LANGKAP SI “AREN MINI”
by indrihr • 22/10/2024 • Uncategory • 0 Comments
Di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, DKI; ada Kelurahan Cilangkap. Di Kecamatan Gumelar, Banyumas, Jateng; juga ada Kelurahan Cilangkap,. Di Kec. Kertanegara, Purbalingga, Jateng; ada Desa Langkap. Ci (cai) berasal Bahasa Sunda artinya air atau sungai. Sedangkan langkap nama tumbuhan palma.
Kelurahan dan desa itu bernama Cilangkap dan Langkap karena dulunya kawasan tersebut berupa rawa atau sungai dengan banyak tumbuhan langkap, Sumatra sugar palm, Arenga obtusifolia. Sampai sekarang langkap masih banyak tumbuh di Taman Nasional Ujung Kulon, Pangandaran dan Nusakambangan. Langkap merupakan tumbuhan dataran rendah dengan elevasi 0 meter dpl. Sampai 500 meter dpl. Jadi wajar kalau dulunya Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur; Gumelar, Banyumas; dan Kertanegara, Purbalingga; banyak ditumbuhi pohon langkap.
Langkap sering disebut “aren mini”, karena bentuk tanamam, bunga dan buah mirip aren, enau, kaung, sugar palm, Arenga pinnata. Di Sumatera, langkap juga disadap bunganya untuk diambil air niranya. Itulah sebabnya dalam Bahasa Inggris langkap disebut Sumatra sugar palm. Selain bentuk tanaman termasuk daun dan bunga; langkap benar-benar mirip aren karena juga berijuk. Ijuk adalah serabut warna hitam yang tumbuh di pangkal pelepah daun, dan membalut batang. Fungsi ijuk mengikat pelepah sekaligus melindungi batang dari gangguan hewan pengerat. Langkap beda dengan aren karena ukuran tananamannya lebih kecil.

Selain langkap, di hutan hujan dataran rendah juga banyak tumbuh pohon aping, Arenga porphyrocarpa. Dibanding langkap, ukuran aping lebih kecil. Bentuk daun aping juga beda dengan langkap dan aren. Habitat aping juga hutan hujan dataran rendah. Bedanya, langkap hanya hidup di elevasi 0 – 500 meter dpl; aping dari 0 – 700 meter dpl. Aping juga lebih sulit dijumpai dibanding langkap yang bisa menjadi sangat invasif hingga keberadaannya bisa mendesak spesies lain. Dalam satu areal kawasan hutan bisa dijumpai pohon langkap tumbuh homogen, sedangkan aping hanya bisa ditemukan satu-dua pohon.
Langkap, aren dan aping hanya tiga dari 24 spesies genus Arenga, suku Pinang-pinangan (Palem-paleman, Arecaceae); dengan habitat tersebar di India, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, China, Malaysia, Filipina, Indonesia, Papua Nugini dan Australia. Dari 24 spesies dalam genus Arenga itu, aren merupakan spesies paling penting sebagai penghasil gula hingga disebut “sugar palm”. Aren merupakan tumbuhan populer di Indonesia karena batangnya mengandung pati seperti sagu, ijuknya merupakan serat yang sangat kuat dan tahan lapuk. Lidinya untuk sapu, kolang-kalingnya bahan pangan penting berkolagen tinggi.
Potensi Langkap
Selain di Sumatera, langkap masih belum dimanfaatkan sebagai tumbuhan penghasil gula. Di Pulau Jawa, langkap hanya dikenal sebagai tumbuhan hutan oleh para jagawana dan masyarakat di sekitar hutan. Itu pun hanya sebatas oleh generasi tua. Para petinggi TNI yang bermarkas di Cilangkap, belum tentu tahu bahwa kawasan tersebut dulunya hutan yang didominasi pohon langkap. Warta Kota bahkan menyebutkan bahwa kelurahan di Jakarta Timur itu disebut Cilangkap, karena banyak penduduknya berasal dari Desa Cilangkap, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. https://wartakota.tribunnews.com/2023/08/10/sejarah-jakarta-kelurahan-cilangkap-dari-warga-banyumas-hingga-pentagon-indonesia
Karena banyak yang belum mengenalnya, potensi langkap juga belum termanfaatkan secara optimum. Sebagai tanaman hias pun langkap kalah dari palem raja, palem putri, palem ekor tupai dll. Bahkan langkap juga kalah dari aping. Palma hutan ini satu dua sudah dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Barangkali karena ukuran aping yang tak segede langkap. Tetapi palem raja yang bisa jadi “raksasa” itu pun juga apopuler sebagai tanaman hias. Tak dikenalnya langkap sebagai elemen taman, antara lain juga karena para perancang taman tak mengenal jenis palma ini.
Sebagai penghasil gula, langkap tidak sehebat aren. Diameter batang aren rata-rata 40 sentimeter, dengan tinggi 25 meter. Batang langkap hanya berdiameter 20 sentimeter dengan tinggi rata-rata delapan meter. Hingga produksi nira langkap juga tak sampai separo dari produksi nira aren. Tetapi menyadap langkap tidak serumit menyadap aren, justru karena ukuran batang langkap yang lebih kecil, hingga lebih mudah dipanjat/dibersihkan sebelum pelepah bunga dipotong untuk diambil niranya. Menyadap nira aren cukup rumit terlebih pada bunga-bunga awal yang masih berada di pucuk tanaman.
Batang aren yang telah tua bisa dimanfaatkan bagian kerasnya untuk berbagai keperluan rumah tangga. Dulu tangkai cangkul selalu terbuat dari bagian keras pohon aren yang disebut “ruyung”. Tingkat kekuatan dan keawetan ruyung sangat tinggi. Batang langkap meskipun berukuran lebih kecil, porsi bagian kerasnya justru lebih banyak. Karena lurus tanpa tonjolan bekas tempat menempel pelepah daun, batang langkap lebih berpotensi dimanfaatkan sebagai perkakas rumah tangga maupun lantai/dinding rumah. Kekuatan dan keawetan batang langkap setara dengan batang aren.
Kelebihan langkap dibanding aren, karena spesies ini bisa berkembangbiak secara generatif dengan biji, sekaligus secara vegetatif menggunakan anakan (tunas akar). Potensi ini memungkinkan langkap bisa diperbanyak secara massal, sedangkan aren yang merupakan palma tunggal, hanya bisa dikembangbiakkan secara generatif melalui biji. Tetapi justru kelebihan langkap inilah yang di hutan bisa menjadi invasif hingga mendominasi suatu kawasan. Termasuk dulu di kawasan Jakarta Timur yang sekarang dikenal sebagai Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, tempat TNI bermarkas. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
