LEGUNDI SEBAGAI PESTISIDA NABATI
by indrihr • 28/08/2024 • Uncategory • 0 Comments
Pada dekade 1960, daun legundi, simpleleaf chastetree, Vitex trifolia; digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia untuk membasmi kepinding, kutu busuk, bed bugs, Cimex lectularius. Sebagai “pestisida nabati” efektivitas daun legundi cukup tinggi.
Sampai dengan dekade 1980, kepinding masih sangat mudah dijumpai di mana-mana. Di kursi dan tempat tidur rumah tangga, angkutan umum, rumah sakit, penjara dll. Sebelum dekade 1980, sebagian masyarakat di pulau Jawa tidur di atas balai-balai (ambèn) bambu. Sebagai pengganti papan, digunakan “galar” berupa bambu yang dilebarkan dengan cara dibelah hanya di satu sisi, dibacok-bacok menggunakan golok, lalu dipres dan dijemur. Di celah-celah belahan galar inilah kepinding aman bersembunyi. Biasanya masyarakat menjemur galar saat panas terik sambil sesekali ditegakkan dan dipukul-pukul agar kepinding jatuh.
Cara ini menguras tenaga dan tak efektif. Telur kepinding tidak ikut jatuh dan setelah menetas kembali berkembangbiak. Waktu itu pestisida pembasmi serangga seperti Baygon dll. belum ada. Maka masyarakat pun menggunakan daun legundi untuk membasmi kepinding. Caranya, galar dibalik, lalu daun legundi ditaruh di atasnya, kemudian tikar dibentangkan. Meskipun daun telah mengering, tetap dibiarkan sampai sekitar dua minggu sampai satu bulan, baru diganti dengan daun baru. Demikian seterusnya sampai siklus hidup kepinding terputus. Cara ini efektif membasmi kepinding meskipun tak bisa memusnahkannya.
Kepinding baru “punah” setelah industri pestisida untuk rumah tangga tumbuh di Indonesia. Lalu legundi dilupakan. Generasi kelahiran dekade 1950 pun banyak yang tak tahu daun legundi, meski mereka pernah merasakan gangguan kepinding. Sebab pada dekade sebelum 1980 pun, pengguna daun legundi untuk membasmi kepinding juga hanya sebatas mereka yang tahu, dan di kawasan tersebut tumbuh daun legundi liar. Semak berkayu legundi tumbuh di dataran rendah, terutama di tepi pantai sampai ke dataran tinggi dengan elevasi 1.200 meter dpl. Hingga sebenarnya rentang elevasi habitat legundi sangat panjang.

Daun legundi efektif membasmi kepinding karena mengandung 2-β-Pinene (16,18 %), trans-Caryophyllene (13,75 %), β-Ocimene (11,16 %), Cyclohexanol (10,03 %) dan Eucalyptol (5,45 %). Zat-zat itu bukan hanya efektif membasmi kepinding, melainkan juga serangga lain pada umumnya. Di Samoa, Pasifik Selatan, daun legundi kering dibakar untuk mengusir nyamuk. Hingga potensi daun legundi sebagai pestisida nabati yang aman bagi manusia cukup besar. Bahkan minyak asiri daun legundi juga efektif dan aman untuk membasmi kutu beras, the rice weevil, Sitophilus oryzae.
Minyak Legundi Rp2.25 Juta
Untuk menanggulangi kutu beras secara massal, bukan digunakan daun legundi segar, melainkan minyak asirinya. Penggunaan minyak asiri legundi dalam pengendalian kutu beras relatif lebih aman dibanding pestisida lain, sebab daun legundi juga dimanfaatkan sebagai anodin/analgesik (pereda nyeri), antiseptik (desinfektan kulit manusia), diuretik (pelancar urine), emmenagogue (pelancar menstruasi) dan antipiretik (penurun demam) dalam pengobatan tradisional dengan cara dikonsumsi. Tetapi masyarakat tradidional tidak lazim mengonsumsi pucuk legundi sebagai sayuran, karena aromanya yang sangat menyengat.
Sebagai pembasmi kepinding pun aroma daun legundi sudah cukup mengganggu mereka yang tidur di atasnya. Aroma ini berasal dari minyak asiri yang bisa diambil dari daun berikut ranting daun legundi. Raw material ini dilayukan dengan cara diangin-anginkan. Dalam keadaan setengah kering, daun dan ranting itu disuling dengan metode kukus (uap panas). Rendemen minyak legundi hanya 0,1 % (dari satu kuintal daun diperoleh 100 gram minyak legundi. Harga minyak legundi di tingkat konsumen 150 dolar AS per kilogram dengan pembelian antara 1 kilogram sampai dengan 49 kilogram.
Dengan kurs 1 dolar AS Rp15.000, harga 1 kilogram minyak legundi Rp2,25 juta atau Rp 225.000 per 100 gram. Di tingkat produsen harga pasti lebih rendah. Sebenarnya legundi liar banyak tumbuh di Indonesia. Ini ditandai dengan adanya desa atau kampung bernama Legundi. Misalnya di Gresik, Jombang dan Ngawi, Jawa Timur; Pekalongan, Jawa Tengah; serta Ketapang, Lampung. Sampai sekarang pun lagundi mudah dijumpai di kawasan pantai berpasir hampir di seluruh Indonesia. Meskipun legundi liar ada di mana-mana, belum ada yang memanfaatkan daunnya untuk disuling. Minyak legundi yang ditawarkan di marketplace berasal dari China.
Habitat asli legundi terbentang sangat luas mulai dari pantai timur Afrika, Asia termasuk Indonesia, Australia dan Kepulauan Pasifik. Aslinya legundi tumbuhan pantai. Biji legundi yang keras mampu bertahan di atas air laut dalam rentang waktu lama sampai terdampar dan tumbuh di tempat barunya. Tetapi legundi juga bisa beradaptasi jauh ke daratan dengan elevasi 1.200 meter dpl. Bahkan di daratan Asia dan Australia habitat legundi juga sampai ke kawasan sub tropis. Kemudian tercipta dua varietas legundi: Vitex trifolia var. taihangensis yang hanya hidup di kawasan subtropis China, dan Vitex trifolia var. trifolia dengan habitat dari Afrika sampai Pasifik.
Para petani sayuran bisa memanfaatkan daun legundi untuk menanggulangi hama ulat, thrips dan kutu daun. Caranya dengan ditumbuk, diberi air, disaring dan disemprotkan sebagai racun kontak. Bisa pula dengan menjadikannya sebagai mulsa. Sudah banyak sekali penelitian daun legundi sebagai pestisida nabati, baik yang dikerjakan para peneliti Indonesia maupun asing (berbahasa Inggris). Informasi tentang hasil penelitian legundi tersebut, sekarang mudah diakses melalui jaringan online, termasuk untuk diunduh. Di tengah tingginya harga pestisida pabrik, legundi merupakan pestisida nabati yang menjanjikan. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
