GAMAL DAN LAMTORO PEMBASMI ALANG-ALANG
by indrihr • 20/09/2024 • Uncategory • 0 Comments
Dekade 1960, kosa kata “ganyang” sangat populer terkait gerakan “Ganyang Malaysia” yang digelorakan Presiden Sukarno. Lalu tumbuhan peneduh dan pakan ternak mother of cocoa, quickstick, Gliricidia sepium; diberi nama gamal, akronim dari ganyang mati alang-alang.
Gliricidia sepium memang pantas diberi nama gamal karena terbukti efektif membasmi alang-alang. Pada musim kemarau, lahan yang penuh alang-alang dibakar lalu benih (biji) gamal ditebar. Nanti pada musim penghujan biji gamal akan bertumbuhan. Pertumbuhan tanaman ini sangat cepat hingga tajuknya akan segera menutup alang-alang. Sebagai tumbuhan pionir alang-alang akan mati apabila tak mendapatkan sinar matahari optimum. Dalam waktu dua sampai tiga tahun, gamal akan menutup rapat lahan alang-alang. Saat batang gamal sebesar lengan, kayunya dipanen dan lahan diolah untuk ditanami jagung dll.
Gamal bisa dibudidayakan dengan benih biji maupun stek. Stek gamal sebesar lengan sepanjang 1,5 meter yang ditancapkan ke tanah, dalam waktu 1 – 2 bulan sudah bisa tumbuh setinggi 2 – 2,5 meter. Karena mudah ditanam dari stek, masyarakat Jawa Barat dan Banten menyebut gamal dengan nama cepbreng, ditancep langsung breng (tumbuh). Bahkan potongan ranting yang tercecer jatuh di tanah pun akan bertunas dan tumbuh. Sama dengan orang Sunda, masyarakat Jamaika dan Guyana menyebut tanaman ini dengan nama quickstick (tongkat cepat), maksudnya tongkat yang cepat tumbuhnya.
Gamal memang tumbuhan asli dari benua Amerika yang beriklim tropis. Tumbuhan ini diintroduksi sebagai pelindung tanaman perkebunan pada awal abad 20. Gamal yang sebelumnya hanya tanaman pelindung di perkebunan kopi dan kakao, dalam waktu singkat menyebar ke masyarakat. Di Jawa Barat dan Banten disebut cepbreng, ada pula yang menyebutnya “lirik si dia” dari kata Gliricidia. Nama gamal yang merupakan akronim dari ganyang mati alang-alang baru digunakan pada pertengahan dekade 1960. Nama ini diilhami kosa kata ganyang terkait dengan frasa “Ganyang Malaysia’.

Dalam waktu singkat gamal memasyarakat sebagai tanaman penghijauan lahan-lahan kritis. Sebagai tumbuhan suku Polong-polongan, Fabaceae; gamal mampu mengambil Nitrogen bebas (N2) langsung dari udara lewat klorofil, kemudian menyimpannya dalam bintil akar berkat simbiosis dengan bakteri Rhizobium leguminosarum. Hingga tumbuhan suku polong-polongan termasuk gamal memang bisa membantu menyuburkan lahan gersang yang sebelumnya ditumbuhi alang-alang. Suku polong-polongan mampu memberi tambahan cadangan Nitrogen ke dalam tanah lewat bintil akar.
Pakan Ternak dan Pupuk Hijau
Lamtoro, kemlandingan, petai china, Leucaena leucocephala ssp. leucocephala, sebenarnya sudah masuk ke Kepulauan Nusantara pada abad 17 dari Filipina. Bangsa Spanyol membawa lamtoro dari Amerika Tengah ke Filipina pada abad 16. Lamtoro juga digunakan sebagai tanaman pelindung di perkebunan kopi dan kakao. Pada dekade 1970 masuklah kultivar lamtoro gung, Leucaena leucocephala subsp. Glabrata; yang menjadi dominan dan memunahkan lamtoro Leucaena leucocephala ssp. Leucocephala yang sudah lebih awal memasyarakat di Kepulauan Nusantara.
Efektivitas lamtoro sebagai pembasmi alang-alang juga cukup baik. Meskipun daun lamtoro lebih sempit dibanding daun gamal, tetapi lamtoro mampu tumbuh lebih rapat dan lebih cepat dibanding gamal. Lamtoro bahkan dikenal sebagai tumbuhan invasif. Sebab produksi biji lamtoro per tanaman per tahun lebih banyak dibanding gamal. Ukuran biji lamtoro juga lebih kecil hingga mudah menyusup masuk ke dalam tanah. Dalam praktek lamtoro juga digunakan untuk membasmi alang-alang. Sama dengan gamal, daun lamtoro juga merupakan hijauan pakan ternak dan pupuk hijau.
Sebagai tanaman penghasil pakan ternak, lamtoro lebih unggul dari gamal. Sebab pada musim kemarau, saat produksi rumput menurun, dan hijauan alternatif diperlukan; gamal justru merontokkan daunnya dan menumbuhkan bunga. Sedangkan daun lamtoro tumbuh sepanjang tahun, hingga bisa menjadi hijauan alternatif bagi ternak ruminansia. Gamal dan lamtoro sama-sama merupakan sumber pupuk hijau potensial bagi pertanian. Pupuk hijau lebih unggul dari kompos sebab bisa cepat terurai menjadi nutrisi dan diserap akar tanaman dibanding daun-daunan lain yang perlu dikomposkan.
Lamtoro juga lebih unggul dari gamal karena bijinya bisa dikonsumsi manusia dalam keadaan segar maupun setelah diolah sebagai sayuran, botok maupun tempe. Sedangkan biji gamal hanya bisa dikonsumsi manusia sebagai bahan kecap. Dulu, lamtoro merupakan bahan pangan rakyat jelata yang kesulitan mendapatkan bahan pangan lain. Sekarang botok lamtoro juga dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah dan atas, serta ditawarkan secara online di marketplace. Lamtoro hampir tak pernah ditanam sebagai elemen taman karena tajuk, bentuk daun serta bunganya yang tidak indah.
Beda dengan gamal yang karena keindahan bunganya, mulai ditanam di pantai wisata dan diberi predikat “sakura lokal”. Misalnya di “Pantai Sakura” Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pemilik lahan di kiri kanan jalan Abdulrachman Saleh, Malang, menanam gamal dalam jarak rapat sebagai pagar hidup. Antara bulan Juli sampai Oktober tanaman gamal itu penuh dengan bunga berwarna pink, tumbuh di dahan dan ranting yang meranggas. Sebuah sensasi mata, juga hati yang mengesankan bagi mereka yang datang maupun pergi melalui Bandara Abdulrachman Saleh, Malang. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
