• KARENA NILA SETITIK RUSAK SUSU SEBELANGA

    by  • 03/03/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Itulah peribahasa klasik yang saya kenal waktu SD. Artinya karena kesalahan yang sangat kecil, rusak reputasi yang telah kita raih. Nila, tom, tarum, true indigo, Indigofera tinctoria; merupakan sumber warna indigo (biru jeans) untuk kain.

    Indigo komoditas utama kerajaan Tarumanagara, di Jawa Barat tahun 358 – 670, hingga nama Tarumanagara (negara penghasil tarum) berasal dari nama tumbuhan ini. Ibukota Tarumanagara berlokasi di Kampung Batu Tumbuh, Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Lahan penanaman tarum di DAS sungai Citarum. Ci = air/sungai, tarum = tanaman indigo. Di kecamatan Blimbingsari, kabupaten Banyuwangi ada desa Patoman. Di desa Kranggan, kecamatan Ambarawa, kabupaten Semarang juga ada kampung Patoman. Kampung dan desa Patoman dulunya tempat mengekstrak daun tarum menjadi pasta indigo.

    Tarum merupakan tanaman semusim dataran rendah, berbentuk semak. Genus Indigofera, suku polong-polongan, Fabaceae; terdiri dari 749 spesies, tersebar di seluruh kawasan tropis/sub tropis dunia. Habitat asli Indigofera tinctoria, sebenarnya Amerika Tengah/Selatan, Afrika, Jazirah Arab, Asia Selatan, dan Indochina. Tetapi sejak zaman Hindu awal, Indigofera sudah menyebar ke seluruh Indonesia, hingga abad 4 – 7 menjadi komoditas penting kerajaan Tarumanagara. Saat ini tarum masih bisa dijumpai tumbuh liar di lahan-lahan kosong dataran rendah dan di pantai. Oleh masyarakat tarum liar ini dianggap sebagai gulma.

    Sebagai sumber warna indigo alam, tarum dibudidayakan dari benih berupa biji. Cara menanamnya bisa dalam guludan, bisa ditebar biasa di lahan yang telah dicangkul/dibajak. Tarum merupakan tumbuhan bandel hingga tanpa perawatan apa pun akan tumbuh dengan baik. Pada umur empat bulan setelah penebaran benih, tarum sudah bisa dipanen dengan cara dipangkas berikut batangnya. Tiga bulan setelah panen pertama, tarum kembali bisa dipanen kembali, demikian pula tiga bulan berikutnya. Setelah panen ketiga tanaman akan mati. Lahan kembali diolah untuk dirotasi dengan tanaman lain.

    Daun tarum berikut batangnya, direndam dalam bak semen atau drum plastik. Agar daun tidak mengapung, perlu ditindih pemberat. Tiap 10 kilogram daun diberi 50 liter air. Setelah dua hari, daun dibuang dan air indigo diberi kapur tohor sebanyak 300 gram. Kapur tohor merupakan hasil pembakaran kapur mentah termasuk cangkang kerang. Nama lainnya kalsium oksida (CaO). Kapur tohor beda dengan kapur sirih, kalsium oksida dan air (Ca(OH)2). Larutan indigo yang telah diberi kapur tohor diaduk-aduk selama empat jam, lalu diendapkan semalam. Air di bagian atas dibuang dan pastanya ditiriskan lalu dikeringanginkan selama dua sampai tiga hari.

    Zat Pewarna Alam

    Indigofera tinctoria hanya berupa semak yang tumbuh setinggi 0,5 meter di kawasan pantai yang panas, atau sampai 1,5 meter apabila dibudidayakan secara monokultur di dataran menengah. Bunga Indigofera tinctoria juga sangat kecil. Yang tampak dominan justru polongnya. Tetapi apabila kita klik di Google dengan kata kunci Indigofera tinctoria yang tampak foto tanaman perdu dengan bunganya yang besar berwarna pink. Itu bukan foto Indigofera tinctoria, melainkan indigo himalaya, Himalayan indigo, Indigofera heterantha; yang merupakan tanaman hias, bukan penghasil zat warna indigo.

    Indigo himalaya merupakan tanaman hias sub tropis berasal dari lereng timur Himalaya. Di Indonesia indigo himalaya hanya bisa hidup di dataran tinggi. Selain true indigo dan Himalayan indigo, masih ada lagi indigo pakan ternak, Long-Spike Indigo, Indigofera zollingeriana. Indigo pakan ternak juga berupa perdu berkayu setinggi tiga sampai empat meter, seperti indigo himalaya. Bedanya, bunga indigo pakan ternak kecil-kecil dengan warna kecoklatan. Kelebihan indigo pakan ternak, produksi hijauannya cukup tinggi, dengan nutrisi lengkap. Setelah dipangkas indigo pakan ternak akan segera tumbuh lagi.

    Selain Indigofera tinctoria, genus Indigofera penghasil zat warna biru antara lain indigo guatemala, Guatemalan indigo, Indigofera suffruticosa dari Amerika Tengah/Selatan; dan indigo natal, Natal indigo, Indigofera arrecta dari Afrika dan Jazirah Arab. Di luar genus Indigofera, ada indigo assam, Assam indigo, Strobilanthes cusia; indigo china, Chinese indigo, Persicaria tinctoria, dari China; indigo eropa, dyer’s woad, Isatis tinctoria, dari Eropa Selatan. Di Indonesia sudah banyak petani yang membudidayakan tanaman penghasil warna biru selain Indigofera tinctoria. Yang paling banyak indigo assam, Strobilanthes cusia.

    Indigo sebagai zat pewarna kain sudah dikenal umat manusia tahun 4.000 SM. Selain indigo, masyarakat Indonesia juga menggunakan warna coklat dari kulit pohon soga, yellow flame, Peltophorum pterocarpum. Warna indigo yang digabung dengan warna soga akan menghasilkan warna hitam. Kain tenun (lurik) dan batik tradisional kita hanya mengenal warna putih (dasar kain), coklat (soga) dan hitam (soga yang ditimpa indigo). Warna indigo tampil secara tunggal dalam kain masyarakat Dayak/Baduy Dalam, atau dalam lurik. Batik tradisional hanya menggunakan indigo untuk menimpa soga hingga menjadi hitam.

    Di dunia, zat warna sintetis ditemukan pada tahun 1856. Di Indonesia zat warna sintetis baru digunakan dalam lurik dan batik pada dekade 1970. Sejak itu penggunaan zat warna alam tenggelam. Trend kain, terutama batik, dengan zat warna alam baru bangkit lagi sekitar dekade 2.000. Sejalan dengan bangkitnya penggunaan zat warna alam, terbentuk pulalah Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI), pada tahun 2015. Kain tenun dan batik warna alam produk perajin dan industri kecil itu mendapat tempat di kalangan elite masyarakat Indonesia maupun dunia, hingga bisa dipasarkan dengan harga tinggi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *