• “PERANG” ANTARA TEH WANGI DENGAN TEH CELUP

    by  • 15/07/2024 • Uncategory • 0 Comments

    Di tepi jalan Purbalingga dan Banjarnegara, Jawa Tengah, tampak dijajakan jeruk dan jambu air. Sekarang, sawah-sawah di dua Kabupaten itu memang banyak yang ditanami jeruk dan jambu air, untuk menggantikan melati gambir.

    Dulu, dua kabupaten itu merupakan penghasil melati gambir utama di Indonesia. Melati gambir, common jasmine, Jasminum officinale dibudidayakan di dataran tinggi Purbalingga dan Banjarnegara sebagai campuran teh wangi, Chinese tea, jasmine tea. Dulu agroindustri teh di Indonesia hanya menghasilkan teh hitam untuk diekspor dan teh wangi untuk dipasarkan di dalam negeri. Teh wangi dibuat dari teh oolong yang dicampur dengan bunga melati. Meskipun teh wangi juga bisa diproduksi menggunakan melati putih, Arabian jasmine, Jasminum sambac; tetapi pengusaha teh wangi lebih banyak menggunakan melati gambir.

    Tingkat keharuman melati gambir memang lebih tinggi dibanding melati putih. Hingga dengan bobot dan volume sama, melati gambir bisa mendatangkan aroma wangi lebih kuat dibanding melati putih. Di desa-desa penghasil jeruk dan jambu air di Purbalingga dan Banjarnegara, masih bisa kita jumpai rumah-rumah bagus sebagai “saksi bisu” masa kejayaan melati gambir. Sekarang pun melati gambir masih dibudidayakan di dua kabupaten itu, tetapi luas arealnya menyusut drastis dibanding dekade 1980. Sebab sejak dekade itu datanglah era teh celup yang dipelopori oleh Sari Wangi.

    Sekarang pasar teh di Indonesia memang lebih beragam. Teh wangi tetap diproduksi dan dipasarkan. Tetapi pasar teh di Indonesia sudah didominasi oleh teh celup. Sebab kemudian perusahaan teh wangi kemasan (teh tubruk) juga memproduksi teh celup. Tetapi pasar teh celup Indonesia saat ini didominasi oleh dua merk, Sariwangi dan Lipton. Dua brand ini sekarang dipegang oleh Unilever. Dulu Lipton dikemas di Singapura dengan teh dari Darjeeling, India. Kemudian brand Sariwangi dan Lipton dibeli oleh Unilever dan diproduksi di Indonesia dengan bahan 100% teh Indonesia.

    Baik teh celup Sariwangi maupun Lipton sama-sama menggunakan teh hitam. Sedangkan perusahaan teh wangi juga mulai memproduksi teh celup dengan bahan teh wangi. Di luar dua jenis teh itu, konsumen Indonesia juga mulai minum teh hijau, teh oolong, teh kuning dan teh putih secara terbatas. Hingga di swalayan besar, tersaji aneka jenis teh, terutama teh hitam, teh wangi dan teh hijau. Teh oolong, teh putih dan teh kuning masih diproduksi secara terbatas dan dipasarkan lewat jalur pasar khusus (captive market). Dari jenis-jenis teh itu, yang “berperang” secara frontal jenis teh wangi tubruk dengan teh hitam celup.

    Warisan Belanda

    Indonesia memang agak aneh. Negara penghasil kopi utama dunia tetapi tahun 2010 konsumsi kopinya kurang dari 0,5 kilogram per kapita per tahun, setara dengan Laos. Tetapi sejak 2011 ada booming kopi. Konsumsi kopi Indonesia naik tajam hingga tahun 2018 sudah berada di tingkat 2 kilogram per kapita per tahun. Meskipun terjadi “perang” antara teh wangi tubruk dengan teh hitam celup, sebenarnya produksi dan konsumsi teh Indonesia relatif stabil. Pertumbuhan industri dan konsumsi teh kita naik pelan-pelan mengikuti pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

    Karenanya, kebun-kebun teh kita hampir tidak tumbuh. Peningkatan konsumsi teh nasional, hanya mengakibatkan mengecilnya ekspor karena serapan teh hitam dalam negeri. Perkebunan teh di Indonesia terdiri dari swasta, PTPN, dan teh rakyat. Perkebunan teh swasta dan PTPN dulunya hanya memproduksi teh hitam untuk diekspor. Belakangan mereka juga memasok teh hitam ke Unilever untuk produksi teh celup, yang diserap pasar nasional dan hanya sebagian yang diekspor. Sedangkan teh rakyat hampir 100% memproduksi teh wangi kemasan dan hanya sebagian kecil dijadikan teh wangi celup.

    Teh, Camellia sinensis yang dibudidayakan di Jawa dan Sumatera awalnya hanya Camellia sinensis var. sinensis dari China. Kemudian Belanda mendatangkan Camellia sinensis var. assamica dari India karena produktivitasnya lebih tinggi. Saat ini, di dunia ada empat varietas teh. Camellia sinensis var. assamica dari India, Indochina dan China; Camellia sinensis var. dehungensis dari China Tengah; Camellia sinensis var. pubilimba dari China Tengah dan Timur; Camellia sinensis var. sinensis dari China Tengah dan Timur. Teh yang dibudidayakan di dunia saat ini, umumnya sudah merupakan silangan baru.

    Di Indonesia, teh hanya bisa tumbuh dan produktif di dataran tinggi dengan elevasi di atas 1.000 meter dpl. Itulah sebabnya kebun-kebun teh di Indonesia selalu berlokasi di kawasan pegunungan atau berada di lereng gunung. Karena berudara sejuk dan berpemandangan bagus, kebun teh Indonesia juga berubah menjadi obyek wisata agro. Dekade 1980, Kebun Teh Gunung Mas di jalur Puncak dengan Tabloid Mutiara merintis aktivitas tea walk. Inilah perintis wisata agro kebun teh di Indonesia. Sekarang hampir semua kebun teh punya unit kegiatan wisata agro. Yang cukup maju antara lain Kebun Teh Wonosari di Lawang, Jatim dan Kebun Teh Tambi di Wonosobo, Jateng.

    Selain karena berudara sejuk dan berpemandangan bagus, kebun teh bisa mengakomodasi aktivitas wisata karena tanaman teh relatif bandel. “Mau ada 2.000 orang sekaligus masuk ke kebun teh, tak masalah. Tanaman tak akan rusak karena patah atau terinjak-injak.” Kata pengelola aktivitas wisata agro di Wonosari. Tahun 2023 ini, aktivitas wisata agro di kebun teh di Indonesia seperti booming. Sebab selama tiga tahun, 2020, 2021 dan 2022; bisnis wisata di seluruh dunia “tiarap” bahkan banyak yang tewas karena pandemi Covid 19. Jadi tahun 2023 seperti “membayar” hutang selama tiga tahun “paceklik”. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *