HARGA SALAK BANJAR JATUH
by indrihr • 25/11/2024 • Uncategory • 0 Comments
Saya seorang petani salak pondoh di Banjarnegara, Jawa Tengah. Saat ini harga salak sedang jatuh. Per kilogram hanya dihargai tengkulak paling tinggi Rp1.700. Kadang hanya Rp1.500. Kami kesulitan untuk bertahan hidup. (Ngatirah, Banjarnegara).
Sdri. Ngatirah, disparitas harga di tingkat petani, dengan yang harus dibayar oleh konsumen bisa sangat tinggi. Harga salak pondoh Banjarnegara di tingkat konsumen, saat ini paling rendah Rp10.000 per kilogram. Sedangkan harga salak pondoh Sleman paling rendah Rp13.000 per kilogram. Harga paling tinggi Rp15.000 per kilogram. Harga di tingkat konsumen terus berubah-ubah karena dipengaruhi banyak faktor.
Sebaliknya di tingkat petani harga bisa jatuh hingga Rp1.500 per kilogram. Harga di tingkat petani juga berfluktuasi sesuai dengan hukum pasar. Ketika permintaan melemah, sedangkan pasokan tetap, harga akan turun. Melemahnya permintaan terhadap buah salak, terutama karena pada bulan-bulan Februari dan Maret, banyak sekali buah-buahan musiman membanjiri pasar. Misalnya manggis, rambutan, durian, dan duku.
Di tingkat konsumen maupun petani, harga salak pondoh Banjarnegara selalu lebih murah dibanding salak pondoh Sleman. Karena kualitas salak pondoh Banjarnegara memang lebih rendah dibanding salak pondoh Sleman. Padahal penampilan fisik salak pondoh Banjarnegara lebih unggul. Ukuran lebih besar, warna kulit lebih cerah. Tetapi rasa manis dan tingkat ketahanan salak pondoh Banjarnegara kalah dari salak pondoh Sleman.

Sdri. Ngatirah, sebenarnya kasus jatuhnya harga salak pondoh Banjarnegara juga rutin dialami oleh salak pondoh Sleman, juga salak Bali dan salak Sumatera (salak Sidempuan). Bahkan sebenarnya fluktuasi harga selalu terjadi pada semua komoditas pertanian. Fluktuasi harga sayuran malahan lebih parah. Harga cabai bisa di atas Rp100.000 per kilogram, tetapi di lain pihak bisa jatuh di bawah Rp5.000 per kilogram.
Disparitas harga di tingkat petani dan konsumen semua produk pertanian Indonesia juga sangat mencolok. Harga kubis (kol) di Jakarta sekitar Rp15.000 per kilogram. Di tingkat petani harga kol bisa hanya Rp2.000 per kilogram. Selisih harga itu baru wajar apabila meliputi biaya sortasi, packing, transportasi dan keuntungan pedagang. Repotnya, di Indonesia rantai perdagangan itu bisa sangat panjang dengan banyak pelaku.
Masing-masing pelaku tentu ingin memperoleh laba. Yang wajar, pelaku perdagangan itu cukup tiga: 1 pedagang pengumpul; 2 pedagang antar kota; 3 pedagang pengecer. Untuk komoditas-komoditas penting, terlebih yang bisa disimpan lama; rantai perdagangan ini bisa sangat panjang dengan melibatkan banyak pelaku. Dalam perdagangan agro modern, hal seperti ini juga terjadi. Satu komoditas pertanian bisa berpindah tangan sampai belasan kali sebelum tiba di tangan konsumen.
Ada beberapa cara mengatasi disparitas harga seperti ini. Nanas Belik dari Pemalang, Jawa Tengah misalnya; bisa merebut pasar Jabodetabek karena rantai perdagangan itu mereka potong. Anak-anak muda Belik jualan nanas dari kampung halaman mereka di Kakilima Jabodetabek. Mereka juga menjual nanas dalam bentuk kupasan dan potongan hingga siap santap. Dalam waktu singkat, nanas madu Pemalang bisa dapat tempat di Jakarta.
Nanas Bogor, nanas Palembang, nanas Subang, Nanas Blitar; gagal mengembangkan diri dan menguasai pasar Jakarta; karena mereka tidak punya “armada” pemasaran yang sehandal nanas madu Pemalang. Padahal secara fisik, penampilan nanas madu Pemalang sangat kecil dibanding nanas Bogor, nanas Palembang, nanas Subang dan nanas Blitar. Tampaknya konsumen tak peduli dengan penampilan fisik.
Sama dengan nanas, salak juga terkendala pada kesulitan untuk mengupas. Meskipun mengupas salak masih lebih mudah dibanding mengupas nanas. Hingga faktor pemasaran seperti nanas madu Pemalang dan juga duku Palembang yang sebenarnya berasal dari Jambi; perlu dijalani. Pada prinsipnya, ketika ada komoditas buah yang tampak di depan mata dan bisa dikonsumsi dengan mudah, orang akan membelinya.
Alternatif lain dengan mendatangkan konsumen ke kebun dalam bentuk wisata agro. Ini lebih enak lagi karena petani tak perlu repot memanen dan menjual salak mereka. Kendalanya, wisata ke kebun salak tidak semenarik wisata ke kebun teh. Di tengah berkembangnya dunia digital sekarang ini, pemasaran salak Banjarnegara secara online menjadi alternatif yang cukup menarik. Cobalah libatkan anak-anak muda Banjarnegara yang piawai mengoperasikan Android untuk membuat situs “Salak Pondoh Banjarnegara”. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi.
