MULBERRY DAN MURBEI
by indrihr • 25/05/2026 • Uncategory • 0 Comments
Dalam Bahasa Inggris buah itu bernama mulberry. Dalam Bahasa Belanda moerbei. Karena kita dijajah Belanda, maka di sini buah itu bernama murbei. Sedangkan di Malaysia mulberi. Orang Jawa menyebutnya besaran atau bebesaran.
Hampir semua anak Indonesia yang dibesarkan di desa, punya kenangan dengan buah murbei. Perdu murbei banyak tumbuh liar di halaman rumah penduduk atau di batas kebun/ladang. Meski berupa perdu, kayu murbei kuat dan liat. Anak-anak bisa memanjatnya dan duduk di salah satu cabang, untuk meraih ranting-ranting kecil dengan buahnya yang mulai merah dan ada yang menghitam. Buah-buah yang mulai menghitam itulah yang akan dipetik dan biasanya langsung dimakan di atas pohon. Kadang kalau buahnya sangat banyak, anak-anak itu membawanya pulang dengan wadah “conthong” (kerucut) dari daun pisang.
Murbei yang banyak tumbuh liar di Indonesia spesies Morus indica, yang berasal dari India, Bangladesh dan Indochina. Diduga Morus indica sudah masuk ke Kepulauan Nusantara sejak zaman Hindu. Genus Morus, suku Ara-araan, Moraceae; terdiri dari 17 spesies. Hampir semuanya berasal dari daratan Asia. Hanya ada tiga spesies dari Benua Amerika yakni Morus celtidifolia, Morus microphylla, dan Morus rubra. Murbei panjang, Morus macroura, selain asli daratan Asia, juga terdapat tumbuh liar di Sumatera dan Jawa. Morus koordersiana, justru endemik Pulau Sumatera dan tak terdapat di tempat lain.

Dari 17 spesies genus Morus, yang buahnya paling lebat dan berukuran standar hanya Morus indica dan Morus alba yang berbuah putih. Murbei panjang, Morus macroura, tidak bisa berbuah selebat Morus indica dan Morus alba. Buah Morus nigra dari Iran yang berdaun lebar serta tebal, juga berukuran biasa dan tak pernah selebat Morus indica dan Morus alba. Hingga yang layak dibudidayakan untuk dipanen buahnya hanya Morus indica dan Morus alba. Morus indica toleran dengan iklim tropis, sebaliknya Morus alba hanya cocok ditanam di kawasan sub tropis. Morus indica pun sebenarnya hanya akan berbuah lebat di elevasi 1.000 meter dpl.
Turki merupakan satu-satunya negara yang membudidayakan murbei untuk dipanen buahnya. Negeri ini lebih banyak membudidayakan murbei putih Morus alba (sekitar 95%) untuk dikeringkan dan diekspor ke berbagai negara. Murbei merah dan hitam hanya dibudidayakan secara terbatas untuk dikonsumsi segar atau dibuat jus. Korea Selatan dan Jepang juga membudidayakan murbei untuk dipanen buahnya tetapi volumenya tak sebesar Turki. Demikian pula dengan di India dan China. Di dua negara ini murbei lebih banyak ditanam untuk dipanen daunnya sebagai pakan ulat sutera.
Pakan Ulat Sutera
Nilai komersial murbei bukan sebagai penghasil buah melainkan penghasil daun untuk pakan ulat sutera, the domestic silk moth, Bombyx mori. Sutera merupakan bahan sandang dari benang kokon kepompong ulat sutera. Dibanding bahan sandang lain seperti wool, kapas, rami, flax, abaka, hemp, rayon dan polyester; sutera unggul karena ringan, kuat, menyerap keringat hingga enak dipakai. Polyester kuat tetapi berat dan tidak menyerap keringat. Karena keunggulannya, sutera merupakan bahan sandang paling mahal dibanding bahan sandang lainnya. Istilah “jalur sutera” merujuk ke jalur perdagangan kuno Tiongkok – Eropa.
Meskipun disebut “jalur sutera” yang diperdagangkan lewat jalur ini bukan hanya sutera melainkan juga keramik dan rempah-rempah. Jalur perdagangan ini membentang sejauh 6.400 km. dan berfungsi dari tahun 130 SM sampai abad ke-15. Jalur ini surut dan dilupakan setelah Bangsa Eropa “menemukan” jalur laut menuju Kepulauan Nusantara dan China lewat Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Perubahan rute jalur perdagangan ini hanya “mematikan” jalur sutera, tetapi suteranya sendiri tetap tak tergantikan, meskipun kemudian sutera sintetis yang lebih murah dan lebih kuat ditemukan.
Yang disebut ulat sutera sebenarnya larva dari ngengat (moth) Bombyx mori. Meskipun ulat sutera bisa diberi pakan daun-daun lain, tetapi kualitas benang terbaik hanya dihasilkan apabila ulat diberi pakan daun murbei. Setelah sampai ke fase berkepompong, ulat akan mengeluarkan benang yang dianyam menjadi kokon untuk melindungi dirinya saat berubah dari ulat menjadi pupa, dan kemudian menjadi moth. Selanjutnya moth akan kawin, bertelur dan telurnya kembali menjadi ulat. Itulah siklus hidup ulat sutera sebagai penghasil benang sutera.
Industri persuteraan alam sebenarnya bukan terletak pada pemeliharaan ulat suteranya, melainkan bagaimana mengelola perkebunan murbei sebagai penghasil daun. Hingga kunci sukses produksi benang sutera pada dasarnya terletak pada perkebunan murbei. Saat ini China masih penghasil sutera alam utama dunia (dalam ton). Berikut 10 besar penghasil sutera alam dunia: China 290.003; India 77.000; Uzbekistan 17.000; Brasil 11.000; Iran 6.088; Thailand 5.000; Vietnam 3.000; Korea Utara 1.500; Rumania 1.000; Jepang 600. Saat ini Indonesia mengimpor benang sutera mentah 2.000 ton dan benang pintal 2.500 ton dari China.
Impor sutera alam kita sekitar 95% dari total kebutuhan. Hingga produksi sutera alam kita hanya sekitar 225 ton dan terbanyak berasal dari Soppeng, Sulawesi Selatan. Agroindustri persuteraan alam memang harus di dataran tinggi, di atas 1.000 meter dpl. Sebab di dataran rendah ulat akan cepat berkepompong meskipun belum mencapai ukuran optimum. Produktivitas daun murbei juga baru akan optimum pada elevasi di atas 1.000 meter dpl. Keuntungan Indonesia sebenarnya bisa memproduksi benang sutera sepanjang tahun. Sementara di China hanya selama musim panas. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
