• CHUPA-CHUPA BUAH AMERIKA TROPIS

    by  • 17/12/2024 • Uncategory • 0 Comments

    Sebagian dari buah komersial dunia saat ini berasal dari Benua Amerika: Nanas, pepaya, avokad, sirsak, sawo manila, sawo duren; semua asli Amerika Tropis dan sudah masuk Kepulauan Nusantara sejak abad 17 dibawa oleh Bangsa Eropa.

    Tetapi tetap masih ada buah endemik Amerika Tropis yang “tercecer” tak sempat ikut disebarkan oleh Bangsa Eropa bersamaan dengan nanas, pepaya, avokad, sirsak dan sawo manila, sawo duren. Abiu, Pouteria caimito; baru masuk Indonesia akhir dekade 1990 dari Australia. Hingga abiu juga dikenal sebagai sawo australia. Sama dengan sawo manila yang sebenarnya asli Amerika Tropis. Karena masuk ke Kepulauan Nusantara dari Filipina, buah ini disebut sebagai sawo manila. Di negara-negara Amerika Tropis, abiu tidak terlalu disukai. Australialah yang pertama membudidayakan abiu secara massal.

    Dunia mengenal abiu, mirip dengan buah naga dan kiwi. Buah naga asli dari Meksiko. Di negeri ini buah naga tak disukai karena rasanya relatif tawar. Masyarakat Meksiko lebih suka buah kaktus prickly pear yang sangat manis meski berukuran kecil. Buah naga sudah dibawa Bangsa Prancis ke Vietnam abad 18. Vietnam baru mulai membudidayakan buah naga dan mengekspornya ke China pada tahun 1990. Sejak itulah buah naga jadi mendunia, masuk ke Indonesia dan dibudidayakan secara massal. Mulai dari yang berkulit pink berdaging buah putih, kulit merah berdaging buah merah dan berkulit kuning daging buah putih.

    Kiwi merupakan buah dari liana (tumbuhan berkayu merambat) yang tumbuh liar di timur laut China. Masyarakat China tak suka buah ini. Sampai dengan tahun 1990 Selandia Baru membudidayakannya dan menjualnya ke pasar dunia. Sejak itulah dunia mengenal buah berkulit coklat berbulu halus, dengan bagian dalam berwarna hijau. Kiwi lalu menjadi simbol status. Seseorang akan dianggap bermartabat apabila mengonsumsi buah kiwi. Salad dan fruit coctail dianggap tak sempurna tanpa buah kiwi. Italia kemudian ikut membudidayakan kiwi dan China menobatkannya sebagai “buah nasional” negeri tersebut.

    Australia yang mengangkat abiu buah yang disia-siakan di Amerika Tropis, sebenarnya juga pernah menyia-nyiakan makadamia. Pohon penghasil kacang makadamia ini kemudian dibudidayakan Hawaii dan Afrika Selatan hingga dikenal dan digemari masyarakat dunia. Australia pun tersadar lalu ikut pula membudidayakan makadamia. Chupa-chupa, Quararibea cordata; buah asli dari Bolivia, Brasil, Kolumbia, Kosta Rika, Ekuador, Panamá, dan Peru; yang di negeri asalnya juga tak terlalu diperhatikan.

    Dekade 2000

    Chupa-chupa baru masuk ke Indonesia pada dekade 2000. Yang pertama membawanya dari Amerika Tropis seorang warga AS yang beristrikan perempuan Indonesia dan bermukim di Wonosobo, Jateng. Kemudian Greg Hambali juga membawanya langsung dari Brasil dan menanamnya di Baranangsiang, Bogor. Greg Hambalilah yang pertama menyebarkan chupa-chupa ke teman-teman dan relasinya, termasuk menanamnya di Taman Buah Mekarsari. Di kebun Greg Hambali Baranangsiang, chupa-chupa yang ditanamnya dari biji itu berbuah pertama kali pada tahun 2013. Ada beberapa pohon chupa-chupa di Baranangsiang.

    Buah chupa-chupa berbentuk unik. Di bagian pangkal terdapat tangkai dengan kelopak buah cukup besar sedangkan di ujung terbentuk tonjolan. Kulit buah dekat kelopak berubah warna menjadi lebih terang merupakan penanda chupa-chupa telah masak. Hanya itulah tanda kemasakan sebab chupa-chupa tidak mengeluarkan aroma sedikit pun. Kulit buah yang sangat tebal juga akan tetap keras dengan warna yang tak berubah. Yang berubah warna hanya bagian kulit di sepanjang batas dengan kelopak buah. Chupa-chupa juga harus dipetik karena buah yang sudah masak tidak akan jatuh seperti durian.

    Cara membuka buah chupa-chupa dengan mengiris kulitnya menggunakan pisau. Bagian dalam buah chupa-chupa yang telah masak terdapat lima segmen buah warna oranye dengan biji di dalamnya. Cara mengonsumsi buah chupa-chupa sama dengan makan buah kecapi, Sandoricum koetjape. Karakter chupa-chupa memang mirip kecapi meskipun dua spesies buah ini beda genus dan suku. Chupa-chupa suku kapas-kapasan, Malvaceae; kecapi suku duku-dukuan, Meliaceae. Persamaan dua buah ini hanya dari cara membuka dan mengonsumsi buahnya.

    Rasa chupa-chupa juga sangat khas. Beberapa orang yang pernah mencicipi buah ini menyebut rasanya (aromanya) merupakan beragam campuran buah. Ada aroma mangga, nanas, durian sawo dll. Di Brasil sana chupa-chupa budidaya sudah diseleksi yang paling unggul kemudian diperbanyak secara vegetatif melalui sambung pucuk dan okulasi. Rasa buah hasil perbanyakan vegetatif ini pasti akan manis persis seperti induknya. Semua chupa-chupa yang ada di Indonesia hasil perbanyakan dari biji, hingga kualitas buahnya sangat beragam. Ada yang manis ada yang tawar. Chupa-chupa tak menghasilkan rasa masam.

    Untuk menghasilkan benih chupa-chupa dengan buah berkualitas baik, tanaman koleksi Greg Hambali, atau pohon-pohon lain keturunannya diseleksi. Tanaman dengan kualitas terbaik dijadikan pohon induk, untuk diambil entresnya guna ditempelkan di batang bawah cabutan. Sebab di bawah tegakan pohon chupa-chupa akan banyak tumbuh anakan, berasal dari buah yang berjatuhan karena busuk dan sudah terlalu tua. Sebab buah yang sehat meskipun sudah masak akan tetap menempel di dahan tempat tumbuhnya. Upaya ini perlu dilanjutkan oleh generasi muda. Greg Hambali wafat pada usia 74 tahun pada 4 November 2023. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *