• PELUANG BUDI DAYA LENGKENG DI NTT

    by  • 05/08/2013 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Para petani lengkeng di Thailand utara, selalu menunggu datangnya musim dingin dengan perasaan was-was. Mereka memerlukan suhu udara pada malam hari di bawah 14 derajat Celsius, paling sedikit selama satu minggu, agar lengkeng mau berbunga.

    Apabila pada puncak musim dingin itu suhu udara malam hari tetap masih di atas 14 derajat Celsius, terpaksalah mereka mengeluarkan dana tambahan. Dana itu mereka gunakan untuk biaya menyemprot kebun lengkeng mereka dengan air es pada malam hari, hingga suhu udara turun di bawah 14 derajat Celsius. Paling sedikit penyemprotan air es ini mereka lakukan selama satu minggu. Setelah itu, lengkeng dijamin akan mau berbuah. Lengkeng yang dibudidayakan di Thailand utara adalah varietas Itoh (Idoh), jenis lengkeng dataran tinggi. Meskipun sejak 15 tahun terakhir beredar varietas lengkeng dataran rendah (Diamond River (Petch Sakorn), Pingpong, Biew Kiew, Kohala, Sri Chompoo, Kristalin, Kaisar); namun dalam praktek, tak satu pun bisa menyamai keunggulan Itoh.
    lengkeng

    Di Thailand, pernah terjadi kecelakaan, meledaknya gudang bahan petasan yang berisi serbuk Kalium Klorat (KCLO3), di sepetak kebun lengkeng. Di luar dugaan, lengkeng di sekitar ledakan gudang petasan, mau berbunga lebat, meskipun tidak disemprot air es, dan suhu udara tidak turun sampai di bawah 14 derajat Celsius. Penelitian selanjutnya, memang menunjukkan bahwa O3 (ozon), dalam KCLO3, memang benar mampu memacu pembungaan lengkeng, termasuk varietas Itoh yang dibudidayakan di dataran rendah. Namun sejak maraknya aksi bom bunuh diri, KCLO3 yang juga bahan bom, menghilang dari pasar. Pembelian KCLO3 untuk keperluan apa pun, harus seizin aparat keamanan. Lagi pula, budi daya lengkeng Itoh di dataran rendah, terhitung tak sebaik di dataran tinggi.

    # # #

    Di NTT, ada beberapa kawasan yang antara Juli sampai dengan Oktober, suhu udara pada malam hari akan turun sampai di bawah 14 derajat Celsius, akibat angin selatan dari Australia. Jawa, Bali, NTB, dan NTT adalah wilayah Indonesia yang sebagian besar dipengaruhi oleh angin muson (monsoon). Antara November – Februari akan bertiup Angin Barat (musim barat), yang hangat dan basah (musim penghujan). Pada bulan Juli – Oktober, bertiup Angin Selatan yang dingin dan kering. Angin Selatan di Jawa, Bali, dan NTB, tidak sedingin di NTT. Hal ini disebabkan oleh posisi Jawa, Bali, dan NTB, tidak sedekat NTT dengan Australia. Di NTT pun, hanya wilayah selatan menghadap ke Laut Sabu (Sawu), Laut Timor, dan Samudera Hindia, yang secara langsung terpengaruh Angin Selatan. Pantai selatan pulau Flores, Sumba, dan Timor Barat, paling terkena dampak Angin Selatan.

    Di pantai selatan Flores, Sumba, dan Timor yang landai di dataran rendah, misalnya di Ende, dan Larantuka, suhu udara pada bulan Juli sampai Oktober juga tidak akan turun sampai di bawah 14 derajat Celsius. Dampak Angin Selatan, baru akan terasa, di kawasan lereng pegunungan berketinggian antara 600 – 900 m. dpl, yang langsung menghadap ke arah selatan. Suhu udara malam hari, terutama setelah tengah malam, di kawasan ini, antara Juli sampai Oktober, akan turun sampai di bawah 14 derajat Celsius. Di kawasan inilah dijamin lengkeng Itoh akan mampu berproduksi seperti di Thailand, tanpa perlu penyemprotan air es. Elevasi 600 – 900 m. dpl. ini, juga cocok dengan kawasan sekitar Bandungan, Pingit, dan Grabag (Kabupaten  Semarang, Temanggung, dan Magelang), serta Malang selatan, yang selama ini dikenal sebagai sentra lengkeng lokal.

    Budi daya lengkeng bagi Indonesia, dirasa sangat mendesak mengingat tingginya volume dan nilai impor buah tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan bahwa impor lengkeng Indonesia dari Thailand antara bulan Januari – September 2012, mencapai 104.479,7 ton; dengan nilai 121.582.395 dollar AS, atau Rp 1.094.241.555.000 (Rp 1,094 triliun). Tahun 2011 impor lengkeng kita sebesar 105.686,8 ton; dengan nilai 111.793.118 4 dollar AS atau Rp 1.006.138.062.000  (Rp 1,006 triliun). Angka ini sangat besar bagi Provinsi NTT, yang APBD tahun 2012 ini Rp 2,2 triliun. Artinya, omset dari budi daya lengkeng di NTT hampir separo dari APBD    provinsi ini. Aktivitas ini akan menimbulkan dampak multiplier effect, pada aspek peningkatan perekonomian mikro setempat. Terutama pada bisnis pangan, dan jasa transportasi.

    # # #

    Lengkeng Itoh akan berbuah pertama kali pada umur tiga tahun setelah tanam (benih ukuran 50 cm). Ketika sudah berproduksi optimal, satu batang pohon lengkeng rata-rata akan berproduksi 50 kg. Dengan populasi 100 tanaman per hektar (jarak tanam 10 X 10 m), maka hasil per hektar per musim akan mencapai 500 kg. Dengan volume rata-rata impor lengkeng kita mencapai 100.000 ton, maka diperlukan pembukaan kebun lengkeng seluas 2.000 hektar untuk menangkap peluang tersebut. Angka ini demikian nyata, namun memerlukan upaya yang sangat kompleks. Pemerintah daerah NTT, mutlak harus mendukung upaya ini. Tanpa dukungan dari Pemprov NTT, upaya ini hampir mustahil dilaksanakan pihak swasta. Sebab kebun seluas 2.000 hektar, memerlukan infrastruktur jalan, jembatan, listrik, dan sarana komunikasi yang memadai. hanya dengan adanya infrastruktur tersebut, pihak investor akan tertarik untuk menanamkan modal mereka.

    Alternatif lain adalah, dengan menggerakkan masyarakat di kawasan yang terkena dampak Angin Selatan di NTT, untuk membudidayakan lengkeng. Upaya ini lebih sederhana dan mudah dilaksanakan. Namun demikian tetap diperlukan infrastruktur jalan dan listrik. Selain itu kelembagaan petani, terutama bentuk Koperasi, perlu dihidupkan. Sentra lengkeng di Thailand utara, bukan merupakan perkebunan besar dengan skala ribuan hektar, melainkan kebun kecil-kecil milik petani, yang tersebar di beberapa provinsi.kalau dijumlah, luas areal sentra lengkeng di Thailand utara ini mencapai lebih dari 5.000 hektar. Hal ini dimungkinkan, karena kelembagaan koperasi di Thailand sudah berjalan dengan sangat baik. Kementerian yang menangani pertanian di negeri ini, memang bernama Kementerian Pertanian dan Koperasi, dengan 10 departemen, dua di antaranya Cooperative Auditing Department, dan Cooperative Promotion Department. # # #

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *