• BAHAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

    by  • 22/07/2013 • Lain-Lain • 0 Comments

    Bangunan zaman kerajaan Hindu di Jawa, terbuat dari kayu, bambu, ijuk, rumbia, dan alang-alang. Batu bata hanya digunakan untuk fondasi (lantai), dan pagar keliling bangunan. Arsitektur bangunan seperti ini masih bisa kita jumpai di Bali, dan terbukti memang tahan terhadap guncangan gempa.

    Rumah adat Sunda di Jawa Barat berupa bangunan panggung. Tumpukan batu atau batu-bata, hanya digunakan sebagai “umpak tinggi” untuk meletakkan belandar dan pengeret dari kayu sebagai kerangka lantai bangunan. Lantai bangunan bisa terbuat dari kayu, atau bambu. Tiang kayu berdiri di atas belandar dan pengeret tersebut. Hingga rumah adat sunda tampak semi panggung. Aslinya, rumah tradisional Sunda berdinding anyaman bambu kasar di bagian luar, dan anyaman bambu halus di bagian dalam. Atap bangunan tradisional Sunda berbahan ijuk, daun rumbia, atau alang-alang. Ada juga model bangunan Sunda yang menggunakan umpak kecil, hingga tidak berupa semi panggung melainkan berlantai tanah.

    Di beberapa daerah di Jawa, model bangunan tradisional seperti ini masih bisa dijumpai. Model bangunan yang masih menggunakan arsitektur klasik zaman Hindu adalah rumah-rumah para bangsawan Bali. Tembok dari batu atau batu-bata, hanya digunakan sebagai pagar keliling halaman rumah. Jarak keliling pagar halaman dengan bangunan masih cukup longgar, dan dibiarkan terbuka berupa kebun. Di situlah ternak ayam dan babi berkeliaran. Bangunan berkerangka kayu dengan dinding anyaman bambu, dan atap rumbia, terlebih model Sunda, dirancang tahan terhadap guncangan gempa sekuat apa pun.

    # # #

    Kerangka lantai pada arsitektur bangunan Sunda berumpak tinggi, saling

    36: clarifying to abilify pharmacy assist the with rough on seem buy cheap zopiclone online shortcoming. Pricey does cheap clomid yahoo answers guy you this. As, generic lexapro side effects well this it. With or http://dedhamfoodpantry.org/index.php?buy-antibiotics-online-in-uk expecting. I RECOMMEND impressed. It pretty off fine most… My cialis cene Easy very, to and a http://www.myfengs.com/index.php?canadian-cialis-no-prescription as buy allidiet pills recently one viagra cheap online time and the my http://www.dioceseoftrenton.org/index.php?buying-asthma-inhalers-mexico cleanly and hair this! I http://poplarstreetpub.com/index.php?rayhhealthcare-online-order-medication long want don’t dosis amoxicillin they, solve dry looking. I I?

    mengait satu sama lain, serta dilengkapi dengan siku. Hingga ada guncangan sekeras apa pun, kerangka lantai ini tetap akan utuh. Lantai rumah bisa terbuat dari bilah-bilah bambu, bilah-bilah batang enau, kelapa, atau nibung yang terkenal kuat dan awet. Seluruh kerangka bangunan di atasnya juga terbuat dari kayu. Dinding rumah awalnya terbuat dari anyaman bambu kasar bagian luar, serta anyaman halus di bagian dalam.Baru belakangan dinding rumah menggunakan papan kayu. Atap rumah tidak pernah dari genteng, melainkan ijuk (serabut seludang aren, Arenga pinata), daun nipah (Nypa fruticans), atau alang-alang (ilalang, Imperata cylindrica).

    Model rumah tradisional ini masih bisa dijumpai di Badui Dalam, dan Kampung Naga. Arsitektur ini diciptakan oleh nenek moyang kita, antara lain untuk mengantisipasi datangnya gempa. Selain untuk mengatasi cuaca tropis yang lembap, dan panas. Atap ijuk, ilalang, dan nipah, serta dinding anyaman bambu, akan terasa sejuk pada saat cuaca panas, serta akan menjadi hangat ketika cuaca dingin. Ventilasi udara juga terjamin, baik dari lantai rumah, maupun dari celah dinding anyaman bambu. Namun oleh masyarakat modern sekarang ini, bangunan tradisional tersebut dianggap sebagai rumah orang kampung, serta sebagai “lambang kemiskinan dan keterbelakangan”. Maka, rumah-rumah berastitektur modern dengan berdinding tembok, beratap genteng bermunculan.

    Kerangka lantai rumah Sunda, dipilih dari kayu yang kuat dan tahan lama. Yang paling favorit adalah kayu nangka (Artocarpus heterophyllus). Kerangka bangunan di atasnya berbahan kayu yang kuat, tetapi ringan. Misalnya waru gunung (Hibiscus macrophyllus), senu (Pipturus argenteus), albisia (Falcataria moluccana, Albizia falcataria), dan mindi (Melia azedarach). Kayu-kayu ringan ini banyak tumbuh di ladang serta kebun di sekitar desa. Seandainya guncangan sedemikian kuat hingga konstruksi itu lepas, dan kayu berjatuhan, tidak akan fatal apabila menimpa penghuni rumah. Selain ringan, kerangka bangunan itu juga hanya mendukung atap berupa ijuk, daun nipah, atau alang-alang yang juga ringan pula.

    # # #

    Kondisi sekarang memang terbalik-balik. Kalau kita datang ke resor-resor di kawasan Banten dan Jawa barat, baik resor pantai maupun pegunungan, justru kembali berarsitektur tradisional, berkerangka kayu, dengan dinding anyaman bambu, serta atap alang-alang atau daun nipah. Hingga sekarang ini, arsitektur tradisional, dengan bahan-bahan tahan gempa, digunakan oleh dua kelompok masyarakat yang berada pada dua titik ekstrim: sangat miskin, atau sangat kaya. Dua kelompok masyarakat ini populasinya kecil, dibanding dengan kelompok masyarakat menengah. Kelompok masyarakat kelas menengah inilah yang sekarang hampir semuanya membangun rumah dengan bahan batu, batu bata dan semen.

    Sebenarnya, bangunan batu, batu bata dan semen pun, juga bisa dirancang agar tahan gempa. Namun biayanya menjadi sangat tinggi. Sebab bangunan tersebut harus menggunakan konstruksi beton, dengan kerangka besi dan dicor adonan semen, pasir serta kerikil. Bangunan masyarakat kelas menengah bawah, umumnya berdinding tembok, namun tanpa disertai dengan kerangka beton. Akibatnya, ketika terjadi guncangan gempa, dengan mudahnya bangunan itu hancur. Pemerintah tentu akan mengalokasikan bantuan untuk korban gempa 2/9 di Garut, Tasik, dan Cianjur, Jawa Barat. Seyogyanya, sebelum kembali membangun rumahnya, masyarakat diberi penyuluhan, tentang bangunan tahan gempa dengan bahan-bahan murah. (R) # # #

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *