HIJAUAN PAKAN TERNAK
by indrihr • 05/11/2024 • Uncategory • 0 Comments
Di Amerika Serikat (AS), jagung bukan hanya dibudidayakan untuk dipanen tongkol tuanya. Jagung juga dipanen muda berikut tebon (batang jagung) dan daunnya menggunakan mesin penebas dan langsung dicincang untuk disimpan dalam bentuk silase.
Nilai gizi silase tebon, daun serta tongkol jagung muda sangat tinggi sebagai pakan sapi potong. Batang jagung tuapun juga dipanen dengan mesin dan digiling untuk pakan sapi, meskipun nilai gizinya tak setinggi batang jagung muda. Budidaya jagung sebagai pakan sapi memang lebih menguntungkan dibanding menanam jenis rumput lain. Mengingat jangka waktu panennya relatif singkat hanya sekitar 70 – 80 hari dengan nutrisi lengkap sebagai pakan sapi. Ini bukan hanya satu-satunya hijauan pakan sapi di AS. Populasi sapi pedaging di AS sebanyak 82,2 juta ekor, peringkat empat dunia.
Sama dengan jagung di AS, di China ubi jalar juga dibudidayakan sebagai bahan silase. Bedanya silase di China untuk pakan babi. Umbi, batang dan daun ubi jalar itu juga langsung dicincang untuk dijadikan silase. China merupakan penghasil ubi jalar dan babi terbesar dunia. Produksi ubi jalar China 2022 sebesar 46,6 juta ton. Sedangkan populasi ternak babi China 2022 sebanyak 452,56 juta ekor, sebesar 58,12 % dari total populasi babi dunia sebanyak 778,64 juta ekor. Sebagian besar limbah pertanian di China berupa hijauan, dijadikan silase untuk pakan ternak, terutama babi.
AS dan China negeri sub tropis yang pada musim dingin tidak ada hijauan sebagai pakan ternak. Itulah sebabnya mereka menyimpan hijauan dalam bentuk silase serta kering. Selama musim gugur, musim dingin dan musim semi, ternak yang biasa digembalakan akan masuk kandang dan diberi pakan silase atau hijauan kering. Indonesia yang terletak di kawasan tropis sebenarnya juga perlu menyimpan cadangan pakan ternak dalam bentuk silase atau hijauan kering. Karena dalam praktek pada musim kemarau peternak juga kesulitan mendapatkan hijauan sebagai bahan pakan.

Tetapi di lain pihak di sentra penghasil padi justru banyak jerami yang hanya dibakar sia-sia. Padahal jerami kering bisa menjadi salah satu alternatif pakan ternak, terutama sapi. Para peternak biasanya menyiram jerami kering itu dengan air garam atau air tetes tebu sebelum diberikan ke sapi mereka. Kadang para petani merendam jerami dan tebon kering dalam air ditambah urea. N dalam urea tersebut akan memacu pertumbuhan bakteri penghancur selulosa hingga bersamaan dengan enzim dalam lambung sapi akan membuat nutrisi jerami mudah diserap organ pencernakan.
Rasio Luas Lahan Hijauan
Ternak ruminansia memerlukan pakan berupa hijauan 10% dari bobot tubuhnya. Jadi sapi seberat 200 kilogram memerlukan hijauan 20 kilogram per hari. Satu hektare lahan tiap tahun akan menghasilkan hijauan berupa rumput maupun legume sebanyak 160 ton, atau per hari sebanyak 400 kilogram yang cukup untuk pakan bagi 20 ekor sapi bobot 200 kilogram. Pertumbuhan sapi dengan pakan hijauan per hari 0,5 kilogram. Hingga porsi pakan perlu ditambah 10% dari 0,5 kilogram per ekor per hari. Idealnya tiap hektar lahan hijauan hanya diperuntukkan bagi 10 ekor sapi atau 100 ekor kambing.
Hijauan berupa legum, suku polong-polongan Fabaceae berupa perdu akan menghasilkan hijauan sepanjang tahun hingga cocok ditanam di lahan kering. Hijauan berupa rumput atau legum tanaman semusim cocoknya dibudidayakan di lahan sawah hingga pada musim kemarau pun tetap bisa dipanen. Legum tanaman keras misalnya lamtoro, kaliandra, gamal, dan tarum pakan ternak. Disebut tarum pakan ternak (Indigofera zollingeriana) untuk membedakannya dengan tarum penghasil zat pewarna kain (nila, tom, Indigofera tinctoria). Legum berupa perdu juga menghasilkan kayu untuk bahan bakar.
Yang paling banyak dibudidayakan sebagai penghasil hijauan rumput gajah, rumput raja, rumput odot dan rumput setaria. Di Indonesia jarang peternak secara spesifik membudidayakan rumput di lahan berpengairan teknis. Umumnya rumput pakan ternak dibudidayakan di pematang sawah atau tebing ladang sebagai penahan erosi. Karena pada umumnya petani di pedesaan hanya memelihara dua tiga ekor sapi dan maksimal belasan ekor domba/kambing. Hanya peternakan besar yang membudidayakan rumput sebagai hijauan secara monokultur. Belakangan banyak yang membudidayakan rumput pakan ternak di bawah tegakan sengon.
Di Pulau Jawa pemelihara ternak ruminansia umumnya memanfaatkan limbah pertanian dan gulma sebagai pakan ternak. Tiap hari para peternak ini mengambil rumput dan gulma di lahan terbuka tepi jalan atau tebing ladang menggunakan sabit. Dulu rumput dan hijauan lain dibawa ke rumah dengan dipikul atau ditaruh di atas kepala. Sekarang para peternak membawa pulang hijauan pakan ternak menggunakan sepeda motor. Limbah pertanian yang laku dijual sebagai pakan ternak antara lain pucuk tebu, daun kacang tanah, sulur ubi jalar dan tebon jagung muda (jagung manis yang dipanen muda).
Hijauan pakan ternak berupa gulma, limbah pertanian atau rumput di lahan kosong terbuka, sebenarnya sama sekali tak bernilai. Nilai hijauan itu berupa upah untuk mengumpulkan dan mengikat, serta biaya transportasi dari lokasi pengambilan ke kandang. Karenanya semakin dekat jarak lokasi lahan hijauan dengan kandang akan semakin murah. Di Bali yang aman pencurian, kandang ternak yang justru berlokasi di kebun dan sawah. Jarak hijauan dengan kandang lebih dekat, kotoran ternak sebagai pupuk kandang juga tinggal menyebarkannya ke lahan sawah. Cara ini sulit diterapkan di Pulau Jawa karena rawan pencurian. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
