• KEBUN MURBEI DALAM INDUSTRI SUTERA ALAM

    by  • 24/09/2013 • Lain-Lain • 0 Comments

    Ketika Jusuf Kalla menjabat Wakil Presiden Indonesia, Ny. Mufidah Jusuf Kalla, yang secara ex officio menjabat ketua Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional), memrakarsai pengembangan industri sutera alam.

    Sebab dari total kebutuhan nasional sekitar 700 ton bahan sutera (benang mentah, raw silk, dan benang pintal, spun silk), sekitar 600 ton masih harus diimpor. Upaya pengembangan itu gagal meskipun didukung dana cukup besar dari beberapa kementerian, dan para ahli dari perguruan tinggi, dengan konsultan dari RRC. Ada banyak faktor, mengapa upaya tersebut gagal, hingga industri sutera alam kita jalan di tempat. Sampai saat ini lembaga yang serius menangani persuteraan alam baru Perum Perhutani, dengan Pusat Persuteraan Alam Indonesia di desa Regaloh, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jateng.

    Industri sutera alam sendiri, sampai sekarang masih didominasi oleh Provinsi Sulawesi Selatan. Kunci sukses industri sutera alam, sebenarnya terletak pada faktor pakan. Hingga agroindustri persuteraan, baru akan sukses apabila tersedia lahan pertanian murbei. Repotnya, tanaman murbei akan memroduksi daun optimal, apabila dibudidayakan di dataran rendah sampai menengah (0 sd. 500 m. dpl). Sementara ulat suteranya, baru bisa memroduksi benang secara optimal, apabila dibudidayakan pada elevasi di atas 1.000 m. dpl. Hingga agroindustri persuteraan alam, harus berada di kawasan dengan elevasi antara 0 m dpl, sampai 1.200 m dpl, namun dengan jarak yang tidak terlalu jauh, dengan sarana transportasi yang baik.

    # # #

    Kondisi Indonesia, tidak bisa disamakan dengan RRC, Jepang, bahkan juga dengan Thailand sekalipun. Sebab RRC dan Jepang adalah negeri empat musim. Hingga ulat akan bisa memroduksi benang secara optimal. Bahkan Thailand pun, punya banyak kawasan dengan suhu rata-rata di bawah 20o C, yang cocok untuk pertumbuhan ulat. Maka idealnya, di Indonesia ulat sutera dipelihara di kawasan dengan elevasi di atas 1.000 m dpl. Di dataran rendah, sebenarnya ulat sutera juga bisa hidup baik. Namun demikian, pada umur 17 hari, ia sudah akan membentuk kokon. Sementara di elevasi 800 – 1.000 m. dpl, ulat baru akan membentuk kokon pada umur di atas 20 hari.

    murbei1

    Bahkan pada ketinggian 1.200 – 1.400 m. dpl, ulat baru akan membentuk kokon pada usia 25 hari. Pada umur di atas 20 hari, ukuran ulat sudah cukup besar, hingga benang sutera pembentuk kokon juga berdiameter lebih besar, sekaligus lebih panjang dibanding dengan ulat sutera yang sudah membentuk kokon pada umur 17 hari. Sebaliknya, di dataran tinggi sering mendung, hingga produksi daun murbei tidak bisa optimal. Di dataran rendah, tanaman murbei sudah bisa dipanen kembali pada selang dua bulan sejak panen sebelumnya. Sementara pada ketinggian di atas 1.000 m. dpl, panen baru bisa dilakukan paling cepat tiga bulan sejak panen sebelumnya. Rendemen nutrisi daun dari dataran rendah, juga lebih tinggi dibanding dari dataran tinggi.

    Agribisnis daun murbei juga memerlukan pengairan cukup. Sebab pertumbuhan daun justru akan optimal pada musim kemarau, asalkan tanaman diairi. Pada musim penghujan, fotosintesis akan banyak terganggu mendung. Maka pengairan menjadi mutlak, meskipun memerlukan biaya tinggi. Biaya pengairan itu akan bisa ditutup oleh hasil kokon yang juga tinggi pada musim kemarau. Sebab pada umumnya peternak ulat sutera akan mengurangi populasi pada musim kemarau, akibat keterbatasan pakan. Maka pengairan areal murbei akan sangat menguntungkan bagi agroindustri persuteraan alam.

    murbei2

    Di dunia ini dikenal delapan spesies murbei: 1. murbei putih dari China (Morus alba); 2. murbei china/jepang dari Asia Tenggara (Morus australis); 3. murbei meksiko dari Amerika Tengah (Morus celtidifolia); 4. murbei brasil dari Amerika Selatan (Morus insignis); 5. murbei afrika dari Afrika Tengah dan Selatan (Morus mesozygia); 6. Murbei teksas dari Amerika Serikat (Morus microphylla); 7. murbei hitam dari Asia Selatan dan Barat (Morus nigra); 8. murbei merah dari Amerika Utara dan Timur (Morus rubra). Dari delapan spesies murbei itu, yang cocok untuk pakan ulat sutera hanya murbei putih dan murbei china, karena tidak menghasilkan buah. Belakangan juga ada beberapa kultivar murbei hibrida.

    # # #

    Dengan penjelasan tersebut, bisa dimaklumi mengapa upaya pengembangan sutera alam, yang pernah dilakukan oleh Ketua Dekranas Ny. Mufidah Jusuf Kalla, mengalami kegagalan. Penyebab pertama justru faktor non teknis. Banyaknya dukungan dari berbagai pihak, secara otomatis juga mengindikasikan adanya dukungan dana yang cukup besar. Hingga banyak pihak yang berupaya mendekat untuk ikut “menjarah” dana tersebut. Faktor kedua menyangkut masalah teknis. Tenaga ahli dari RRC, justru menjadi penentu kegagalan, apabila proyek tersebut jadi terlaksana. Sebab teknologi dari RRC yang beriklim empat musim, tidak bisa diterapkan di Indonesia. Di RRC, peternakan ulat sutera selalu berada di tengah-tengah areal kebun.

    Produksi daun murbei di RRC juga bisa optimal, karena panjang hari pada musim panas mencapai 17 jam per hari. Yang perlu diketahui, RRC hanya memroduksi kokon sutera selama musim panas, dan beristirahat pada musim dingin. Para ahli RRC pasti akan mengatakan, bahwa “Anda bisa lebih hebat dari kami, karena mampu berproduksi sepanjang tahun!” Pernyataan itu benar, apabila Indonesia menerapkan teknik agroindustri persuteraan khas Indonesia, bukan menyontek RRC. Caranya lokasi penanaman murbei, dipisah dari lokasi budi daya ulat, dengan elevasi antara 200 m – 1.000 m dpl, tetapi dengan jarak dekat, dan kondisi jalan baik. Apabila dua hal itu dilaksanakan, Indonesia bisa sedikit demi sedikit mengurangi impor raw silk, dan spun silk.

    Yang juga perlu disampaikan ke para petani serta peternak ulat sutera adalah, bahwa margin mereka kecil, meskipun harga akhir produk sutera alam cukup tinggi. Di toko sutera di Makasar, harga sutera asli saat ini paling murah Rp 200.000 per meter (lebar 90 cm). Meskipun demikian, harga kain sutera alam itu akan dibagi ke: 1. para petani murbei; 2. biaya panen daun dan transportasi; 3. pemelihara ulat sutera; 4. pengurai benang (raw silk) dari kokon; 5. pemintal serat kokon menjadi benang pintal (spun silk); 6. para penenun; 7. para perajin batik

    (khusus untuk sutera batik); dan 8. para pedagang. Karena dibagi-bagi ke banyak pelaku agroindustri persuteraan, maka masing-masing tahapan hanya akan menerima marjin kecil. Agar nilai marjin agak besar, volume perlu diperbesar. Banyaknya pihak yang terlibat dalam agroindustri persuteraan, menunjukkan bahwa bidang ini mampu menyerap banyak tenaga kerja (padat modal). # # #

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *