MELAMBUNGNYA HARGA GULA PASIR
by indrihr • 22/07/2013 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Sejak satu bulan belakangan ini, harga gula pasir naik antara 40 sd. 50%, dari Rp 7.000 sd. 10.500 per kg. Gula pasir kemasan malahan sudah naik sampai Rp 11.000 per kg. Selain dipicu oleh datangnya bulan Ramadan, kenaikan harga gula dalam negeri ini juga disebabkan oleh kenaikan harga di pasar global.
Harga gula di pasar global 31 Agustus ini mencapai 550 dollar AS per ton. Kenaikan gula di pasar global ini disebabkan oleh stok gula India yang turun, akibat faktor produksi. India adalah pasar gula utama dunia, selain RRC dan Indonesia. Karena adanya kenaikan gula di pasar global ini, pasokan gula rafinasi (raw sugar), untuk Indonesia ikut terhambat. Harga gula rafinasi juga naik, hingga mendekati harga gula pasir putih. Gula rafinasi yang masuk Indonesia, sebagian besar akan diserap oleh industri makanan dan minuman. Karena harganya naik, maka pelaku industri beralih ke gula pasir putih.
Krisis gula pasir ini terjadi tepat menjelang datangnya bulan Ramadan. Selama bulan ramadhan sampai dengan menjelang lebaran, harga gula pasir pasti naik tajam, sebab kebutuhan juga naik sampai tiga kali lipat dari keadaan normal. Karena disebabkan oleh dua faktor, maka kenaikan harga gula pasir belakangan ini mencapai 50%. Diperkirakan kenaikan harga gula sebagai dampak puasa dan lebaran, akan berhenti pada awal Oktober. Tetapi kenaikan akibat dampak krisis di pasar dunia, diperkirakan akan terus berlanjut sampai tahun depan. Sebab diperkirakan baru tahun 2010, pasokan gula di pasar India akan berjalan normal.
# # #
Gula rafinasi sebenarnya bahan gula untuk diolah lagi menjadi gula putih. Bukan untuk bahan pemanis dalam industri makanan dan minuman. Di negara-negara maju, pemanis dalam industri makanan dan minuman selalu menggunakan gula cair, bukan gula kristal, termasuk gula rafinasi. Sebab harga gula cair lebih murah dari gula kristal. Proses produksi gula kristal harus melalui tahap pengkristalan, yang memerlukan biaya cukup tinggi. Namun gula kristal tetap diperlukan dalam rumah tangga, hotel dan restoran, karena bisa dikemas dalam wadah volume kecil dengan biaya murah. Beda dengan gula cair yang memerlukan wadah kemasan kecil dengan harga lebih tinggi.
Industri makanan dan minuman, tidak memerlukan gula dalam kemasan volume kecil. Gula cair volume besar, bisa dikemas dalam wadah jerigen atau drum plastik, yang harganya relatif murah, karena bisa digunakan berulangkali. Industri makanan dan minuman berkapasitas besar, malahan membeli gula cair curah dengan mobil tangki. Di Indonesia, industri minuman pun masih menggunakan gula kristal. Hingga terjadi disefisiensi. Sebab konsumen teh dalam kemasan misalnya, harus dibebani biaya pengkristalan gula, kemasan, dan kemudian biaya pencairan dalam minuman tersebut. Dengan menggunakan gula cair, biaya-biaya itu akan hilang.
Dengan karakteristik seperti ini, gula cair hanya diproduksi sesuai dengan pesanan industri makanan dan minuman. Sebab rumah tangga, hotel dan restoran tetap lebih murah, dan lebih praktis menggunakan gula kristal. Gula cair bisa terbuat dari tebu, bit, singkong, jagung, dan sumber karbohidrat lainnya. Di pasaran, gula cair juga dikenal sebagai High Fructose Syrup (HFS). Karena di Indonesia produksi gula cair masih sangat terbatas, maka industri makanan dan minuman terpaksa menggunakan gula kristal. Karena harga gula kristal putih lebih tinggi dari gula kristal rafinasi, maka industri makanan dan minuman pun menjadi penyerap terbesar gula rafinasi.
# # #
Indonesia merupakan negara tempat asal-usul tebu (sugar cane, Saccharum officinarum, Saccharum arundinaceum, Saccharum spontaneum). Namun sekarang, Indonesia tidak masuk dalam daftar 10 besar negara penghasil gula tebu di dunia, yang disusun oleh FAO. Sepuluh besar produsen gula dunia 2008 (juta ton) adalah Brasil 514; India 355,5; RRC 106; Thailand 64; Pakistan 54,75; Meksiko 50,6; Colombia 40; Australia 36; AS 27,75; dan Filipina 25. Sementara produksi Indonesia hanya 2,7 juta ton. Ini menyedihkan, sebab sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar nomor empat di dunia, seharusnya produksi gula tebu kita juga menduduki ranking empat.
Kenaikan harga gula di pasar global maupun domestik, harus disikapi pemerintah, pelaku industri, dan perdagangan dengan jangkauan lebih ke depan. Pertama, produksi gula nasional harus digenjot habis, hingga Indonesia bisa masuk ke 10 besar penghasil gula dunia. Kedua, produksi gula cair juga mutlak dikerjakan, untuk diserap oleh industri makanan dan minuman. Ketiga, kita juga sudah waktunya membenahi pengembangan agroindustri gula semut (palm sugar, brown sugar). Tanpa memperhatikan tiga hal ini, negeri kita akan menjadi bulan-bulanan produsen dan pedagang gula internasional. Dan setiap datang bulan puasa serta lebaran, harga gula akan kembali melambung tak terkendali. (R) # # #
