SANTAN KEMASAN MENGHILANG
by indrihr • 05/11/2025 • Uncategory • 0 Comments
Sejak beberapa bulan silam santan kemasan merk Kara menghilang dari sebagian besar gerai Indomaret, Alfamart dan warung sembako. Hanya warung-warung tertentu yang masih punya stok. Sebagian lagi hanya punya santan kemasan merk Sasa.
Sebenarnya sudah sejak awal 2024 santan kemasan langka di pasaran. Harganya pun merayap naik. Saat ini Kara kemasan kecil sudah Rp5.500 sampai Rp6.000 per kemasan. Sebelumnya hanya Rp3.500 sampai Rp4.000. Harga kelapa melambung lebih tinggi lagi. Tahun lalu di tingkat petani masih Rp5.000 per butir ukuran sedang. Di tingkat konsumen Rp10.000. Sekarang di tingkat petani Rp10.000, di tingkat konsumen Rp20.000 per butir. Berarti ada kenaikan sebesar 100%. Sedangkan kenaikan santan kemasan hanya 50%. Tiba-tiba kelapa dan santan menjadi komoditas bernilai tinggi.
Sebelum dekade 1980 kelapa merupakan bahan baku kopra, daging buah kering yang akan diolah menjadi minyak nabati. Indonesia merupakan penghasil kelapa sekaligus kopra utama dunia. Tahun 1980 sawit makin mendominasi industri minyak nabati. Sawit merupakan penghasil minyak nabati paling efisien. Dari tiap hektar lahan sawit akan dihasilkan lima ton minyak nabati per tahun. Kelapa hanya 2,5 ton. Kacang tanah, kedelai, biji bunga matahari rata-rata hanya 1,5 ton minyak per hektar per tahun dan harus selalu menanam ulang karena tanaman semusim. Sawit dan kelapa cukup menanam sekali untuk 20 tahun.
Beda dengan minyak nabati lain yang masih merupakan gabungan fraksi padat dan fraksi cair, minyak sawit lebih unggul karena sudah dipisahkan fraksi padatnya (stearin) dan fraksi cairnya (olein). Kandungan asam lemak jenuh terdapat dalam stearin. Hingga untuk menggoreng, minyak sawit bisa menghasilkan tingkat panas yang pas. Sejak itulah kelapa tersisih, hanya menjadi komoditas yang dijual di pasar tradisional, dipetik muda dan dipasarkan untuk diminum airnya atau disadap niranya sebagai bahan gula kelapa.

Kecap premium mensyaratkan bahan baku kedelai hitam dan gula kelapa tanpa sulfit. PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang pada dekade 1990 menanam kelapa hibrida sebagai bahan baku minyak nabati, mengubah pemanfaatan kebun mereka sebagai penghasil gula kelapa. Indofood merupakan pelanggan gula kelapa PTPN. Sedangkan Unilever sebagai produsen kecap Bangau menyerap gula kelapa produksi rakyat dari pantai selatan perbatasan Jawa Barat, Jawa Tengah dan DIY. (kab. Ciamis, Pangandaran, Cilacap, Banyumas, Kebumen, Purworejo dan Kulonprogo). Kecap non premium menggunakan gula merah tebu.
China yang Minum Santan
Selain PTPN, industri berbahan baku kelapa mengandalkan tanaman yang tumbuh secara alamiah di pantai. Pohon-pohon kelapa itu berasal dari buah kelapa yang jatuh ke laut, dibawa ombak dan terdampar di pantai lalu tumbuh. Kadang rakyat juga menanamnya sebagai peremajaan dari pohon kelapa tua yang ditebang untuk dimanfaatkan kayunya sebagai bahan bangunan. Baru pada dekade 1990, PTPN mengebunkan kelapa hibrida. Pada dekade 2000, santan kemasan merk Kara menjadi trend baru memasak tanpa harus memeras santan sendiri atau membelinya di pasar.
Padahal santan kemasan ini sudah mulai diproduksi PT Pulau Sambu sejak 1988. PT Pulau Sambu sendiri sudah berdiri tahun 1967. Sejak dekade 2000 itulah trend memasak ibu-ibu “sosialita” menjadi lebih mudah karena menggunakan santan kemasan. Pada dekade 2000 itulah terjadi perkembangan baru di China. Negeri ini menjadi makmur karena tata kelola negerinya membaik dengan fokus kesejahteraan rakyatnya. Dampaknya rakyat China menyukai santan segar (coconut milk) sebagai minuman sehat. Santan kemasan merk Kara laris-manis di China yang populasi penduduknya di atas dua miliar jiwa.
Tahun 2024 permintaan santan dari China makin besar. Hingga tahun 2024 ketersediaan santan kemasan di warung-warung mulai tidak stabil. Ramadan 2025 harga kelapa melambung. Ini biasa terjadi setiap tahun. Tetapi setelah lebaran harga kelapa tetap tak mau turun. Belakangan ketahuan bahwa sekarang China bukan hanya mendatangkan santan segar dalam kemasan maupun curah, melainkan juga buah kelapanya, untuk mereka jadikan santan. Memarut kelapa dan memerasnya menjadi santan, bisa dilakukan dengan mudah menggunakan mesin portable. Yang rumit justru membuang tempurungnya.
Dengan populasi 1,4 miliar jiwa, dengan Produk Domestik Bruto nomor dua setelah AS, China merupakan pasar potensial bagi Indonesia. Sayangnya neraca perdagangan kita dengan China selama ini selalu defisit. Dulu neraca perdagangan Filipina dengan China pernah surplus hanya dari pisang. Kemudian China menjadi produsen pisang nomor dua setelah India. Sejak itu neraca perdagangan Filipina dengan China defisit. Saat ini selain santan, China juga mengimpor barecore kayu sengon (reng yang ditata dan dipres jadi lembaran), dari Indonesia. Kita produsen barecore nomor satu dunia dan 90% diserap China.
Belajar dari neraca perdagangan Filipina yang pernah surplus dengan China karena pisang, Indonesia mestinya bisa memperbesar kapasitas produksi barecore dan santan untuk diekspor ke China. Sawit agak sulit masuk China karena mereka tak punya tradisi menggoreng. Tapioka sebenarnya juga sangat diperlukan China. Tetapi apa daya, kita sendiri masih impor tapioka dari Thailand rata-rata 500.000 ton per tahun. Jadi mestinya, perhatian kita itu China bukan AS, yang selama ini neraca perdagangan kita dengan “Negeri Paman Trump” tersebut memang selalu surplus. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
