; dan Senna polyphylla var. polyphylla. Yang paling efektif menjebak kumbang tanduk Senna polyphylla var. polyphylla. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
