• AGROINDUSTRI PERBERASAN NASIONAL

    by  • 18/11/2024 • Uncategory • 0 Comments

    Meskipun lahan sawah menyusut, produksi beras nasional Indonesia terus meningkat. Tanda efisiensi juga meningkat. Sekarang beras bukan lagi produk pertanian subsisten, melainkan hasil agroindustri modern.

    Ini semua berawal dari Karawang, Jawa Barat. Tahun 1628 Sultan Agung dari Kerajaan Mataram (Islam) menyerbu Batavia (Jakarta). Jalan darat belum ada. Tentara Sultan Agung naik kapal dari Pelabuhan Semarang di bawah komando Bahurekso, Bupati Kendal. Bahurekso bukan hanya membawa tentara, tetapi yang paling awal justru petani. Mereka mendarat di Karawang. Delta sungai Citarum yang subur itu mereka jadikan sawah untuk budidaya padi. Kalau di kampung halaman mereka menanam padi untuk dikonsumsi sendiri, kali ini mereka memproduksi beras untuk logistik perang.

    Inilah titik awal perubahan pertanian subsisten menjadi agroindustri modern. Sampai sekarang Karawang masih menjadi “lumbung padi” utama Indonesia. Sekarang budidaya padi bukan untuk perang melainkan sebagai cadangan beras nasional. Pengertian cadangan beras nasional tidak harus dikuasai Bulog. Kemampuan Bulog mengumpulkan dan menyimpan beras hanya sekitar 1,5 – 3 juta ton per tahun. Padahal konsumsi beras nasional sudah mencapai 30 juta ton. Cadangan beras nasional itu berada di tangan masyarakat, terutama para pemilik modal. Sejak reformasi tahun 1998 mereka juga ikut membudidayakan padi.

    Dulu para juragan beras ini sama dengan Bulog hanya membeli padi dan gabah petani, lalu menyimpannya untuk digiling sesuai dengan kebutuhan pasar. Umumnya para juragan beras ini juga punya penggilingan padi. Sejak reformasi mereka ikut membudidayakan padi di lahan sawah yang mereka sewa dari petani. Juragan dan petani pemilik lahan sama-sama diuntungkan. Petani menerima uang cash sewa lahan, kemudian masih bisa bekerja mengelola pengolahan lahan penanaman, pemupukan dan panen dengan modal dari pihak penyewa, tanpa menanggung resiko. Para juragan juga mendapat jaminan akan selalu punya gabah.

    Seorang juragan kelas menengah bisa punya sawah sewaan belasan sampai puluhan hektare. Karenanya agroindustri beras paska reformasi menjadi sangat efisien. Inilah yang menyebabkan produksi beras nasional terus naik meskipun lahan sawah menyusut akibat alih fungsi peruntukan non pertanian. Trend pemilik penggilingan menyewa sawah petani dan membiayai budidaya padi menyebar ke sentra-sentra padi utama di Indonesia. Trend seperti ini bahkan bukan hanya terjadi pada komoditas padi melainkan hampir semua komoditas penting. Budidaya kentang di Dieng juga sudah dibiayai para juragan.

    Penggilingan Padi Mini

    Pertanian subsisten tentu tetap ada. Lahan-lahan sawah yang sangat sempit terutama di kawasan pegunungan tetap ditanami padi oleh para petani atas biaya sendiri. Para petani subsisten menyimpan gabah untuk dikonsumsi sendiri. Dulu mereka harus datang ke lokasi penggilingan padi untuk menggilingkan gabah mereka menjadi beras. Belakangan marak penggilingan gabah mini yang dinaikkan ke sepeda motor roda tiga berkeliling desa. Mereka menjual jasa penggilingan gabah ke para petani subsisten. Pemilik gabah sangat terbantu sebab tak perlu lagi membawa gabah mereka ke lokasi penggilingan skala menengah.

    Fenomena inilah yang mengakibatkan penggilingan padi yang hanya menjual jasa kehilangan pekerjaan dan tutup. Sebab gabah dalam volume besar milik para juragan digiling di penggilingan milik sendiri. Sedangkan gabah dalam skala kecil milik petani subsisten ditangkap oleh penggilingan mini keliling. Bahkan belakangan juga ada trend rumah tangga punya penggilingan mini berpenggerak tenaga listrik. Dengan membeli gabah dan menggilingnya sendiri, rumah tangga mendapat jaminan jenis padi yang dibelinya. Selain itu beras yang mereka konsumsi selalu beras baru.

    Matinya penggilingan padi skala menengah tak perlu disesali. Dulu sebelum dekade 1970, padi/gabah ditumbuk dalam lumpang atau lesung menggunakan alu. Kadang juga digiling menggunakan penggiling gabah manual yang digerakkan tangan. Penggilingan gabah yang ada berskala sangat besar dan digerakkan tenaga listrik. Pada dekade 1960 penggilingan padi skala menengah berpenggerak mesin disel (huller) diproduksi massal hingga berharga murah. Huller bermunculan di sentra-sentra padi yang belum ada aliran listrik. Huller skala menengah inilah yang mematikan lumpang, lesung dan alu.

    Selama dekade 1970 – 1980 yang hilang bukan hanya lumpang, lesung dan alu, melainkan juga pikulan dan gendongan. Dulu gabah dan beras diangkut menggunakan pikulan dan gendongan. Dengan adanya pickup dan sepeda motor tenaga pemikul dan penggendong lenyap. Tetapi bukan berarti mereka kehilangan pekerjaan. Sebab pada dekade 1970 – 1980 sektor industri dan manufaktur menyerap banyak sekali tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan dari sektor pertanian terutama dari pertanian padi. Lagi pula, penggilingan padi yang mati hanya yang berskala menengah dan tidak punya gabah sendiri.

    Matinya sebagian penggilingan padi skala menengah hanya salah satu dampak dari efisiensi. Terus maningkatnya produksi beras nasional tanpa campur tangan pemerintah seperti zaman Orde Baru merupakan sesuatu yang strategis dan pantas kita syukuri. Meskipun subsidi pupuk masih tetap menjadi “ajang korupsi berjamaah” di negeri ini. Subsidi cenderung tak tepat sasaran dan mudah diselewengkan. Lain dengan insentif. Di banyak negara maju, petani diberi insentif bukan subsidi. Insentif diberikan dalam bentuk kemudahan memperoleh modal berbunga rendah apabila petani berprestasi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *