• PELUANG AGROINDUSTRI ANGGREK

    by  • 31/07/2013 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Tahun 2011, produksi anggrek nasional Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik, hanya 15,4 juta tangkai. Tertinggal jauh dengan bunga krisan yang mencapai 305,8 juta tangkai. Bahkan dengan mawar, sedap malam, dan melati pun, anggrek kita kalah.

    Pada tahun yang sama, Indonesia menghasilkan mawar 74,3 juta tangkai; sedap malam    62,5 juta tangkai; dan melati 22,5 juta ton bunga. Produksi anggrek Indonesia juga sangat kecil jika dibandingkan dengan Thailand. Tahun 2009, negeri ini mampu mengekspor 52,4 ribu ton anggrek potong, maupun potplant, dengan nilai 2,3 milliar Bath. Dengan kurs 1 Bath = 300 Rupiah, maka nilai ekspor anggrek Thailand pada tahun 2009 mencapai Rp 690 milliar. Rata-rata Thailand memang mengekspor lebih dari 50 ton bunga anggrek, dengan nilai 250 milliar Bath (Rp 750 milliar), hingga menjadi negeri pengekspor anggrek tropis utama dunia. Sebagian dari anggrek dendrobium Thailand itu, masuk ke pasar Jakarta.

    anggrek1

    Agroindustri anggrek Indonesia, memang kalah jauh dibanding dengan Thailand; meskipun sebenarnya potensi pasar kita lebih besar. Thailand hanya berpenduduk 66,6 juta jiwa. kota Bangkok sendiri 8,2 juta, Metropolis Bangkok 14,5 juta jiwa. Indonesia berpenduduk 237,4 juta jiwa. Kota Jakarta 10,1 juta jiwa; dan Metropolis Jakarta (+ Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) 28 juta jiwa. Memang pendapatan per kapita Thailand lebih tinggi, yakni  8.646 dollar AS (ranking 93 versi World Bank), dan  9.398 dollar AS (ranking 86 versi IMF). Sementara Indonesia hanya 4.636 dollar As (ranking 117 versi World Bank), dan 4.636 dollar AS (ranking 123 versi IMF). Namun pendapatan per kapita 66 juta elite penduduk Indonesia, pasti lebih tinggi dari 66 juta penduduk Thailand.

    # # #

    Terlebih lagi, sebenarnya orang Thailand sendiri tidak terlalu suka anggrek. Dengan mayoritas beragama Budha, masyarakat Thailand lebih banyak mengonsumsi kuncup bunga lotus, dan melati, untuk keperluan ritual keagamaan. Maka hampir semua produksi anggrek Thailand diekspor ke berbagai negara. Thailand juga hanya fokus ke budi daya anggrek dendrobium ungu, dengan sepal dan petal lebar. Kelebihan Thailand adalah, para petani mereka tergabung dalam kelompok tani (untuk menangani hal-hal teknis budi daya), koperasi (untuk menangani bisnis), dan asosiasi (untuk menangani hal-hal strategis). Asosiasi Petani Anggrek Thailand, juga masih terdiri dari asosiasi penangkar benih (breeders), asosiasi petani (growers), dan asosiasi pedagang (traders). Dengan adanya kelembagaan yang lengkap, agroindistri anggrek di Thailand bisa mengalir dari tingkat hulu ke tingkat hilir.

    anggrek2

    Berbagai kemudahan juga diberikan oleh pemerintah kepada para petani anggrek. Mulai dari lahan untuk budi daya, modal, bantuan teknis melalui Department of Agricultural Extension. Ketika harga anggrek jatuh di bawah HPP, pemerintah melalui koperasi petani, akan memberikan bantuan sebesar selisih harga jual dengan HPP. Misalnya HPP satu tangkai anggrek 7,5 Bath, padahal HPP mereka 10 Bath, pemerintah akan membayar 2,5 Bath selisih harga tersebut, selama sekitar satu minggu. Kemudahan-kemudahan seperti itulah yang belum didisain secara sistematis oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pertanian. Akibatnya, sampai sekarang kelembagaan petani anggrek di Indonesia masih belum ada. Beberapa kali aparat Ditjen Hortikultura menegur para pengurus Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), karena tidak mau mengurus petani, dan hanya memperhatikan para hobiis. Teguran ini salah alamat, sebab yang harus mengurus petani justru aparat kementerian tersebut.

    anggrek4

    Dampak dari tiadanya kelembagaan petani anggrek, maka sampai sekarang tidak pernah ketahuan, sebenarnya seberapa besar pangsa pasar anggrek di Metropolitan Jakarta. Mendata kebutuhan ini tidak terlalu sulit, sebab bisa bekerjasama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), untuk mendeteksi kebutuhan hotel dan restoran berbintang sebagai pasar terbesar. Pasar bunga Rawabelong, juga merupakan barometer kebutuhan anggrek nasional. Kemudian floris yang jumlahnya di DKI Jakarta juga masih terhitung belum banyak. Pengumpulan data kebutuhan (peluang) pasar ini pun belum pernah dikerjakan oleh aparat pemerintah kita. Di Thailand, pemerintah bukan hanya punya data kebutuhan anggrek, melainkan bersedia meminta hotel, restoran, dan maskapai penerbangan untuk mengonsumsi anggrek secara rutin.

    # # #

    Anggrek adalah agroindustri padat modal. Dengan luas lahan hanya 0,5 hektare, diperlukan investasi dan modal kerja sekitar Rp 400 juta. Namun setelah setahun, modal itu akan terus berputar dengan produksi 60.000 potplant, omset sekitar Rp 1 milliar, keuntungan bruto Rp 15 juta per bulan, atau keuntungan bersih Rp 7,5 juta per bulan. Ini semua baru bisa terjadi, apabila ada dukungan kelembagaan. Sebab apabila seorang petani membuka kebun anggrek dendrobium sendirian seluas 0,5 hektare, maka biaya yang harus ia tanggung menjadi sangat tinggi. Misalnya, mendatangkan pot dan media tanam (arang), harus ia lakukan sendirian. Di Thailand, koperasilah yang melayani kebutuhan pot, media tanam, pupuk, untuk para anggota, hingga harga per satuan menjadi lebih murah.

    anggrek5

    Dibanding tahun 1970an, agroindustri anggrek di Indonesia memang mundur jauh. Tahun 1970an, Rawabelong adalah sentra anggrek Indonesia. Di Slipi, juga ada Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP). Lokasi TAIP itu sekarang menjadi Mall Taman Anggrek, dan TAIP sendiri pindah ke sebelah Tamini Square. Para petani anggrek di Rawa Belong bisa dikatakan telah punah. Beberapa petani atas inisiatif pribadi, pindah usaha ke Gunung Sindur, Kabupaten  Bogor, dengan tingkat produksi yang jauh di bawah tahun 1970an. Tahun 1980an, para penganggrek baru bermunculan di Bandung, dan Surabaya. Aktivitas agroindustri anggrek di dua kota ini, kemudian berkembang melebihi agroindustri anggrek di Jakarta. Sekarang tinggal hanya satu penganggrek yang bisa eksis dari Bandung.

     

    anggrek3

    Sampai dengan tahun 2000an, pasar anggrek di Indonesia, masih didominasi oleh dendrobium. Namun sejak awal tahun 2000an, pelan-pelan pasar anggrek Indonesia mau menerima anggrek bulan (Phalaenopsis hibrida), dengan benih eks Taiwan. Ada beberapa perusahaan yang tertarik investasi membudidayakan anggrek bulan eks Taiwan. Akan tetapi dalam perjalanan, tinggal hanya PT Ekakarya Graha Flora, yang eksis membudidayakan, dan memasarkan anggrek bulan. Lainnya berguguran, bukan karena faktor teknis budi daya, bukan karena pasar tidak ada, melainkan karena manajemen internal. Agroindustri krisan, mawar, sedap malam, bisa lebih unggul dari anggrek, karena punya Puskobindo (Pusat Koperasi Bunga Indonesia), dan Asbindo (Asosiasi Bunga Indonesia). # # #

    (Artikel pernah dimuat di Kiat Agribisnis Mingguan Kontan, 4-10 Februari 2013)

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *