KREDIT PERTANIAN DAN PERDAGANGAN BERJANGKA
by indrihr • 10/09/2013 • Lain-Lain • 0 Comments
Selama dua periode pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kredit pertanian program massal menghilang. Sebagai gantinya diluncurkanlah Kredit Ketahanan Pangan & Energi melalui BRI. Bersamaan hilangnya kredit program massal, hilang pula tunggakan, dan korupsi di sekitar penyaluran kredit pertanian.
Kredit pertanian program massal di Indonesia pada masa lalu antara lain kredit Bimbingan project payday Massal (Bimas), kredit Intensifikasi Massal (Inmas), kredit Intensifikasi Khusus (Insus), dan terakhir Kredit Usaha Tani (KUT). Semua paket kredit itu berakhir dengan membengkaknya tunggakan, dan juga skandal korupsi. Bimas, Inmas, dan Insus, merupakan paket kredit pada pemerintahan Orde Baru. Sementara Kredit Usaha Tani (KUT), merupakan paket kredit pada era reformasi. Permasalahan kredit pertanian memang bukan disebabkan nama program, melainkan oleh kekeliruan perencanaan sejak awal. Kekeliruan ini terjadi, terutama karena paket kredit hanya diberikan untuk satu kali musim tanam, tanpa grace period (jangka waktu tidak mengangsur).
Di negara mana pun, kredit pertanian diperlakukan sama ace payday loans dengan kredit untuk usaha lain: industri, pertambangan, perdagangan, pariwisata, dan ez internet payday system login lain-lain. Yang dibedakan hanya tingkat suku bunga bagi masing-masing sektor tersebut. Bahkan di sektor pertanian pun tingkat suku bunga bisa sangat bervariasi, karena adanya kebijakan insentif dari pemerintah. Kesamaan kredit untuk sektor- sektor tersebut, pertama-tama menyangkut jangka waktu. Kredit di sektor apa pun, tidak bisa diberikan untuk jangka waktu pendek, payday loan without bank account yakni kurang dari setahun seperti pada paket kredit pertanian. Budi daya padi memerlukan jangka waktu empat bulan tiap musim tanam (tiga musim per tahun).
# # #
Di negeri tetangga (Malaysia, Thailand), satu paket kredit diberikan paling sedikit untuk jangka selama tiga tahun (sembilan kali musim tanam), dengan grace period satu tahun (tiga kali musim tanam). Nilai kredit juga tidak diberikan pas hanya untuk biaya satu kali musim tanam, melainkan dengan plafon paling sedikit untuk biaya tiga kali musim tanam, dalam bentuk rekening koran. Pencairan kredit bisa dilakukan setiap saat, ketika petani memerlukan biaya dalam proses budi daya. Meskipun besaran plafon kredit Rp 15 juta dalam bentuk rekening koran misalnya, yang akan dikenakan bunga hanya yang diambil petani. Bunga juga dikenakan sejak pencairan. Selama grace period, petani tetap dikenakan suku bunga, hanya tidak diwajibkan mengangsur.
Dengan pola kredit seperti ini, resiko tunggakan karena gagal panen akan mengecil. Misalnya pada musim tanam pertama, petani gagal panen (gagal total), dia masih bisa mengambil plafon kredit yang ada. Andaikan pada penanaman kedua ini pun gagal panen, petani masih tetap bisa mengambil sisa plafon kredit terakhir. Dalam praktek, tidak pernah ada gagal payday loans online panen 100%, kecuali ketika terjadi force majeure (kejadian luarbiasa), seperti banjir, longsor, puting beliung, dan ledakan hama/penyakit. Ketika terjadi force majeure pun, bank pemberi kredit serta petani tidak rugi. Sebab kerugian tersebut akan ditutup oleh perusahaan asuransi pertanian. Perusahaan asuransi tidak akan pernah rugi, sebab semakin tinggi resiko, semakin tinggi premi.
Sejak kegagalan KUT, pemerintah tidak menciptakan kredit program massal lagi. Sekarang, paket kredit pertanian disalurkan lewat bank-bank pemerintah, di antaranya Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang punya jaringan paling luas di Indonesia. Paket kredit itu bernama Kredit Ketahanan Pangan & Energi. Pola
ini tampaknya lebih baik, karena yang terlibat di dalamnya hanya bank dan petani, koperasi, atau kelompok tani. Siapa pun yang akan mengambil paket kredit, wajib punya simpanan (tabungan) di BRI. Dengan tidak adanya paket kredit massal, tunggakan kredit pun juga tidak akan massal, dan kasus korupsi di sekitar penyaluran kredit menghilang. Ini sebenarnya merupakan kemajuan luarbiasa dalam penyaluran paket kredit pertanian di Indonesia.
# # #
Di negara-negara maju, para petani malahan tidak perlu kredit. Dengan Perdagangan Berjangka Komoditas (futures contract, futures exchange, futures market, futures trading), petani bisa memperoleh modal (biaya produksi), dengan imbalan direct lender payday loans komoditas yang nantinya akan dihasilkan payday loans las vegas petani. Harga komoditas bisa dipatok pada saat petani menerima biaya produksi, atau berdasarkan harga pada payday loans las vegas saat penerimaan barang. Sebagai jaminan, petani mengeluarkan portofolio. Oleh pemilik modal, portofolio ini bisa tetap disimpan untuk ditukarkan dengan komoditas yang sedang ditanam petani, atau bisa dijual lagi dengan mengambil keuntungan. Model pembiayaan futures contract menjadi tidak sehat, ketika satu portofolio, bisa diperdagangkan sampai belasan kali sebelum komoditas dipanen.
Dampak perdagangan portofolio berdasarkan spekulasi ini, bisa menaikkan harga satu komoditas sampai pada batas yang tidak rasional. Tahun 2008, sebelum skandal finansial Madoff dan Lehman Brothers, harga minyak sawit mentah (CPO), jagung, gandum, gula, terus naik padahal tak pernah ada kekurangan pasokan. Produksi terus naik, sementara kenaikan permintaan tak setinggi kenaikan produksi. Dampaknya stok menumpuk, hingga ketika pecah skandal finansial di AS, model spekulasi perdagangan portofolio langsung ambruk. Harga CPO, jagung, beras, gandum, langsung anjlok. Ibarat gelembung sabun, semua pecah dan berantakan setelah terus-menerus ditiup agar menggelembung. Namun ibarat narkoba, tak berapa lama kemudian perdagangan portofolio komoditas pertanian kembali seperti semula.
Hilangnya paket kredit pertanian program massal paydayadvanceusca.com di Indonesia, ternyata tidak berpengaruh terhadap peningkatan produksi beras, jagung, singkong, dan sawit. Meski dalam kondisi hidup susah, petani belum tentu bersedia diberi kredit. Dalam kredit pertanian program massal, petani dipaksa menerima paket kredit, meskipun yang bersangkutan tidak memerlukan. Tahun 1970, dan 1980an malah ada areal fiktif. Para buruh tani yang sebenarnya tidak punya lahan pertanian, dipaksa untuk “cap jempol” sebagai tanda persetujuan pencairan kredit. Edukasi untuk para petani Indonesia masih perlu terus diperjuangkan. Petani memerlukan akses modal, dan juga pemasaran. Untuk itu diperlukan koperasi, dan juga asosiasi. Bukan lembaga KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan), atau HKTI (Himpunan Kerukunan payday loans las vegas nv Tani Indonesia), yang lebih bernuansa politis. # # #
Pernah dimuat di Kiat Agribisnis Mingguan Kontan, 1 – 7 Juli 2013
