MANGGIS MANIS, MASAM DAN TANPA BIJI
by indrihr • 30/09/2024 • Uncategory • 0 Comments
Orang Asia termasuk Indonesia lebih suka manggis yang manis. Sedangkan orang Eropa lebih menyenangi manggis dengan rasa masam. Semasam-masamnya manggis, pasti masih layak dikonsumsi segar tanpa tambahan gula.
Varian bentuk, ukuran dan rasa buah manggis, bukan disebabkan oleh faktor genetik, melainkan fantor lokasi dan cara budidaya menyangkut agroklimat, ketersediaan air, sinar matahari dan nutrisi di dalam tanah. Air dan nutrisi di dalam tanah bisa direkayasa ketersediaannya. Sedangkan sinar matahari dalam budidaya manggis merupakan faktor agroklimat yang tidak mungkin direkayasa. Beda dengan buah naga yang kebutuhan sinar mataharinya bisa direkayasa menggunakan lampu listrik. Selain untuk buah naga, sampai sekarang belum ada penggunaan lampu untuk budidaya buah secara masal.
Secara genetik semua pohon manggis akan menghasilkan buah yang sama karena berasal dari proses vegetatif, bukan generatif. Kepala putik manggis berupa jaringan maternal (induk betina) yang langsung tumbuh menjadi buah; bukan embrio (bunga betina) yang baru akan menjadi buah apabila diserbuki polen bunga jantan. Bunga jantan manggis bersifat rudimenter, tumbuh tidak sempurna dan tidak menghasilkan polen. Buah manggis disebut buah apomiksis. Lembaga (kecambah) pada biji manggis juga berasal dari jaringan maternal dan bukan dari embrio. Tingkat keseragaman benih manggis asal biji sangat tinggi.
Meskipun secara genetik manggis memiliki sifat-sifat (karakter) sama, kenyataannya banyak sekali varian buah manggis dari bentuk, ukuran dan rasa manis, masam. Juga ada manggis yang banyak bijinya, ada yang sama sekali tak berbiji. Varian manggis ini disebabkan oleh faktor agroklimat. Manggis menghendaki suhu udara sedang dengan tingkat kelembapan tinggi. Elevasi sentra manggis selalu di dataran menengah antara 400 sampai dengan 700 meter dpl. Ditanam di dataran rendah, misalnya di sekitar DKI Jakarta, atau di dataran tinggi, manggis tak akan tumbuh optimum.

Pernah ada seorang teman menanam manggis dan lengkeng di Ruteng, Kab. Manggarai, NTT. Lengkengnya tumbuh bagus manggisnya mati. Ruteng dengan elevasi 1.188 meter dpl. Dengan tingkat kelembapan rendah, terlalu dingin dan terlalu kering untuk manggis. Sebaliknya lengkeng yang menghendaki udara dingin dan kering tumbuh subur. Sentra penghasil manggis utama di Indonesia selalu terletak di dataran menengah, dengan curah hujan tinggi. Misalnya di Kab. Pandeglang, Banten dan Kab. Purwakarta, Jawa Barat. Dua daerah ini terkenal dengan manggis kualitas ekspornya.
Klaim yang Meragukan
Tahun 1994 Institut Penyelidikan dan Kemajuan Pertanian Malaysia (the Malaysian Agricultural Research and Development Institute, MARDI) mengklaim telah menemukan manggis tanpa biji di Semenanjung Malaya. Tahun 2008 Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT), sebelumnya bernama Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT), Institut Pertanian Bogor (IPB); juga mengklaim menemukan kultivar manggis tanpa biji di Malinau, Sulawesi Selatan. Klaim dari dua lembaga kredibel tersebut telah mengilhami para penjual benih untuk menawarkan bibit manggis tanpa biji sambungan (okulasi).
Padahal benih manggis sambungan akan tumbuh kerdil, umur lima tahun baru setinggi satu meter meskipun sejak umur dua tahun sudah berbuah. Sedangkan bibit manggis asal biji, umur lima tahun sudah empat meter dan mulai berbuah. Para petani manggis Thailand selalu menanam manggis langsung dari biji. Karena manggis rentan dicabut dan ditanam ulang, di Thailand manggis tak pernah disemai. Biji manggis langsung ditanam di lahan dengan jarak yang sudah ditentukan. Dengan cara ini umur empat tahun manggis sudah mulai berbuah. Jadi jangan pernah terbujuk untuk membeli benih manggis sambungan tanpa biji.
Klaim manggis tanpa biji dari MARDI dan PHBT- IPB sebenarnya juga meragukan. Buah tanpa biji disebut partenokarpi, yakni buah terbentuk dari embrio tanpa melalui proses pembuahan inti generatif terhadap sel telur. Pisang, sukun dan semangka/anggur tanpa biji contoh buah partenokarpi. Pisang dan sukun buah partenokarpi alami, semangka/anggur tanpa biji partenokarpi buatan. Buah partenokarpi beda dengan buah apomiksis pada manggis yang berasal dari jaringan maternal induk betina. Buah apomiksis, termasuk yang berkromosom 33 (triploid, 3N) tetap berbiji, sedangkan buah partenokarpi pasti tak berbiji.
Buah apomiksis tidak mungkin sekaligus partenokarpi. Sebenarnya manggis tanpa biji juga ada. Mundar, Garcinia parvifolia yang masih satu genus dengan manggis malah hampir semua tanpa biji. Dalam satu karung berisi ratusan buah mundar, hanya ada belasan yang berbiji. Itu pun dalam satu buah hanya ada satu biji. Manggis pun sama. Dalam satu buah hanya akan ada satu dua segmen buah yang berbiji. Tentu ada pula yang sama sekali tak berbiji. Tetapi hampir tidak mungkin ada individu tanaman dengan buah 100% tanpa biji. Kalau pun ada, manggis juga tak ekonomis diperbanyak secara sambungan.
Manggis Garcinia mangostana, salah satu spesies dari 405 spesies dalam genus Garcinia, suku manggis-manggisan, Clusiaceae. Ada tiga infraspecifics dari spesies Garcinia mangostana: 1 Garcinia mangostana var. borneensis dari Kalimantan; 2 Garcinia mangostana var. malaccensis dari Semenanjung Malaya dan Kalimantan; 3 Garcinia mangostana var. mangostana dari Semenanjung Malaysia. Diduga, manggis tanpa biji MARDI dan PKBT itu varian dari Garcinia mangostana var. malaccensis dan Garcinia mangostana var. borneensis. Tetapi hampir tidak mungkin varian tanpa biji ini dikembangkan. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
