• HOYA DAN DISCHIDIA

    by  • 24/12/2024 • Uncategory • 0 Comments

    Baru-baru ini seorang teman memberi saya hadiah tanaman hoya. Katanya itu tumbuhan epifit yang sedang naik daun. Apakah beda tanaman Hoya dengan Dischidia dan benarkah tanaman hias ini sedang naik daun. (Roshida, Serang).

    Sdr. Roshida, Hoya dan Dischidia memang sama-sama tumbuhan epifit suku kamboja-kambojaan Apocynaceae tetapi beda genus. Secara umum Hoya berukuran lebih besar dibanding Dischidia. Tetapi tidak benar kalau sekarang tanaman hias ini sedang naik daun (populer). Dari dulu popularitas Hoya tetap stabil. Tidak pernah sangat populer, tetapi juga tetap ada penggemar fanatiknya. Saya sebut fanatik sebab penggemar Hoya dan Dischidia memang sangat sedikit tetapi serius bahkan “militan”.

    Di alam, Hoya dan Dischidia hidup menempel di pohon-pohon. Hoya cenderung tumbuh menjulur ke atas dengan cara membelit. Sedangkan Dischidia tumbuh menjuntai (menggantung). Ketika dipelihara sebagai tanaman hias, karakter dua genus tumbuhan ini tetap sama. Hoya tumbuh ke atas, Dischidia menjuntai ke bawah. Meskipun penggemar Hoya dan Dischidia berharap menikmati bunganya, namun daun serta keseluruhan sosok tanaman ini juga cukup indah dan sudah bisa menghadirkan pesona tersendiri.

    Genus Hoya terdiri dari 565 spesies yang hanya terdapat di Asia Selatan, Asia Timur, Asia Tenggara dan Australia. Dari 565 spesies Hoya itu sebanyak 238 spesies terdapat di Indonesia. Hoya endemik Indonesia itu ada yang overlapping (juga terdapat) di Semenanjung Malaya, Asia Tenggara, Filipina dan Australia. Tetapi ada pula yang benar-benar endemik salah satu pulau di Indonesia. Sebagian besar Hoya Indonesia itu masih tumbuh liar bukan hanya di hutan melainkan juga tengah pemukiman.

    Warna bunga Hoya bervariasi mulai dari putih, merah, kuning, pink, hijau, biru, ungu sampai ke hitam. Semakin langka warna Hoya, semakin tinggi harganya. Hoya-hoya dengan bentuk dan warna bunga menarik, sudah lama dibudidayakan dan diperdagangkan sebagai tanaman hias. Bahkan hibridanya pun sudah banyak diciptakan hingga diperoleh ukuran bunga lebih besar, bentuk dan warna lebih menarik. Harga Hoya relatif masih terjangkau, rata-rata di bawah Rp 100.000 per tanaman. Kecuali Hoya langka atau dalam pot ukuran besar.

    Genus Dischidia terdiri dari 128 spesies dan tersebar di Asia Timur, Asia Tenggara dan Australia. Dari 128 spesies Dischidia, sebanyak 67 spesies endemik Indonesia. Dari 67 spesies yang ada di Indonesia itu 13 di antaranya terdapat di Pulau Jawa. Sama dengan Hoya, Dischidia juga banyak tumbuh liar bukan hanya di hutan; melainkan juga menempel di dahan pohon di lahan pertanian bahkan juga di perkampungan. Masyarakat tidak tahu bahwa itu Dischidia. Mereka menyamakannya dengan paku picisan (sisik naga, genus Pyrrosia).

    Penggemar Dischidia sebagai tanaman hias tak sebanyak penggemar Hoya. Biasanya Dischidia dibudidayakan dalam pot gantung, hingga sulur berikut daunnya menjuntai ke bawah. Ini sesuai dengan karakter Dischidia di habitat aslinya. Beda dengan Hoya yang dijadikan tanaman hias karena pesona bunganya, Dischidia hanya diharapkan keindahan sulur dan daunnya. Meskipun beberapa spesies Dischidia juga berbunga indah. Harga Dischidia sedikit di bawah harga Hoya.

    Di Thailand, Dischidia dimanfaatkan sebagai penutup pot koloni anggrek. Di tempat-tempat umum, misalnya di bandara, beberapa pot gerabah anggrek Dendrobium, ditaruh dalam sebuah pot keramik besar. Di pinggiran pot keramik besar itu ditaruh Dischidia dalam pot-pot kecil dari plastik. Sulur dan daun Dischidia akan menjuntai ke bawah dan menutup permukaan pot keramik besar itu. Hingga sepintas anggrek dendrobium di Bandara Thailand itu seperti tumbuh di tengah-tengah sulur Dischidia.

    Sebagai tanaman hias, Hoya dan Dischidia masih relatif asing bagi masyarakat umum. Bahkan bagi para penggemar tanaman hias pun, Hoya dan Dischidia masih belum terlalu dikenal. Masyarakat umum baru terheran-heran dan kagum ketika melihat keindahan sosok bunga Hoya. Sedangkan Dischidia sebagai tanaman hias dianggap sama dengan tanaman hias air mata ibu, donkey’s tail, Sedum morganianum. Sebab penampilan dua tumbuhan beda suku ini memang agak mirip satu sama lain. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi:

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *